Minggu, 3 Juli 22

Israel Jual Senjata ke Myanmar Bantai Muslim Rohingya

Israel Jual Senjata ke Myanmar Bantai Muslim Rohingya
* Militer Myanmar,

Ternyata, senjata militer Myanmar bersama Budhis ekstrim yang digunakan untuk membantai (genosida) muslim Rohingya adalah senjata dari Israel. Hal ini berdasar laporan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang menyebut bahwa Sebut Israel jual senjata ke Militer Myanmar.

Tim Misi Pencari Fakta PBB telah merilis laporan tentang keterlibatan perusahaan Israel yang menjual senjata kepada negara mayoritas Budha yang sedang melakukan pembantaian terhadap kaum minoritas muslim tersebut. Karena itu, Israel berisiko terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap etnis Rohingya. Misi pencarian fakta PBB, Selasa (5/8), menyerukan embargo penjualan senjata ke Myanmar dan target pemberlakuan sanksi dagang pada bisnis yang memiliki hubungan dengan militer setelah ada temuan mereka terlibat mendanai pelanggaran hak asasi manusia.

Penyelidik PBB merinci bagaimana bisnis dijalankan militer Myanmar, juga disebut sebagai Tatmadaw, terlibat dalam sejumlah kekerasan dan dukungan finansial dalam operasi militer seperti pengusiran muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar dalam apa yang disebut sebagai ‘genosida’.

“Pendapatan yang dihasilkan oleh bisnis-bisnis militer ini memperkuat otonomi Tatmadaw dari pengawasan sipil dan memberikan dukungan keuangan untuk operasi Tatmadaw dengan beragam pelanggaran hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional,” jelas Marzuki Darusman, pengacara hak asasi manusia Indonesia yang memimpin misi pencarian fakta dalam sebuah pernyataan, dilansir dari laman Alaraby, Selasa (6/8).

Israel diidentifikasi sebagai satu dari tujuh negara yang menjual senjata ke Myanmar sejak 2017. Laporan tersebut menyampaikan, perusahaan milik negara Israel Aerospace Industries setuju menyediakan empat kapal penyerang cepat Super-Dvora Mk III kepada Angkatan Laut Myanmar, dimana dua di antaranya dikirimkan pada April 2017. Perusahaan swasta Israel, TAR Ideal Concepts, juga disebutkan dalam laporan itu.

“Israel secara khusus mengizinkan transfer senjata yang dicakup oleh ATT [Perjanjian Perdagangan Senjata] pada saat negara itu mengetahui, atau seharusnya memiliki pengetahuan, bahwa senjata akan digunakan untuk melakukan kejahatan berat di bawah hukum internasional,” jelas laporan tersebut.

Israel merupakan satu dari tujuh negara yang telah memperdagangkan senjata kepada Myanmar sejak 2017. Menurut laporan Tim Pencari Fakta PBB, perusahaan Israel Aerospace Industries setuju menyediakan empat kapal penyerang cepat Super-Dvora Mk III kepada Angkatan Laut Myanmar. Dua di antaranya dikirimkan pada April 2017.

Selain itu, perusahaan swasta Israel, TAR Ideal Concepts, juga disebutkan dalam laporan Misi Pencari Fakta PBB. “Israel secara khusus mengizinkan transfer senjata yang dicakup oleh ATT (Arms Trade Treaty) pada saat negara itu memiliki pengetahuan atau seharusnya memiliki pengetahuan, mereka (senjata-senjata) akan digunakan melakukan kejahatan berat di bawah hukum internasional,” kata laporan tersebut.

Laporan itu mendesak PBB menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan yang dikelola militer Myanmar. Ia pun menyarankan agar mereka hanya menjalin bisnis dengan perusahaan yang tidak berafiliasi dengan militer.

Watchdog Global Witness menyebut laporan itu adalah seruan. “Pemerintah global dan perusahaan yang menemukan diri mereka terhubung dengan perusahaan militer karena itu tidak dapat lagi memohon ketidaktahuan,” katanya, dikutip laman Al Araby.

Awal tahun ini organisasi HAM Amnesty International mengecam Israel karena terus menjual senjata ke negara-negara yang dituding melakukan pelanggaran HAM berat, termasuk Myanmar, “Perusahaan Israel terus mengekspor senjata ke negara-negara yang secara sistematis melanggar HAM,” kata Amnesty.

“Seringkali senjata-senjata ini mencapai tujuan mereka setelah serangkaian transaksi, sehingga mengurangi pengawasan internasional serta aturan-aturan Israel itu sendiri,” ujar Amnesty dalam laporannya.

Israel memang telah lama dituding menjual senjata ke negara-negara pelanggar HAM meskipun terdapat embargo internasional. Negara-negara yang menjadi tujuan ekspornya antara lain Afrika Selatan selama apartheid, Rwanda semasa genosida 1994, dan Sudan Selatan yang dilanda perang sipil brutal. (*/Red)

Baca Juga:

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.