Minggu, 16 Juni 19

Muslim Rohingya Digencet, Intoleran Ada di Myanmar

Muslim Rohingya Digencet, Intoleran Ada di Myanmar
* Anak-anak Rohingya. (ParsToday)

Beginilah kalau agama di sebuah negara membuat rezim intoleransi. Rezim Myanmar hingga kini mendiamkan etnis minoritas muslim Rohingya digencet di negara mayoritas penganut Budha tersebut. Awalnya, muslim Rohingya di Rakine, wilayah bagian Myanmar, disiksa bahkan terancam diogenosida oleh kelompok mayoritas.

Tindakan brutal dan gila militer Myanmar dan ekstrimis Budha yang melakukan pembunuhan/genosida terhadap Muslim Rohingya sudah berlangsung lebih dari 1,5 tahun. Terjadi penyiksaan dan pembantaian terhadap kaum muslim di negara mayoritas etnis Budha tersebut.

Selama brutalitas militer Myanmar dan ekstrimis Budha terhadap Muslim Rohingya di Provinsi Rakhine, barat negara ini selama 1,5 tahun, lebih dari enam ribu warga Muslim tewas, delapan ribu lainnya terluka dan lebih dari satu juta jiwa mengungsi.

Akhirnya, muslim Rohingya menyelamatkan diri dengan lari ke aras perbatasan dan mengungsi ke Bangladesh. Nasibnya pun semakin memilukan. Oleh karena itu, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyerukan dukungan keuangan bagi minoritas Muslim Rohingya yang mengungsi di Bangladesh.

Seperti dilansir ParsToday,  PBB dalam laporan terbarunya hari Selasa (19/2/2019), menyatakan saat ini dibutuhkan dana sekitar satu miliar dolar untuk membantu lebih dari 900 ribu pengungsi Rohingya yang berada di tempat pengungsian di perbatasan Bangladesh.

Ratusan ribu orang Rohingya meninggalkan negaranya menuju perbatasan Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari serangan ekstremis Budha yang didukung pasukan keamanan Myanmar. Dilaporkan, sekitar 400 ribu orang dari jumlah tersebut adalah anak-anak Rohingya.

Sebelumnya, Komisi Tinggi HAM PBB, Michelle Bachelet menyerukan supaya pemerintah Bangladesh menghentikan pemulangan paksa 2.200 orang pengungsi Rohingya ke Myanmar. Michelle Bachelet pada November 2018 lalu, mengingatkan dampak buruk pemulangan paksa pengungsi Rohingya ke Myanmar, karena kehidupan mereka terancam.

Pada 25 Agustus 2017, ekstremis Budha yang didukung tentara Myanmar menyerang Muslim Rohingya di Rakhine yang menyebabkan enam ribu orang Rohingya tewas dan delapan ribu lainnya cedera. Selain itu, sekitar satu juta orang mengungsi untuk menyelamatkan diri, terutama ke Bangladesh.

Muslim Rohingya semakin tidak nyaman kehidupannya. Kalau mau dipulangkan dari pengungsian negara Bangladesh balik ke Myanmar pun, mereka terancam disiksa dan dibunuh lagi. Pasalnya, Kelompok Budha ekstrim di Rakhine State, Myanmar menolak rencana repatriasi Muslim Rohingya dari Bangladesh.

Seperti dikutip media ISNA, puluhan warga yang dipimpin oleh para biksu Budha melakukan aksi protes di Sittwe, ibukota Rakhine State untuk mendesak pemerintah agar membatalkan repatriasi Rohingya ke Myanmar.

“Tidak akan ada manfaat bagi kami atau negara kami jika kami menerima orang Bengali,” kata seorang biksu, menggunakan istilah yang merendahkan Muslim Rohingya dan mengesankan bahwa mereka adalah pendatang baru dari Bangladesh.

Pengungsi Rohingya di Bangladesh mengatakan pasukan militer Myanmar memperkosa wanita, membunuh kerabat mereka dan membakar rumah-rumah mereka dalam upaya mengusir penduduk Muslim dari Rakhine. Nampaknya, rezim Myanmar sudah menutup mata terhadap penyiksaan muslim Rohingya oleh kaum mayoritas yang intoleran terhadap agama. (Red)

Baca Juga:

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.