Maulana Iskandar Ingin Tenis Meja Indonesia Berkembang Pesat

Maulana Iskandar Ingin Tenis Meja Indonesia Berkembang Pesat
Jakarta, Obsessionnews.com - Maulana Iskandar adalah Direktur Operasional PT Trimuda Nuansa Citra Tbk. Perusahaan ini bergerak di bisnis kargo dan logistik dengan brand Garuda Express Delivery (GED).   Baca juga: Maulana Iskandar dari Kurir Menjadi Direktur Perusahaan Kargo GED   Di tengah kesibukannya bekerja Maulana selalu berusaha meluangkan waktunya berolah raga. Salah satu hobinya adalah bermain tenis meja alias pingpong. Di kalangan komunitas tenis meja ia dikenal dengan nama Adhe Betot. Sebagai penghobi tenis meja Maulana merasa sedih dengan kondisi tenis meja nasional. Saat ini terdapat trialisme atau tiga kepengurusan Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) yang mendeklarasikan kepemimpinannya melalui berbagai keputusan yang mereka pegang dan masing-masing menganggap dirinya yang paling benar. Pegangan yang dipakai oleh mereka masing-masing selaku kepengurusan PTMSI hingga terjadi trialisme adalah: Pertama, PB PTMSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Lukman Edi. Mengacu pada SK KONI Pusat, masa berlaku sampai dengan tahun 2020, dan memegang hasil putusan BAORI. Kedua, PB PTMSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Peter Layardi Lay. Mengacu pada SK KONI Pusat, meneruskan kepengurusan setelah Dato’ Sri Tahir mundur melalui Munaslub 2019. Ketiga, PP PTMSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Oegroseno. Tidak ada SK KONI Pusat. Memegang PIN ITTF, karena mendapat izin/mandat dari Ketua Umum KOI periode Rita Subowo, dan memegang Surat Putusan Mahkamah Agung. Akibat adanya trialisme kepengurusan PTMSI tersebut hampir di seluruh sektor mengalami perpecahan, terutama pada kepengurusan daerah di seluruh Indonesia. Bahkan sudah mulai berpengaruh terhadap klub/Persatuan Tenis Meja (PTM) dalam melakukan pembinaan. Perpecahan di tubuh PTMSI mengakibatkan tenis meja tidak diikutsertakan dalam SEA Games 2019 Filipina, dan dicoret dari Pekan Oahraga Nasional (PON) XX 2020 Papua. Maulana mendukung tokoh-tokoh yang berupaya mendamaikan ketiga kubu agar hanya ada satu PTMSI. Dukungannya tersebut diwujudkan dengan memfasilitasi penyelenggaraan konferensi pers bertema "Menunggu Presiden Membenahi Tenis Meja Indonesia" di kantornya, Wisma Intra Asia, Jakarta Selatan, Jumat (31/1/2020). Dalam konferensi pers itu tampil sebagai pembicara adalah penggiat tenis meja nasional Singgih Yehezkiel, pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang juga mantan atlet tenis meja Lieng Lieng Agustin, atlet tenis meja, penggiat tenis meja Johnny Latuheru, penghobi tenis meja Hariyanto, dan seorang pengacara, Geovani. Bertindak sebagai moderator adalah wartawan senior Sahrudi Rais.   Baca juga: Siapa Singgih Yehezkiel yang Kirim Surat Terbuka kepada Presiden Jokowi?FOTO Konferensi Pers ‘Menunggu Presiden Membenahi Tenis Meja Indonesia’Singgih Yehezkiel Minta Presiden Jokowi Turun Tangan Membenahi PTMSISinggih Yehezkiel Juara Veteran Turnamen Tenis Meja ITTC Cup 1 se-Bekasi RayaSinggih Yehezkiel Didaulat Benahi Tenis Meja NasionalSinggih: Konflik di Tubuh PTMSI, Atlet Kehilangan Rezeki   [caption id="attachment_303238" align="alignnone" width="640"] Maulana Iskandar dan penggiat tenis meja nasional Singgih Yehezkiel. Foto: Edwin B/Obsession News)[/caption] Konferensi pers itu digelar sebagai tindak lanjut dari surat terbuka yang dikirim Singgih kepada Presiden Jokowi pada Selasa 28 Januari 2020. Surat tersebut ditembuskan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga, Ketua Umum KONI Pusat, dan pimpinan Komisi X DPR RI. "Saya ingin konflik di PTMSI cepat berakhir. Kalau konflik terus berlarut-larut kasihan para atlet. Mereka tidak bisa mengikuti SEA Games 2019 Filipina dan PON Papua 2020.  Saya ingin hanya ada satu PTMSI, agar tenis meja Indonesia berkembang pesat," tutur Maulana kepada obsessionnews.com, Jumat (31/1). [gallery link="file" columns="1" size="full" ids="293853,293852,293854"] Perjalanan Hidupnya Berwarna Perjalanan. hidup Mirwan berwarna, menarik, dan inspiratif. Tumbuh dari keluarga besar ia anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Berasal dari keluarga sederhana anak kelahiran Jakarta ini jeli menangkap peluang untuk mendapatkan uang jajan. Saat mengenyam pendidikan di SMA  di Bekasi, ia nyambi bekerja sebagai pencatat meteran dan memasang instalasi listrik. [caption id="attachment_303240" align="alignnone" width="640"] Perjalanan. hidup Mirwan berwarna, menarik, dan inspiratif. (Foto: Edwin B/Obsession News)[/caption] Ia berkelakar semua tiang listrik di Babelan, Bekasi, pernah dipanjatnya dengan hanya bermodalkan otot saja. Halaman selanjutnyaBersekolah Sampai Kelas 2 SMA Pada saat itu Mirwan hanya bersekolah sampai kelas 2 SMA. Tahun 1994 ia memutuskan berhenti sekolah karena masalah biaya. Salah satu alasan utamanya adalah ia mengalah buat adiknya yang baru masuk SMA yang juga membutuhkan biaya. [gallery link="file" columns="1" size="full" ids="293860"] Setelah berhenti sekolah Mirwan bekerja serabutan, mulai dari sopir pribadi, buruh las listrik, dan lain-lain. Bahkan tahun 1996 ia merantau ke beberapa daerah di Jawa Timur untuk mencari pekerjaan. Tahun 1999 Mirwan kembali  ke Jakarta. Ia membantu ibunya berjualan nasi goreng dan kue di kantin sekolah. Halaman selanjutnyaBekerja Sebagai Kurir Tahun 2000 Mirwan diterima bekerja sebagai kurir di sebuah perusahaan kargo dan logistik di Jakarta, yakni GED. Dia menikmati bekerja di perusahaan tersebut. Berkat ketekunan dan prestasinya bekerja ia diangkat menjadi supervisor kurir pada tahun 2007. “Tidak mudah untuk dapat berprestasi di dalam satu pekerjaan. Hambatan, tantangan dari lingkungan sekitar, serta kemampuan diri yang harus bisa dibuktikan,” kata Mirwan ketika diwawancarai obsessionnews.com di kantornya di Jakarta beberapa waktu lalu. [gallery link="file" columns="1" size="full" ids="293855"] Ia menambahkan, pada saat itu semua pekerjaan kasar digelutinya. Baginya ini sekolah nyata yang harus lulus, kapan lagi belajar dan dapat gaji. Tak terasa Mirwan telah sembilan tahun bekerja di GED. Ia mendapat banyak pelajaran berharga di perusahaan itu. Tahun 2009 Mirwan mengundurkan diri dari GED, karena ia ingin mandiri. Bersama seorang temannya Mirwan mendirikan perusahaan kargo dan logistik yang berkantor di Jl Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Namun, pada tahun 2011 perusahaan tersebut gulung tikar. “Singkat cerita ini pelajaran mahal. Banyak sekali hal yang didapat dari peristiwa ini,” ujar Mirwan. Halaman selanjutnyaDi Komunitas Tenis Meja Dipanggil Adhe Betot Bangkrutnya perusahaan tersebut membuat Mirwan terpukul. Ia sempat menganggur. Karena memiliki keluarga yang harus diberi nafkah, Mirwan bekerja serabutan. Di masa tidak memiliki pekerjaan tetap tersebut ia aktif bermain tenis meja sambil mencari peluang kerja. Di komunitas tenis meja di Bekasi dan Jakarta ia populer dengan panggilan Adhe Betot. Adhe adalah panggilan akrabnya di kalangan keluarga dan teman-temannya. Tambahan kata Betot di belakang nama Adhe diberikan oleh para penghobi tenis meja untuk menggambarkan Adhe pemain bertipe serang spin yang tak kenal kompromi. Berkat pergaulannya di komunitas tenis meja tersebut Adhe kemudian mendapat kepercayaan sebagai sopir pribadi seorang pejabat. Saat itu ia juga melakoni pekerjaan mengurus surat izin usaha perusahaan, tukang cuci stem motor, dan lain sebagainya. Halaman selanjutnyaMirwan Membawa Berkah Selanjutnya pada 2012 sebuah perusahaan kargo dan logistik di Jakarta merekrutnya menjadi supervisor. Perusahaan itu khusus menangani pendistribusian sebuah merek handphone (HP) terkenal. Pada awalnya berjalan mulus, namun pada tahun 2014 merek HP itu kalah bersaing dengan merek-merek HP baru. Tahun 2014 perusahaan kargo dan logistik tersebut bangkrut. Mirwan kembali menganggur. Beberapa bulan setelah perusahaan tersebut gulung tikar, seorang mantan pimpinannya yang bekerja di perusahaan kargo dan logistik internasional menawarinya bekerja . Bergabungnya Mirwan membawa berkah bagi perusahaan ini. Sentuhan tangan dingin Mirwan berhasil membawa omzet perusahaan melejit. Perusahaan tersebut memberi berbagai fasilitas yang menggiurkan atas prestasi Mirwan. Antara lain perusahaan membiayainya mengikuti pelatihan-pelatihan manajemen dan kepemimpinan. Menginjak tahun ketiga, yakni tahun 2017, Mirwan keluar dari perusahaan tersebut. Ia mengaku berat mengambil keputusan itu, apalagi pemilik perusahaan tersebut sudah dianggapnya sebagai orang tuanya. Salah satu suksesnya Mirwan adalah berkat didikan keras pemilik perusahaan tersebut. Di saat seperti itu datang tawaran dari pemilik kargo dan logistik tempatnya dulu bekerja, yakni GED.  Mirwan ditawari menjadi Manajer Operasional dengan pekerjaan berat saat itu yang diminta, yaitu merapikan Divisi Operasional. Mirwan menyampaikan bahwa salah satu berhasilnya bisnis jasa kurir adalah bagaimana operasional dapat berjalan baik, karena ini adalah service utama yang dijual ke customer. Dan ini tidak mudah mengingat harus berhadapan dengan para kurir dan orang-orang operasional, termasuk budaya kerja yang sebelumnya. Namun, dengan pengalamannya yang notabene pernah menjadi kurir dengan pola kerja dan pendekatan yang berbeda, hal tersebut bisa teratasi. “Banyak hal yang berubah di sini awal yang saya terapkan adalah  KEDISIPLINAN. Saya tidak mentolerir karyawan yang tidak dapat disiplin dalam berkerja. Hanya dua pilihan: mau ikut satu gerbong berjuang bersama atau silakan keluar dari gerbong," kata Mirwan. Ia menegaskan sukses itu tidak dapat diraih oleh seorang diri, tapi sukses itu terwujud karena kerja sama yang baik. Halaman selanjutnyaSukses Menaikkan Omzet Satu tahun pertama Mirwan diminta menduduki kursi Direktur Operasional membawahi secara nasional. Secara mengejutkan Mirwan sukses menaikkan omzet GED. Selain itu lewat perjuangannya yang keras ia berhasil meningkatkan kesejahteraan kurir dan karyawan. [gallery link="file" columns="1" size="full" ids="293869"] Jabatan Direktur Operasional GED masih tetap didudukinya hingga kini. Mirwan berobsesi GED menjadi perusahaan kargo dan logistik terbesar di Indonesia yang menjadikannya sebagai ladang rezeki untuk semua karyawan dan stakeholder yang terlibat. Mirwan mengaku apa yang diraihnya tersebut adalah berkat doa orang tua, terutama ibu, karena bapaknya sudah lama meninggal dunia. Baginya tanpa rida ibu mustahil semua ini dapat dilewatinya. Tidak ketinggalan keluarga dan orang-orang di sekitarnya yang selalu mendukungnya.  Namun semua itu tentunya dengan perjuangan dan kerja keras tanpa henti. "Luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar. Sisanya Allah yang punya urusan. Semua orang punya hak yang sama untuk sukses terlepas berlatar belakang apa pun. Nikmati dan cintai pekerjaan,  berikan yang terbaik di setiap perkerjaan, dan jadikan jiwa melayani ke setiap orang dan lihat apa yang akan terjadi,” ucap Mirwan dengan penuh semangat. Ucapan Mirwan tersebut tentunya bisa untuk pembelajaran kita semua. Di hari-hari kesibukannya Mirwan masih menyempatkan bermain pingpong. Di kantornya disediakan sarana tersebut. “Jika ada kawan-kawan yang mau main silakan datang,” katanya. Dan di hari libur selain bersepeda ia selalu meluangkan waktu mengajak istrinya, Anna Nuraini, dan ketiga anaknya berpiknik. (Arif RH)