Rabu, 25 November 20

Siapa Singgih Yehezkiel yang Kirim Surat Terbuka kepada Presiden Jokowi?

Siapa Singgih Yehezkiel yang Kirim Surat Terbuka kepada Presiden Jokowi?
* Penggiat tenis meja nasional Singgih Yehezkiel. (Foto: Edwin B/Obsession News)

Jakarta, Obsessionnews.comSinggih Yehezkiel! Nama ini mendadak menjadi perbincangan para penggemar tenis meja di Indonesia. Melejitnya nama Singgih karena ia berkirim surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait kemelut yang terjadi di tubuh Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) yang berlarut-larut dan tak kunjung ada solusinya hingga kini.

Baca juga: 

FOTO Konferensi Pers ‘Menunggu Presiden Membenahi Tenis Meja Indonesia’

Singgih Yehezkiel Minta Presiden Jokowi Turun Tangan Membenahi PTMSI

Singgih Yehezkiel Juara Veteran Turnamen Tenis Meja ITTC Cup 1 se-Bekasi Raya

Singgih Yehezkiel Didaulat Benahi Tenis Meja Nasional

Singgih: Konflik di Tubuh PTMSI, Atlet Kehilangan Rezeki

Surat itu dibuat pada Senin (27/1/2020), dan dikirimkan ke Istana Presiden keesokan harinya, Selasa (28/1). Tembusannya ditujukan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga, Ketua Umum KONI Pusat, dan pimpinan Komisi X DPR RI.

Singgih membagikan fotokopi surat itu kepada wartawan dalam konferensi pers yang bertema “Menunggu Presiden Membenahi Tenis Meja Indonesia” di Wisma Intra Asia, Jakarta Selatan, Jumat (31/1/2020).

Singgih Yehezkiel (tengah) dalam konferensi pers di Wisma Intra Asia, Jakarta Selatan, Jumat (31/1/2020). Konferensi pers itu bertema “Menunggu Presiden Membenahi Tenis Meja Indonesia”. (Foto: Edwin B/Obsession News)

Di surat tersebut Singgih menyebut dirinya sebagai penggiat tenis meja nasional.

“Saya mendapat info dari seorang teman yang bekerja di Sekretariat Negara, bahwa surat itu sudah berada di meja Bapak Presiden. Saya menunggu Bapak Presiden turun tangan membenahi tenis meja Indonesia,” kata Singgih dalam konferensi pers.

Siapa Singgih Yehezkiel? Bagi atlet tenis meja zaman now nama ini tentu asing. Namun, bagi atlet lawas periode 1990 hingga 2000 nama ini cukup populer.

Singgih Yehezkiel pernah menjadi Direktur Sirkuit Liga Tenis Meja Utama (Silatama) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) periode 1999-2001. Ia juga pernah menjadi Direktur Lamtema (Liga Muda Tenis Meja Nasional) PP PTMSI periode 1990-2000.

Pada saat itu menghasilkan sejumlah pemain nasional antara lain Silir, Dahlan, Vicky, Gilang, dan Kunkun.

Saat menjadi Direktur Silatama Singgih membuat kebijakan sistem voor and voor, pembagian divisi 1-5, dan turnamen kelas eksekutif yang berlaku sampai sekarang.

Setelah tidak lagi menjadi pengurus PTMSI Singgih tetap aktif bermain tenis meja. Bahkan ia menjadi juara turnamen tenis meja ITTC Cup 1 se-Bekasi Raya kelas veteran di Gedung SD dan SMP Al azhar 6 Jaka Permai, Jaka Sampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, 18-19 Januari 2020.

Singgih Yehezkiel (kiri) tampil sebagai juara I kelas veteran dalam turnamen tenis meja ITTC Cup 1 se-Bekasi Raya di Gedung SD dan SMP Al azhar 6 Jaka Permai, Jaka Sampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, 18-19 Januari 2020. (Foto: ist)

Singgih adalah ayah pecatur nasional Irene Kharisma Sukandar.

Trialisme Kepengurusan PTMSI
Dalam surat terbukanya kepada Jokowi, Singgih mengungkapkan saat ini terdapat trialisme atau tiga kepengurusan PTMSI yang mendeklarasikan kepemimpinannya melalui berbagai keputusan yang mereka pegang dan masing-masing menganggap dirinya yang paling benar, tanpa memikirkan roda pembinaan olahraga tenis meja di Indonesia lagi.

Hal itu berdampak munculnya berbagai permasalahan yang sangat rumit, perpecahan, dan kemunduran dalam pembinaan cabang olahraga tenis meja di Indonesia.

Pegangan yang dipakai oleh mereka masing-masing selaku kepengurusan PTMSI hingga terjadi trialisme adalah sebagai berikut:

Pertama, PB PTMSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Lukman Edi. Mengacu pada SK KONI Pusat, masa berlaku sampai dengan tahun 2020, dan memegang hasil Putusan BAORI.

Kedua, PB PTMSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Peter Layardi Lay. Mengacu pada SK KONI Pusat, meneruskan kepengurusan setelah Dato’ Sri Tahir mundur melalui Munaslub 2019.

Ketiga, PP PTMSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Oegroseno. Tidak ada SK KONI Pusat. Memegang PIN ITTF, karena mendapat izin/mandat dari Ketua Umum KOI periode Rita Subowo, dan memegang Surat Putusan Mahkamah Agung.

Adanya trialisme kepengurusan PTMSI tersebut berakibat sangat fatal. Hampir di seluruh sektor mengalami perpecahan, terutama pada kepengurusan daerah di seluruh Indonesia. Bahkan sudah mulai berpengaruh terhadap klub/Persatuan Tenis Meja (PTM) dalam melakukan pembinaan.

Perpecahan di tubuh PTMSI mengakibatkan tenis meja tidak diikutsertakan dalam SEA Games 2019 Filipina, dan dicoret dari Pekan Oahraga Nasional (PON) XX 2020 Papua.

Hal ini sangat mengganggu pembinaan atlet/pelatih/pembina tenis meja dan berdampak pada kemunduran yang drastis bagi prestasi tenis meja tanah air.

Kemelut di tubuh PTMSI sudah berlangsung 7 tahun dan 8 bulan, tanpa ada satu kesepakatan yang berhasil menyatukan.

“Kemelut di tubuh PTMSI yang berlarut-larut tersebut jelas merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” tulis Singgih di surat itu.

Oleh karena itu ia berharap Presiden turun tangan untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, agar terwujud hanya ada satu PTMSI. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.