Jumat, 28 Februari 20

Singgih Yehezkiel Minta Presiden Jokowi Turun Tangan Membenahi PTMSI

Singgih Yehezkiel Minta Presiden Jokowi Turun Tangan Membenahi PTMSI
* Penggiat tenis meja nasional Singgih Yehezkiel (tengah) dalam konferensi pers di Wisma Intra Asia, Jakarta Selatan, Jumat (31/1/2020). Konferensi pers itu bertema "Menunggu Presiden Membenahi Tenis Meja Indonesia". (Foto: Edwin B/Obsession News)

Jakarta, Obsessionnews.com – Kondisi tenis meja Indonesia memprihatinkan. Saat ini terdapat trialisme atau tiga kepengurusan Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) yang mendeklarasikan kepemimpinannya melalui berbagai keputusan yang mereka pegang dan masing-masing menganggap dirinya yang paling benar, tanpa memikirkan roda pembinaan olahraga tenis meja di Indonesia lagi.

 

Baca juga: 

Singgih Yehezkiel Juara Veteran Turnamen Tenis Meja ITTC Cup 1 se-Bekasi Raya

Singgih Yehezkiel Didaulat Benahi Tenis Meja Nasional

Singgih: Konflik di Tubuh PTMSI, Atlet Kehilangan Rezeki

 

Hal itu berdampak munculnya berbagai permasalahan yang sangat rumit, perpecahan, dan kemunduran dalam pembinaan cabang olahraga tenis meja di Indonesia.

Pegangan yang dipakai oleh mereka masing-masing selaku kepengurusan PTMSI hingga terjadi trialisme adalah sebagai berikut:

Pertama, PB PTMSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Lukman Edi. Mengacu pada SK KONI Pusat, masa berlaku sampai dengan tahun 2020, dan memegang hasil Putusan BAORI.

Kedua, PB PTMSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Peter Layardi Lay. Mengacu pada SK KONI Pusat, meneruskan kepengurusan setelah Dato’ Sri Tahir mundur melalui Munaslub 2019.

Ketiga, PP PTMSI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Oegroseno. Tidak ada SK KONI Pusat. Memegang PIN ITTF, karena mendapat izin/mandat dari Ketua Umum KOI periode Rita Subowo, dan memegang Surat Putusan Mahkamah Agung.

Adanya trialisme kepengurusan PTMSI tersebut berakibat sangat fatal. Hampir di seluruh sektor mengalami perpecahan, terutama pada kepengurusan daerah di seluruh Indonesia. Bahkan sudah mulai berpengaruh terhadap klub/Persatuan Tenis Meja (PTM) dalam melakukan pembinaan.

Perpecahan di tubuh PTMSI mengakibatkan tenis meja tidak diikutsertakan dalam SEA Games 2019 Filipina, dan dicoret dari Pekan Oahraga Nasional (PON) XX 2020 Papua.

Hal ini sangat mengganggu pembinaan atlet/pelatih/pembina tenis meja dan berdampak pada kemunduran yang drastis bagi prestasi tenis meja tanah air.

Kemelut di tubuh PTMSI sudah berlangsung 7 tahun dan 8 bulan, tanpa ada satu kesepakatan yang berhasil menyatukan.

Melihat kondisi tersebut penggiat tenis meja nasional Singgih Yehezkiel minta Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun tangan membenahi PTMSI. Singgih atas nama pribadi telah mengirimkan surat terbuka kepada Presiden pada Selasa 28 Januari 2020. Surat tersebut ditembuskan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga, Ketua Umum KONI Pusat, dan pimpinan Komisi X DPR RI

Singgih mengungkapkan hal tersebut dalam konferensi pers di Wisma Intra Asia, Jakarta Selatan, Jumat (31/1/2020). Konferensi pers itu bertema “Menunggu Presiden Membenahi Tenis Meja Indonesia”.

“Kemelut di tubuh PTMSI yang berlarut-larut tersebut jelas merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” kata Singgih.

Oleh karena itu ia berharap Presiden turun tangan untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, agar terwujud hanya ada satu PTMSI.

Perlu diketahui Singgih Yehezkiel pernah menjadi Direktur Sirkuit Liga Tenis Meja Utama (Silatama) Pengurus Pusat (PP) Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) periode 1999-2001. Ia juga pernah menjadi Direktur Lamtema (Liga Muda Tenis Meja Nasional) PP PTMSI periode 1990-2000.

Saat menjadi Direktur Silatama Singgih membuat kebijakan sistem voor and voor, pembagian divisi 1-5, dan turnamen kelas eksekutif yang berlaku sampai sekarang.

“Pembagian divisi kalau tidak dikelola dengan baik oleh PTMSI akan membuat mundur prestasi atlet,” tandasnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.