Mohammad Natsir Seorang Demokrat Sejati

Mohammad Natsir Seorang Demokrat Sejati
Jakarta, Obsessionnews.com –  Pengamat politik Fachry Ali menyebut Mohammad Natsir seorang demokrat. Sikap dan kepribadian Nastsir menunjukan bahwa dia adalah seorang demokrat sejati. Bahkan demokrasi yang dipahami Natsir adalah demokrasi Barat yang diperkenalkan Belanda. Karenanya Natsir tidak suka dengan orang besar.   Baca juga:Mohammad Natsir Negarawan yang Berkomitmen Tinggi terhadap Keislaman dan KeindonesiaanMohammad Natsir (1908-1993)Ini yang Patut Dicontoh dari Sosok Mohammad NatsirMengapa Menulis Biografi M. Natsir?   Hal itu dungkapkan Fachri saat menjadi pembicara dalam diskusi bedah buku Biografi Mohammad Natsir, Kepribadian, Pemikiran dan Perjuangan yang ditulis oleh Sekretaris Majelis Pakar Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Lukman Hakiem di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (6/2/2020). “Kenapa? Karena orang besar cenderung punya potensi menjadi otoriter. Itu yang kemudian ujuangnya dia menjadi masalah dengan Sukarno. Karena Sukarno secara instingtif dia pengin menjadi orang besar,” tutur Fachri. Menurutnya, meski dinilai sebagai seorang yang demokratis Natsir juga dikenal sebagai Islam kanan yang modernis, namun kurang refektif. Sehingga secara pemikiran keislaman dia berbeda dengan gagasan yang disampaikan oleh Nurcholish Madjid atau Cak Nur dan juga Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. “Natsir memang dikenal Islam agak kanan, tapi pandangan politiknya barat,” jelasnya. Halaman selanjutnya Meski dianggap sangat demokratis, Natsir tetap beda dengan yang lain. Menurut Fachry, Natsir adalah orang demokratis yang teguh dengan pendiriianya. Lurus tidak mau kompromi dalam urusan politik. Telebih menyangkut gagasan negara yang dia perjuangkan. Misalnya dalam soal berdirinya negara Islam. Ia yakin Natsir menolak hal itu. Bagi dia, Pancasila adalah sebuah dasar negara yang sudah final. Karena itu, jika dia masih hidup, ia yakin akan menolak dengan gagasan kelompok yang ingin mendirikan negara Islam. “Kenapa menolak? Karena Natsir ikut mendirikan NKRI ini, jadi pasti dia menolak jika Indonesia menjadi negara Islam. Itu sisi moderat Natsir,” tandasnya. Natsir ingin Islam dan demokrasi maju dan berkembang di Indonesia. Artinya kata dia, Natsir ingin mengkawinkan Islam dengan kemodernan. Bagi Natsir Islam dan Barat tidak bertentangan. Diskusi bedah buku biografi Natsir yang diadakan oleh Pengurus Pusat  Parmusi tersebut dibuka oleh Ketua Umum PP Parmusi Usamah Hisyam. Menghadirkan pembicara yang mumpuni di bidangnya, yakni Prof. Dr. Laode Kamaluddin, Lukman Hakiem, Dr. Fachry Ali, Dr. Mohammad Noer, dan moderator Irgan Chairul Mahfiz.. (Albar)