Menteri Jonan Ungkap Langkah Strategis Transisi Energi di Indonesia

Jakarta, Obsessionnews.com - Dalam lawatannya ke Amerika Serikat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menjadi salah satu pembicara acara Energy Action Forum Accelerating the Energy Transition on the Road to 2020 and Beyond yang dihelat di New York, Minggu (22/9/2019). Dalam forum ini Jonan mengungkapkan keberhasilan Indonesia dalam melakukan transisi energi fosil ke energi yang ramah lingkungan adalah dengan melalui beberapa langkah Strategis. Baca juga:Ignasius Jonan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RIRencana Ignasius Jonan Jika Tak Dipercaya Lagi Jadi MenteriIgnasius Jonan Resmi Dilantik Jadi Menteri ESDM, Arcandra WakilIgnasius Jonan Ditunjuk Jadi Menteri ESDM Pertama adalah menekankan kepada kemudahan akses energi dan keterjangkauan masyarakat dalam mendapatkan energi. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG) 7, yaitu memastikan akses ke energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern. Untuk itu Indonesia sangat berkomitmen untuk memperhatikan aksesibilitas dan keterjangkauan sebagai semangat dalam proses transisi energi. "Menyediakan energi dengan harga terjangkau adalah kunci transisi yang sukses. Kami juga memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal. Transisi energi harus sejalan dengan dua aspek ini," kata Jonan di depan para pemangku kepentingan utama dalam transisi energi. Baca juga:Kementerian ESDM Sabet Penghargaan Kementerian Terpopuler AHI 2019Pertama Kali, Menteri ESDM Pimpin Upacara HUT RI di Freeport2 Unit di Kementerian ESDM Sabet Penghargaan Lembaga Pelatihan Pemerintah Berprestasi 2019 Halaman selanjutnyaBaca juga:Komisi VII DPR Sebut Soal Listrik Padam Bukan Urusan Kementerian ESDMKementerian ESDM Minta PLN Beri Kompensasi Akibat PemadamanPermudah Investasi, Kementerian ESDM Pangkas Perizinan Dikutip obsessionnews.com dari siaran pers, Senin (23/9), dalam kesempatan tersebut Jonan menjelaskan, meskipun sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia saat ini telah mencapai rasio elektrifikasi 98,81%. "Target kami adalah untuk mencapai rasio elektrifikasi 99% pada akhir 2019. Dan lebih jauh lagi, pada 2020, kami berharap dapat menyediakan listrik untuk semua rumah tangga di seluruh negeri dengan cara yang terjangkau," tegasnya. Kedua, lanjut Jonan, adalah komitmen untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan dan meningkatkan porsinya dalam bauran energi nasional. Sementara yang ketiga adalah pemanfaatan kemajuan teknologi untuk memperluas akses energi, namun tetap mempertahankan keterjangkauan dan mengakomodasi energi terbarukan ke dalam sistem. "Kami mencari teknologi yang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. Sebagai negara kepulauan kami membutuhkan sistem yang independen. Kami harus membangun sistem yang lengkap di setiap pulaunya, yaitu pembangkit listrik dan transmisi," jelas Jonan. Menurutnya, transisi energi di setiap negara memiliki keunikan tersendiri, karena terkait dengan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing negara. Di Indonesia misalnya, yang merupakan negara produsen minyak kelapa sawit terbesar, telah menerapkan biodiesel 20% atau B20, yang terdiri dari 20% Fatty Acid Methyl Esters (FAME) dan 80% minyak diesel (CN 48) untuk seluruh kebutuhan bahan bakar diesel, dan tahun 2020 nanti akan ditingkatkan menjadi B30. "Dengan menggunakan biodiesel itu lebih bersih, lebih hijau, dan berkelanjutan untuk mengurangi emisi karbon di sektor transportasi," tandas Jonan. Halaman selanjutnya Untuk mempercepat transisi energi, selain menggunakan biodiesel, Jonan juga menjelaskan pemerintah Indonesia telah memperkenalkan mekanisme pemberian insentif penggunaan kendaraan berbahan bakar listrik sebagai sarana transportasi publik maupun pribadi. Diharapkan akan menimbulkan minat masyarakat menggunakan kendaraan berbahan bakar listrik. Inisiatif lainnya yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah dengan melakukan penyederhanaan regulasi maupun peraturan. "Yang tak kalah penting adalah kolaborasi antar negara untuk saling membantu mempercepat adopsi kemajuan teknologi yang terjangkau untuk semua. Pencapaian target Paris Agreement kami akan lebih tinggi dengan dukungan internasional," pungkas Jonan. Sebagai informasi, The Energy Action Forum merupakan bagian dari Energy Track of the United Nation (UN) Climate Action Summit. Acara ini diselenggarakan oleh UN Secretary-General's Climate Action Summit Team, bersama-sama dengan anggota koalisi UN Energy Transition Track;Denmark, Ethiopia, Palau, Italia, Indonesia, Kolombia, Maroko, Sustainable Energy for All, International Energy Agency (IEA) dan World Bank. (arh)





























