Kamis, 26 Mei 22

Nomophobia Dapat Akibatkan Perilaku Berbahaya terhadap Orang Lain

Nomophobia Dapat Akibatkan Perilaku Berbahaya terhadap Orang Lain
* Ilustrasi ponsel dan pengidap nomophobia. (Foto: http://Geeksinsider.com)

Jakarta, obsessionnews.com Menjadi bagian penting dalam kehidupan kita, terutama sejak pandemi Covid-19 melanda, ponsel memiliki banyak manfaat, mulai dari keperluan komunikasi hingga hiburan. Apalagi ada peraturan untuk tidak berkerumun dan menjaga jarak fisik, membuat peran ponsel semakin signifikan.

 

Baca juga:

Awas Dibobol! Amankan Data Penting di Ponsel

Wow! WhatsApp Bisa Kirim Pesan Tanpa Ponsel

 

Pernahkah Anda mematikan ponsel seharian penuh? Apa yang Anda rasakan saat itu, cemas atau gelisah? Jika ya, berarti Anda kemungkinan mengidap nomophobia, yaitu ketakutan jika ponsel tidak berada dalam jangkauan.

Nomophobia sendiri merupakan kependekan dari no mobile phone phobia. Fobia ini pertama kali diidentifikasi pada 2008 dalam penelitian yang dilakukan SecurEnvoy untuk mengamati kegelisahan yang dialami para pengguna ponsel di Inggris. Tidak hanya mengakibatkan gangguan kesehatan bagi diri sendiri, nomophobia dapat mengakibatkan perilaku berbahaya terhadap orang lain.

Dalam publikasi International Journal of Environmental Research and Public Health, Monash University, diungkapkan hasil penelitian terhadap 2.838 responden. Beberapa hal yang ditanyakan dalam studi tersebut antara lain kebiasaan penggunaan gawai sekaligus ketergantungan secara psikologis pada ponsel masing-masing. Studi tersebut melaporkan beberapa bentuk nomophobia, atau setidaknya ketakutan ringan tanpa ponsel mereka. Secara spesifik delapan dari 10 partisipan mengalami tingkat nomophobia ringan hingga menengah, tidak kurang dari 13,2% menderita cukup berat.

Para peneliti mengamati semakin tinggi tingkat nomophobia yang dialami, semakin besar kemungkinan mereka melakukan tindakan berbahaya atau bahkan ilegal. Empat dari 10 partisipan rata-rata menghabiskan lebih dari tiga jam sehari menggunakan smartphone mereka, dan tingginya penggunaan tersebut berhubungan langsung dengan tingkat nomophobia maupun risiko masalah ketergantungan.

Dan yang tidak mengherankan, responden usia 18-25 tahun memiliki tingkat nomophobia tertinggi, dan pria mempunyai kemungkinan dua kali lebih besar terlibat penggunaan smartphone yang membahayakan daripada perempuan. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa orang-orang dengan nomophobia 10 kali lebih mungkin menggunakan ponsel mereka di tempat terlarang, dan 14 kali lebih mungkin menggunakan dengan cara yang berbahaya, seperti saat mengemudi.

Namun, karena kita tidak mungkin melepaskan diri dari ponsel pada zaman sekarang, sebaiknya mulai membangun kehidupan berteknologi yang seimbang.
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kecanduan gadget.
Pertama, atur notifikasi aplikasi yang sering kali mencuri perhatian kita. Kelompokkan notifikasi sesuai kebutuhan, misal notifikasi penting yang harus kita ketahui saat itu juga dan yang tidak terlalu penting, yang bisa kita lihat saat waktu senggang. Matikan notifikasi aplikasi yang memang tidak penting.

Langkah kedua adalah menjauhkan diri dari ponsel. Letakkan ponsel di dalam tas atau kantong saat makan siang misalnya. Atau tinggalkan di mobil saat berbelanja. Dengan sering menjauhkan diri dapat mengurangi kegelisahan dan bahkan meningkatkan kemampuan kognitif. Gantikan ponsel dengan sesuatu yang lebih positif. Alih-alih aplikasi media sosial dan berita di halaman depan ponsel, letakkan aplikasi yang lebih produktif seperti aplikasi pencatat atau penulisan. Menulis jurnal telah terbukti memiliki manfaat mental yang besar. Atau bawalah buku tipis untuk menggantikan ponsel saat sedang mengantre atau menunggu, sehingga pikiran kita akan teralihkan dari gawai.

Anda sudah siap memulai?

(Nur Asiah/dari berbagai sumber)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.