Mohammad Natsir Negarawan yang Berkomitmen Tinggi terhadap Keislaman dan Keindonesiaan

Mohammad Natsir Negarawan yang Berkomitmen Tinggi terhadap Keislaman dan Keindonesiaan
Jakarta, Obsessionnews.com – Pengurus Pusat (PP) Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) menggelar diskusi bedah buku Biografi Mohammad Natsir, Kepribadian, Pemikiran dan Perjuangan yang ditulis oleh Sekretaris Majelis Pakar Parmusi Lukman Hakiem di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (6/2/2020).   Baca juga:Mengapa Menulis Biografi M. Natsir?Tentang Pak Lukman dan Abah NatsirIni yang Patut Dicontoh dari Sosok Mohammad NatsirBung Karno di Mata NatsirMohammad Natsir (1908-1993) Ketua Umum Parmusi Usamah Hisyam mengatakan, ia  telah sudah mengenal Mohammad Natsirsejak kecil pada 1970-an. Saat itu bahkan, Natsir kerap menginap di rumah salah satu kakeknya di Surabaya, ketika berkunjung ke sana. Kebetulan kakek Usamah adalah tokoh Masyumi. “Pak Natsir itu sahabat kakek saya. Dulu kalau beliau ke Jatim, ke Surabaya itu nginepnya di rumah kakek saya, karena orang-orang dulu itu benar-benar berjuang nginepnya tidak di hotel tapi di rumah-rumah,” ujar Usamah dalam sambutannya di acara diskusi itu. Saat kecil Usamah sudah mengetahui sedikit tentang kebesaran pemikiran Nastir. Belakangan ia menjadi lebih kenal dengan sosok kepribadian, pemikiran, dan perjuangan Natsir saat dia menjadi Ketua Umum Parmusi. Bagi dia, Natsir adalah seorang pemikir, negarawan yang berkomitmen tinggi terhadap keislaman dan keindonesiaan. “Jadi saya instruksikan agar buku Parmusi ini dibagikan kepada Pengurus Wilayah (PW) Parmusi, agar ruh perjuangan kita itu ada tujuannya. Kita bisa benar-benar melanjutkan perjuangan dari pemikiran Natsir,” tuturnya. Halaman selanjutnya Ruh perjuangan itu adalah bagaimana Islam itu bisa berkembang maju di Indonesia bukan hanya secara kuantitas, tapi juga kualitas. Untuk itu, bukan hanya para pengurus PW, ia juga menginstruksikan agar buku niografi Natsir itu menjadi buku bacaan wajib kader Parmusi di seluruh daerah. Karena di buku itu memuat ruh perjuangan Natsir dalam berdakwah. “Saya instruksikan buku pemikiran Natsir adalah buku resmi yang wajib dibaca oleh kader Parmusi. Kader Parmusi harus baca buku itu agar memahami ruh gerakan dakwah Islam,” tandasnya. Menurutnya, Parmusi saat ini dengan gerakan dakwahnya melalui pembentukan Desa Madani sejatinya sudah mewarisi pemikiran Natsir. Hanya saja kemasannya yang berbeda. Namun semangatnya tetap sama menyangkut keislaman dalam keindonesia. Di mana Islam harus mewarnai kultur budaya Indonesia. “Semakin Islam semakin Indonesia. Kader Parmusi harus bisa mewarisi pemikiran Natsir dalam semangat memperjuangkan dakwah Islamiah,” jelasnya. Natsir memang tidak bisa dipisahkan dengan Parmusi. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia. Masyumi ini yang kemudian melahirkan Parmusi saat itu adalah Partai Muslimin Indonesia. Namun kini Parmusi sudah menjadi Ormas, bukan lagi sebagai partai. Dalam bedah buku itu menghadirkan pembicara yang mumpuni di bidangnya, yakni Prof. Dr. Laode Kamaluddin, Lukman Hakiem, Dr. Fachry Ali, Dr. Mohammad Noer, dan moderator Irgan Chairul Mahfiz. (Albar)