Senin, 6 April 20

Tentang Pak Lukman dan Abah Natsir

Tentang Pak Lukman dan Abah Natsir
* Lukman Hakim (kedua dari kiri), penulis buku biografi M. Natsir dalam acara Bedah Buku Biografi M. Natsir pada ajang Islamic Book Fair, Braga-Bandung, Rabu (4/12/2019). (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Pepen Irpan Fauzan,  Anggota Dewan Tafkir Persis

Pak Lukman Hakiem jelas adalah “Natsiris.” Itu tak bisa dibantah lagi. Ia tidak hanya pernah bertemu tokoh utama Mosi Integral NKRI itu. Ia juga sekaligus menjadi murid dan staf pribadinya, memimpin redaksi majalah yang diluncurkan oleh pendiri Dewan Dakwah tersebut. Jadi, kalau sebaliknya saya yang mengaku Natsiris, malah Pak Lukman bisa menggugatnya!

Dengan kapasitas yang disandangnya itu, Pak Lukman menulis biografi Mohammad Natsir. Buku biografi yang diluncurkannya pun meneguhkan kredibilitas penulisnya. Dengan kata lain, kita tak akan rugi membaca buku biografi ini, alau telah ada ribuan tulisan dengan tema yang sama terkait ketokohan M. Natsir. Tidak hanya berisi common sense, tidak sekadar mengulang cerita.

Saya tak syak lagi dengan sentuhan-tulisan Pak Lukman tentang M. Natsir, walau kami baru bertemu satu kali. Ketika itu, sebelum kami tampil bersama dalam forum seminar Mosi Integral beberapa bulan ke belakang, Pak Lukman langsung bercerita tentang pengalaman dirinya dengan Abah Natsir. Sebuah cerita lisan,  tentang sisi lain karena bersifat urusan pribadi,  yang kemudian membuat tafsir baru, setidaknya bagi saya. Kebaruan tafsir itulah yang meneguhkan suatu nilai (value) pada sebuah karya.

Terlepas dari hal tersebut, sebenarnya apa arti “Natsiris” bagi Abah Natsir itu sendiri? Bagi sang Ideolog Islam, Rijal dakwah di Indonesia tersebut, apakah Natsiris itu diperlukan? Jangan-jangan label itu hanya untuk membesarkan orang-orang yang “tidak besar”,  paling tidak kaliber Natsir itu sendiri. Mendompleng figuritas: Ikut terkenal dengan mengenalkan figur terkenal! Dalam konteks Pak Lukman, sebagai Natsiris yang menulis biografinya, apakah memang Abah Natsir akan sumringah membacanya? Ataukah justru sebaliknya? Sang tokoh justru kecewa dan sedih terhadap orang-orang yang mengaku Natsiris, mungkinkah? Tentu, untuk menjawab ini, orang-orang yang mengaku Natsiris harus mempunyai argumentasi yang bernas,  upaya tidak dianggap sekadar ikut ndompleng.

Sejauh yang saya tahu, para pengagum Natsir cenderung hanya memuji-muji pemikiran dan kiprah sang maestro. Jarang yang kritis. Ada upaya yang baik, seperti yang dilakukan sahabat Wildan Hasan dan kader-kader muda lainnya. Namun itu saja tentu belum cukup. Konsep dan teori-teori yang disusun pemikiran Natsir cenderung diulang-ulang, diterima tanpa reserve. Seolah sebuah taken for granted. Apa itu yang diinginkan Natsir? Benarkah Natsir membutuhkan pengakuan itu dari para pengagum-penerusnya? Ataukah justru sebaliknya, rasa kecewa dan mungkin frustasi? Dengan tidak mengurangi rasa hormat, ini adalah tantangan para Natsiris, hari ini, yang harus dijawab dengan karya monumental baru.

Dulu digadang-gadang sosok yang akan menggantikan sang Mujahid: the Next Natsir. Disebut dengan istilah “Natsir Muda”, harapan itu digantungkan pada sosok Nurcholish Madjid. Tapi kemudian kecewa. Ada lagi misalnya Amien Rais atau Yusril Ihza Mahendra. Lagi-lagi kecewa. Kenapa? Apa sebetulnya yang diinginkan para pengagum Natsir? Saya mempunyai tafsir sendiri akan hal itu.

Dalam gerak- continuum sejarah,  ketika zaman terus beredar dan melahirkan pemimpin dalam setiap episodenya. Begitu juga Abah Natsir dan tokoh-tokoh pemimpin sebelum dan sesudahnya. Ada benang-merah kesinambungan yang berjalin-kelindan dengan perubahan-perubahan ( discontinuity) di dalamnya.

Abah Natsir tidak hidup-berjuang sendiri, di ruang dan waktu yang hampa. Ada sederet tokoh lain yang membersamainya. Bahkan, dulu para aktivis Sosialis percaya, Natsir besar karena dipromosikan oleh Sjahrir! Dengan kata lain, tanpa peran-jasa Sjahrir, Natsir adalah nobody, bukan siapa-siapa. Sungguh terlalu pernyataan itu! Silahkan baca surat-menyurat Nurcholish Madjid-Mohamad Roem. Pun ketika Cak Nur ditanya: mana yang dianggap tokoh “lebih besar” antara Bung Karno, Bung Hatta dengan Natsir? Dengan jujur dikatakan Bung Karno dan Bung Hatta adalah jawabannya. Saya sendiri punya jawaban tersendiri, tapi tidak dalam tulisan ini. Akan saya tegaskan dalam forum Bedah Buku.

Ketika saya membaca biografi Natsir yg ditulis Audrey R. Kahin, Islam, Nationalism and Democracy: A Political Biography of Mohammad Natsir (2012), saya menemukan sebuah sketsa-kontekstualisasi pemikiran dan kiprah politik Natsir, dari panggung utama politik Indonesia ke pinggiran hutan belantara. Sebuah sketsa yang bernas. Lalu apa yang disumbangkan Pak Lukman dalam biografi ini? Jelas ada, dan saya paham.

Ketika saya membaca disertasi Yudi Latief, The Muslim Intelligentsia of Indonesia: A Genealogy of Its Emergence in the 20th Century (2004), ada pernyataan tentang Natsir yang membuat tanda tanya besar: Bahwa pendirian Dewan Dakwah adalah usaha terakhir Natsir dalam usaha Islamisasi-Negara. Benarkah itu yang menjadi ultimate-goal perjuangan Natsir? Tentu, saya mempunyai pandangan sendiri akan hal itu. Namun tidak ditulis di sini, akan saya jelaskan dalam forum Bedah Buku. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.