Sabtu, 21 Mei 22

Ibnu al-Haytham Peletak Dasar Ilmu Fisika Optik

Ibnu al-Haytham Peletak Dasar Ilmu Fisika Optik
* Ibnu al-Haytham. (Foto: Wikipedia)

Oleh: Prof. Dr. U. Maman Kh., S.S., M. Si, Guru Besar Sosial Ekonomi Pertanian, Program Magister Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ibnu al-Haytham (wafat 1038/9 M) dikenal sebagai ilmuwan dan ahli matematika dalam sejarah Islam. Tulisan ini bertujuan untuk meninjau posisi al-Haytham di antara para ilmuwan muslim melalui penyelidikan dan peninjauan lebih seksama terhadap sumber-sumber riwayat hidupnya dan karya-karyanya. Alhasil, meski Ibnu al Haytam adalah sosok yang luar biasa di bidang sains dan matematika, sebenarnya dia juga merupakan seorang filsuf muslim, bekerja di berbagai bidang ilmiah. Satu-satunya karya Al-Haytham yang banyak membahas aspek-aspek filsafat ternyata masih dapat diperoleh saat ini yaitu Kitāb Thamarah al-Ḥikmah, yang memperkuat bukti bahwa ia bukan saja seorang saintis dan ahli matematika tetapi juga seorang filsuf muslim.

Abū ‘Alī al-Ḥasan ibn al-Ḥasan Ibnu al Haytham atau yang lebih dikenal sebagai Ibn al-Haytam, atapun Alhazen di dunia Barat, merupakan salah satu dari beberapa saintis paling terkemuka yang dilahirkan dalam peradaban Islām.[1] Ibn al-Haytam adalah seorang ahli fisika yang menggunakan metoda saintifik yang menjadi landasan dalam setiap penelitian di dunia sains saat ini. Tidaklah mengejutkan jika sarjana terkemuka Robert Briffault menyatakan para sarjana Arab telah lama menggunakan kaedah-kaedah sains sebelum menjadi metoda yang dipakai di dunia modern saat ini.

Biografi Ibnu al-Haytham

Abu Ali Muhammad al-Hasan bin al-Haytham, di Barat lebih dikenal dengan nama Alhazen. Ibnu Haytam lahir pada 965 Masehi di Basrah, Irak. Dia memulai pendidikan awalnya di Basrah sebelum diangkat menjadi pegawai pemerintah.[2] di tempat kelahirannya. Setelah beberapa lama bekerja di pemerintahan, lantas dia memilih untuk meletakkan jabatan tersebut. Sebab ia mulai menyadari minat dan bakatnya sebagai ilmuwan, alih-alih sebagai pegawai birokrasi.  Haytam pergi ke Ahwaz, Mesir, dan Baghdad yang kala itu termasuk pusat intelektual dunia. Haytam mempelajari berbagai ilmu yang akhirnya dia menghasilkan beberapa karya tulis yang luar biasa.

Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, telah membawanya berhijrah ke Mesir. Saat berhijrah ke Mesir, dia diterima dengan tangan terbuka oleh Khalifah al-Hakim dari Dinasti Fathimiyah.[3] Sang Khalifah ingin agar al-Haytham membantunya dalam menyelesaikan proyek pembangunan bendungan di Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematika dan falak (astronomi). Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang cadangan dalam menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar.

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.