Bamsoet: Tingginya Tingkat Kesembuhan Tak Berarti Pandemi Covid-19 Telah Berakhir

Jakarta, Obsessionnews.com - Akhir-akhir ini cukup gencar pemberitaan tentang angka kesembuhan dari Covid-19 di Indonesia. Per 26 Agustus 2020 misalnya, dilaporkan bahwa persentase kesembuhan Covid-19 di tanah air tercatat 72,1 persen dari total kasus Covid-19. Baca juga: Kegiatan Kampanye Pilkada 2020 Jangan Sampai Jadi Klaster Baru Penularan Covid-19Pilkada 2020, Bamsoet: Sosialisasi Figur Paslon Harus Berpatokan pada Protokol KesehatanTokoh dan Warga Nahdliyin Tangsel Diimbau Dukung Nur Azizah di PilkadaBamsoet Bantah Soal Usulan Kepemilikan Senjata Api Buat Sipil Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan, informasi ini patut disyukuri. Akan tetapi, informasi dan data ini jangan sampai membuat atau mendorong siapa saja, utamanya pasangan calon (paslon) di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 dan tim suksesnya bertindak dan berperilaku ceroboh. "Sebab tingginya tingkat kesembuhan tidak berarti pandemi Covid-19 telah berakhir," tutur politisi Golkar yang akrab disapa Bamsoet ini dalam keterangan tertulisnya, Kamis (27/8/2020). Sebaliknya, katanya lagi, sebagaimana bisa disimak bersama, jumlah kasus baru pun terus bertambah dengan besaran yang masih mengkhawatirkan. "Karena itu kepatuhan pada protokol kesehatan adalah mutlak. Penegakan disiplin protokol kesehatan yang didukung TNI-Polri masih sangat diperlukan," ujar Bamsoet. Halaman selanjutnya Ia melanjutkan, karena itu persiapan dan pelaksanaan Pilkada serentak 2020 harus tetap berpijak pada kepatuhan akan protokol kesehatan. Angka kesembuhan memang tinggi, tetapi tidak berarti paslon dan tim sukses boleh meremehkan ancaman dari Covid-19. "Harap diingat bahwa kendati angka kesembuhan tinggi, upaya pemulihan masih sulit dimulai karena jumlah kasus baru pun terus bertambah. Artinya, protokol kesehatan harus tetap dijalankan selama persiapan Pilkada agar semua aktivitas persiapan itu tidak menjadi klaster baru Covid-19," tandasnya. Dalam konteks ini tentu saja perhatian khusus layak dialamatkan ke Pulau Jawa. Sebab, sekitar 74 persen kasus Covid-19 tercatat di Jawa. Dalam Pilkada 2020 tidak ada pemilihan Gubernur (Pilgub) di Jawa. Pilgub berlangsung di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Namun, Jawa akan marak Pilkada karena pemilihan bupati dan wali kota berlangsung di banyak kabupaten maupun kota, terutama di Jawa Barat dan Jawa Timur. Berarti akan banyak warga yang melibatkan diri atau dilibatkan dalam aktivitas persiapan Pilkada. "Agar pelibatan warga dalam persiapan Pilkada tidak mendatangkan risiko penularan Covid-19, paslon dan tim sukses dituntut lebih kreatif dalam berkomunikasi dengan komunitas pemilih," tegas Bamsoet. (arh)





























