Buku "Milenial Bisa Memimpin": Mematahkan Mitos Kepemimpinan Generasi Baru

Buku "Milenial Bisa Memimpin": Mematahkan Mitos Kepemimpinan Generasi Baru

Obsessionnews.com​Di tengah pergeseran demografi angkatan kerja secara global, sebuah fenomena menarik muncul dengan kehadiran generasi milenial yang kini mendominasi jumlah karyawan di hampir seluruh korporasi, baik di Indonesia maupun di dunia. Namun, dominasi di level staf ini berbanding terbalik dengan keterwakilan mereka di level pengambilan keputusan tertinggi. Nah, buku "Milenial Bisa Memimpin" karya Irwan Dewanto ini hadir untuk membedah anomali tersebut.

​Buku setebal 250 halaman ini bukan sekadar motivasi kosong bagi anak muda, melainkan sebuah analisis mendalam berbasis riset mengenai urgensi keberagaman usia di kursi direksi. 

Di buku ini, Irwan Dewanto, yang lama berkecimpung di dunia HRD, menyoroti fakta bahwa posisi CEO dan jajaran direktur masih jarang ditempati oleh milenial, bahkan di dalam struktur perusahaan keluarga sekalipun.

​Salah satu poin terkuat dalam buku ini adalah hasil riset yang membuktikan bahwa proporsionalitas usia bukan sekadar masalah etika, melainkan strategi bisnis yang krusial. Penulis memaparkan dua alasan utama mengapa keterwakilan milenial di level atas menjadi sangat penting. Pertama, dewan direksi yang proporsional terhadap usia mayoritas karyawannya akan jauh lebih efektif dalam memahami aspirasi dan cara kerja timnya. Kemudian yang kedua, komposisi direksi yang mencerminkan profil konsumen di lapangan memungkinkan korporasi untuk bergerak lebih lincah dan akurat dalam menjawab kebutuhan pasar yang kian dinamis.

​Melalui data-data tersebut, Irwan menegaskan bahwa perusahaan dengan dewan direksi yang memiliki diversitas usia memiliki peluang sukses yang jauh lebih besar dibandingkan dengan perusahaan dengan struktur pimpinan yang homogen.

​​Tidak berhenti pada identifikasi masalah, buku "Milenial Bisa Memimpin" juga berfungsi sebagai buku panduan (handbook) bagi organisasi. Di mana penulis menjabarkan langkah-langkah strategis untuk mengembangkan talenta milenial agar siap menduduki kursi kepemimpinan tertinggi.

​Buku ini mengulas faktor-faktor apa saja yang harus disiapkan oleh korporasi untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan kepemimpinan milenial. 

Walhasil, buku ini adalah bacaan wajib bagi para pemimpin perusahaan, praktisi HR, maupun para profesional muda yang bercita-cita untuk mendobrak batasan struktural dan membawa perubahan nyata di dunia kerja.

​Intinya, buku yang diterbitkan OMG Publishing ini berhasil menyuarakan pesan penting bahwa milenial bukan sekadar "penggerak" di level bawah, melainkan aset kepemimpinan yang esensial. Irwan Dewanto memberikan perspektif segar bahwa untuk memenangkan kompetisi di era sekarang, perusahaan harus berani memberikan ruang bagi energi dan pemikiran milenial di kursi kepemimpinan tertinggi. (Rud)