Dr. Selamat Ginting: Instruksi Siaga 1 TNI Bukan Alarm Perang

Dr. Selamat Ginting: Instruksi Siaga 1 TNI Bukan Alarm Perang
Dr. Selamat Gintin (Foto Dok. Istimewa)

Obsessionnews. com –Instruksi resmi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto agar seluruh jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) berada dalam status Siaga 1 bukan merupakan alarm perang tapi sebagai respons strategis terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Hal itu guna mengantisipasi dampak geopolitik terhadap stabilitas dalam negeri. Demikian analisis militer dan politik UNAS Dr. Selamat Ginting di Jakarta, pada Ahad (8/3/2026).

Seperti diketahui, keputusan Panglima TNI tersebut tertuang dalam Telegram Panglima TNI Nomor TR/283/2026 yang ditandatangani oleh Asisten Operasi Panglima TNI, Letjen Bobby Rinal Makmun. Instruksi ini memerintahkan penguatan pengamanan pada titik-titik krusial di seluruh wilayah Indonesia.

Selamat Ginting, menilai bahwa status Siaga 1 ini lebih ditekankan pada upaya preventif menjaga kedaulatan dan stabilitas nasional.

"Instruksi ini harus dibaca sebagai kewaspadaan strategis, bukan indikasi bahwa Indonesia akan terlibat perang. Fokus utamanya adalah memastikan urat nadi ekonomi dan mobilitas masyarakat tetap aman," ujar Dr. Selamat Ginting.

Berdasarkan telegram tersebut, sejumlah poin utama instruksi Panglima TNI meliputi penyiagaan personel dan alutsista di bandara, pelabuhan, stasiun kereta api, terminal bus, hingga fasilitas energi seperti kantor PLN.

Sementara Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) diperintahkan melakukan deteksi dini terhadap potensi pelanggaran wilayah udara oleh pesawat asing maupun drone. Sedangkan Kodam Jaya diinstruksikan meningkatkan patroli di kawasan kedutaan besar negara asing dan pusat pemerintahan di Jakarta sebagai titik sensitif politik.

Selain pengamanan dalam negeri, Jenderal Agus Subiyanto juga memerintahkan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI untuk memetakan situasi di kawasan konflik. Langkah ini bertujuan untuk menyiapkan skenario evakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) jika situasi di Timur Tengah semakin memburuk.

"TNI akan berkoordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan keselamatan ribuan WNI yang berada di wilayah terdampak" katanya.

Dr. Selamat Ginting menambahkan bahwa meskipun secara geografis Indonesia jauh dari pusat konflik, dampak psikologis dan keamanan global dapat merembet ke Asia Tenggara.

"Jakarta adalah pusat pemerintahan dan lokasi banyak kantor kedutaan besar. Dinamika global seringkali memicu konsentrasi massa atau ekspresi politik di ibu kota. Langkah antisipatif ini penting agar stabilitas nasional tidak terganggu oleh sentimen internasional," pungkasnya.

 

Hingga berita ini diturunkan, jajaran TNI di seluruh Komando Utama Operasi (Kotamaops) telah mulai menjalankan prosedur peningkatan patroli dan pemantauan wilayah sesuai instruksi tersebut. (Hru).