Tantangan Transisi Ke Truk Listrik Tak Hanya Bangun Ekosistem, Diperlukan Dukungan Subsidi dan Regulasi

Tantangan Transisi Ke Truk Listrik Tak Hanya Bangun Ekosistem, Diperlukan Dukungan Subsidi dan Regulasi
Ketum APTRINDO Gemilang Tarigan bersama pengusaha truk dan stakeholder sektor logistik.

Saat ini dunia menghadapi dinamika global yang sangat cepat dan penuh ketidakpastian. Perubahan yang terjadi dalam waktu singkat memberikan tekanan besar, khususnya pada sektor energi, transportasi, dan logistik nasional.

 

Dalam konteks tersebut, penguatan sistem energi nasional menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terus berkomitmen untuk mendorong transformasi sektor energi melalui kebijakan yang berorientasi pada kemandirian energi, peningkatan nilai tambah dalam negeri, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

Di sektor transportasi, kita mulai melakukan perubahan struktural. Kita kurangi ketergantungan pada BBM, kita dorong biofuel, dan kita percepat penggunaan kendaraan listrik. Pemerintah juga sudah memberikan berbagai insentif agar masyarakat dan industri mau beralih ke kendaraan listrik. Kita tidak hanya bicara penggunaan, tapi juga membangun ekosistemnya, dari industri baterai, infrastruktur pengisian, sampai layanan pendukungnya. Sampai Februari 2026, kita sudah membangun ribuan SPKLU di berbagai wilayah Indonesia. Ini akan terus kita tingkatkan, karena kita ingin masyarakat merasa yakin dan nyaman beralih ke kendaraan listrik,”ujar Direktur Pembinaan Ketenaga Listrikan ESDM Ahmad Amirudin yang membacakan pesan sambutan kunci Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam seminar Transformasi Logistik Indonesia, Peran Truk Listrik di Masa Depan Transportasi di Hall B PRJ Kemayoran (09-04-2026).

 

Ketua Umum Assosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) Gemilang Tarigan mengajak para pengusaha truk dan seluruh stakeholder sektor logistik membahas rencana peremajaan dan konversi truk logistik dari bahan bakar fosil ke truk listrik di seminar ini. 

“Kondisi truk logistik di Indonesia sudah sangat memprihatinkan, karena usianya yang umumnya sudah tidak laik operasiSaat ini jumlah truk di Indonesia sebanyak 6,4 juta unit. Dari jumlah itu, yang usia 5 tahun hanya 21 persen. Truk di atas 20 tahun sebanyak 65 persen selebihnya usia di atas 40 tahun. Tantangan besar angkutan logistik di Indonesia saat ini sangat besar, karena hanya 5 persen truk yang beroperasi di Indonesia memenuhi syarat laik operasiSesuai data, truk yang beroperasi di pelabuhan sebanyak 70.168 dan terbesar ada di Pelabuhan Utama Tanjung Priok atau sekitar 36.000. Usia truk logistik yang beroperasi di Pelabuhan Tanjung Priok, kondisinya sama pada umumnya yang neroperasi secara nasional, didominasi truk tua,”papar Gemilang.

 

Menurut Gemilang dari sisi pelaku usaha, khususnya APTRINDO, sebenarnya mendukung pengembangan truk listrik. Bahkan hari ini kita sudah melihat perkembangan nyata, seperti peresmian pabrik truk listrik oleh VKTR di Magelang. Artinya, dari sisi industri, kita sudah mulai bergerak. Namun memang, tantangan terbesar saat ini bukan hanya teknologi, tetapi regulasi yang masih belum sinkron di lapangan. Hal-hal yang terlihat kecil-kecil, tapi justru sering menjadi penghambat utama operasional. Ini yang membuat pelaku usaha jadi sulit bergerak,”ungkapnya di seminar yang dihadiri pengusaha truk dari berbagai daerah ini. 

 

Selain itu, lanjutnya kita juga harus realistis, saat ini ada sekitar 2,4 juta truk di Indonesia dan hampir semuanya masih menggunakan BBM. Gemilang mengatakan, “Kalau pemerintah ingin mendorong transisi ke truk listrik, maka arah kebijakan subsidi harus jelasJika subsidi BBM secara bertahap dialihkan untuk mendukung kendaraan listrik, termasuk truk, maka beban negara bisa lebih efisien dan transisi ke energi bersih bisa lebih cepatJadi intinya, kami mendukung, kami optimis, tapi membutuhkan keberpihakan kebijakan dan penyederhanaan regulasi agar implementasi bisa berjalan.

 

Jadibukan berarti subsidi motor tidak penting, tapi perlu ada keseimbangan dan strategi agar subsidi tepat sasaran dan berdampak maksimal. Jika subsidi BBM dialihkan ke kendaraan listrik, penghematan negara bisa sangat besar, terutama untuk sektor truk yang konsumsi BBM-nya tinggi. “Kalau kita bisa mendorong elektrifikasi di sektor truk, maka penghematan BBM akan jauh lebih besar, beban subsidi negara bisa ditekan, dan dampak lingkungan juga lebih terasa,”tambahnya. (Foto: Istimewa)