Tiket Mahal, Bisnis Perhotelan di Luar Jawa Turun Drastis

Jakarta, Obsessionnews.com - Melambungnya tiket pesawat dalam beberapa bulan ini tidak hanya berdampak pada industri transpotasi dan logistik, tapi juga industri pariwisata. Di luar Jawa, bisnis perhotelan kini mengalami penurunan drastia seiring menurunya wisatawan. Baca juga:Strategi Penurunan Harga Tiket PesawatPemerintah Pangkas Harga Tiket Pesawat Hingga 16 PersenTiket Pesawat Mahal Menjadi Sebab Wisatawan Danau Toba Menurun Wakil Ketua Perhimpunan dan Hotel Indonesia atau PHRI Rainier Daulay menyatakan okupansi hotel di luar Pulau Jawa mengalami keterpurukan sejak harga tiket pesawat melonjak. Ia menyebut, setidaknya ada dua daerah dengan okupansi sangat rendah, yakni Sumatera Barat dan Makassar. “Misalnya pada Lebaran kemarin, okupansi hotel di Makassar hanya 25 persen. Padahal biasanya pas Lebaran bisa lebih dari 100 persen,” ujar Rainer dalam diskusi Kongkow Bisnis PasFM di Hotel Millenium, Jakarta Pusat, Rabu, (19/6/2019). Okupansi hotel di Sumatera Barat pun berada dalam kondisi tak jauh berbeda. Berdasarkan laporan anggota PHRI, rata-rata tingkat hunian hotel, khususnya hotel MICE di daerah tersebut hanya menyentuh 40 persen, berada di bawah standar rata-rata. Baca juga:Garuda Group Turunkan Harga Tiket Pesawat 20%Di Hadapan Jokowi, Ketua PHRI Keluh Kesah Tentang Mahalnya Harga Tiket PesawatMenhub Melarang Tiket Pesawat Promo Tanpa Izin Penurunan tingkat pengunjung hotel terjadi setelah sejumlah lembaga pemerintahan membatalkan perjalanan dinasnya. Menurut Rainer, pembatalan terjadi cukup masif mulai awal tahun hingga tengah tahun 2019. Imbas melonjaknya harga tiket pesawat juga turut mempengaruhi situasi hotel di daerah pariwisata, seperti Bali. Terhitung dalam enam bulan, Rainer mencatat okupansi hotel di Pulau Dewata melorot 12 persen dibandingkan dengan tingkat keterisian sebelumnya. "Meski angka penurunan okupansi tak setajam daerah lain, ini berat untuk Bali,” ujarnya. Rainer memandang persoalan tiket pesawat saat ini membutuhkan solusi cepat dan jitu dari pemerintah. Ia menilai saat ini pemerintah terhitung lamban menanganinya dan terkesan abai. “Kita sudah bicarakan ini sejak tiga bulan ini, tapi kondisinya tetap sama,” ucapnya. Badan Pusat Statisik sebelumnya mencatat telah terjadi penurunan tingkat hunian kamar hotel berbintang pada Maret 2019 sebesar 4,21 poin ketimbang periode yang sama pada tahun sebelumnya atau year on year. Pada triwulan pertama Maret lalu, rata-rata okupansi hotel hanya 52,89 persen. (Albar)





























