Jumat, 2 Juni 23

Menunggu Kejutan Duo Uban Ganjar-Basuki di Pilpres 2024

Menunggu Kejutan Duo Uban Ganjar-Basuki di Pilpres 2024
* Sansulung Darsum. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Sansulung Darsum, Direktur Eksekutif Netizen United Foundation

 

Setelah santer beredar kabar PDI Perjuangan sedang mematangkan prakondisi untuk melejitkan elektabiltas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Pilpres 2024, kini wacana sudah berkembang lebih maju. Yaitu ke isu sosok calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi Ganjar.

 

Baca juga: Mega Capreskan Ganjar, Niscaya Prabowo Legowo Jadi Cawapresnya

 

 

Konon, ring satu PDI Perjuangan mengembuskan wacana untuk menduetkan Ganjar dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono (PUPR). Netizen fans Basuki pun merespons dengan gembira.

Ya, khalayak dunia maya mempunyai memori kuat tentang sosok Basuki sebagai tokoh kunci kesuksesan Presiden Joko Widodo (Jokowi) membangun infrastruktur sejak periode pertama. Tanpa Basuki, kita memang sulit membayangkan berhasilnya pembangunan dari Barat sampai Timur Indonesia yang menjadi visi Presiden Jokowi.

Selain prestasinya yang tidak diragukan lagi, Basuki juga dinilai punya karakter yang unik. Dia lebih suka bekerja nyata daripada banyak bicara dan berdebat. Selain pekerja keras, dia juga rendah hati dan suka bermusik. Walaupun sering mendampingi Jokowi, dia tampaknya menghindari panggung popularitas.

Tapi, apakah Basuki punya peluang menjadi cawapres walaupun punya bejibun prestasi? Dia bukan tokoh partai toh?

Nah, karena statusnya yang bukan tokoh partai itulah yang justru menjadi keuntungannya. Pasti pimpinan partai, terutama PDI Perjuangan, sudah belajar banyak dari pengalaman. Mereka tidak menghendaki seorang wakil presiden yang akan merepotkan presiden. Atau bahkan menjadi kompetitor pada pemilu selanjutnya.

Kita flasback ke masa awal reformasi. Sejak awal adanya pemilihan presiden secara langsung, kita selalu memiliki wakil presiden yang lebih senior daripada presidennya. Sebut saja Jusuf Kalla yang berpasangan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kemudian Boediono yang juga berpasangan dengan SBY, dan Jusuf Kalla lagi yang berpasangan dengan Jokowi. Sekarang, Ma’ruf Amin sedang menjadi Wakil Presiden.

Dinamika sepanjang empat periode tersebut menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana sosok wakil presiden yang ideal.

Oleh karena itu elite dari ring satu PDI Perjuangan itu berharap akan adanya sinergi dua generasi, Ganjar yang merepresentasikan sosok yang lebih muda dan Basuki yang senior dengan success story-nya.

PDI Perjuangan sendirian sudah cukup untuk memenuhi syarat formal jumlah kursi di parlemen untuk mengusung pasangan capres dan cawapres. Hal ini, membuat PDI Perjuangan tidak perlu bernegoisiasi dengan partai lain untuk posisi cawapres.

Bukankah pemilih lebih cenderung menilai track record sosok calonnya, bukan seberapa banyak partai pengusungnya? Jadi, yang mau merapat monggo, yang tidak mau, ayok duel. Ha ha ha…..

Ya, rekam jejak Basuki tidak diragukan lagi. Dari koleganya, seperti Sri Mulyani pun merasa terbantu oleh kinerja Basuki. Menurutnya, Basuki juga telah membantu meringankan sedikit bebannya sebagai Menteri Keuangan dengan menunjukkan hasil nyata dari pembelanjaan negara untuk masyarakat Indonesia.

“Pak Bas adalah The Truly Bapak Pembangunan Indonesia. Tugas saya sebagai Menteri Keuangan menjadi sedikit lebih ringan waktu menjelaskan APBN. Kalau cuma melihat angka, orang biasanya gak connect. Tapi, begitu melihat hasilnya, ada jalan raya, yang ada nyata, bendungan, orang baru merasa APBN itu hidup angkanya, dengan melihat hasilnya,” kata Sri Mulyani.

Bahkan sanjungan juga disampaikan oleh Andre Rosiade dari Partai Gerindra. Anggota Komisi VI DPR RI itu menyebut bisa saja Basuki menjadi pesaing Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden. Ha ha ha…

“Kalau dengar pidato Presiden kemarin, rambut putih dan berkerut, ini bahaya ini. Bisa-bisa pak Basuki bisa menjadi kompetitor Pak Prabowo juga nanti,” kata Andre dalam Rapat Kerja Kementerian PUPR dengan Komisi V DPR RI pada akhir tahun lalu.

Lebih dari itu Andre bahkan menyebut Basuki sebagai salah satu Menteri PUPR terbaik yang dimiliki Indonesia. Ia juga menyebut Basuki sebagai Bapak Pembangunan.

“Kami anggota DPR melihat Pak Basuki Hadimuljono dalam sejarah Republik Indonesia sebagai salah satu Menteri PUPR terbaik di Republik Indonesia. Fakta. Jadi kalau dibilang bapak pembangunan, ya Pak Basuki,” ujarnya.

Banjir pujian dari kalangan DPR memang sudah biasa dia peroleh. Contoh lainnya Hamka B Kady dari Fraksi Partai Golkar, menilai Basuki telah bekerja dalam 3S, santai, selesai, dan serius. “Makanya kalau rambut putih juga mau jadi presiden, okelah. Monggo,” ujarnya.

Ya, soal rambut memutih dan kening mengerut itu sudah ramai jadi pembicaraan sejak dilontarkan oleh Jokowi di acara Gerakan Nusantara Bersatu di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada akhir tahun lalu. Kita refresh sejenak yaa, simaklah apa kata Jokowi saat itu.

“Pemimpin…, pemimpin yang  mikirin rakyat itu dari mukanya keliatan. Dari penampilannya keliatan. Banyak kerutan di wajahnya, karena mikirin rakyat. Ada juga…, ada juga yang mikirin rakyat sampai rambutnya putih semua. Ada itu,” tegas Jokowi disambut riuh para relawan yang memadati GBK.

Nah, Jokowi sendiri pun pernah menyebut nama Basuki pada saat wartawan bertanya tentang siapa yang dimaksud oleh Jokowi sebagai pemimpin yang selalu mikirin rakyat sampai rambutnya memutih dan keningnya mengerut. Pada saat kunjungan kerja di Kalimantan itu, Jokowi menjawab dengan menunjuk rambut Basuki yang ada di sampingnya. Ha ha ha… Kejadian itu disambut oleh netizen sebagai kode keras.

Kalau melihat fakta-fakta di atas, tampaknya bisa-bisa Ketum PDI Perjuangan akan membuat kejutan lagi. Seperti kejadian tahun 2019, publik dikejutkan dengan nama Ma’ruf Amin yang terucap dari bibir Megawati pada saat deklarasi pasangan calon dari koalisi pendukung Jokowi.

Tapi, bagaimana dengan Prabowo yang legowo dan sudah siap menjadi calon wakil presiden jika Megawati mencapreskan Ganjar? Ya, itu sudah saya bahas pada artikel saya sebelumnya. Itu kan dari pihak Prabowo dan Gerindra, tentu dengan pertimbangan tersendiri.

Begitupun Megawati dan PDI Perjuangan tentu punya pertimbangan tersendiri juga. Yang pasti Mega akan memutuskan secara rasional untuk kepentingan nasional dan kepentingan partainya. Yang pasti sebagai banteng petarung, Mega selalu siap menghadapi pihak mana pun. Termasuk jika hasil pertimbangannya adalah lebih baik menduelkan lagi PDI Perjuangan dengan Gerindra, ketimbang menduetkannya.

Jadi, Mega akan merestui pasangan Ganjar-Prabowo ataukah Ganjar-Basuki? Kita tunggu tanggal mainnya ya.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.