Rabu, 8 Februari 23

Membuat Film itu Mudah, Semua Orang Bisa

Membuat Film itu Mudah, Semua Orang Bisa

Jakarta, Obsessionnews – Komunikonten Institut Media Sosial dan Dimplomasi kembali menggelar kembali diskusi yang bertajuk “Bagaimana Meningkatkan Kolaborasi Pengguna Media Sosial Untuk Kepentingan Nasional” diskusi yang bertempat di Markas Besar GP Anshor, Kramat Raya Jakarta Pusat pada Jumat sore (22/4/16).

Hadir sebagai Narasumber diantaranya Hariqo Wibawa Satria (Direktur Eksekutif Komunikonten), Andri Sofyansyah (Sutradara Film Beauty and The Best), Unggul Sudrajat (Peneliti Keris), Chamad Hojin (Jurnalis), Annisa Junaidi (Inisiator Forum Komunikasi Komunitas-Komunitas di Sumatera Barat) dan Hasanuddin Ali (Pengurus GP Ansor).

Andri Sofyansyah memaparkan, film memiliki peran penting dalam mempromosikan pariwisata dan budaya Indonesia. Ia mencontohkan film laskar pelangi yang mendongkrak pariwisata di Bangka Belitung. Termasuk filmnya yang juga menampilkan keindahan alam kebun teh di Bandung.

Mengenai koloborasi, Andri mengatakan “Kolaborasi saya dengan pengguna medsos terjadi secara langsung maupun tidak, yang tidak langsung misalnya, pembicaraaan di medsos menjadi sumber inspirasi saya dalam membuat film, yang langsung ya seperti dalam diskusi ini, saya sekarang tertarik membuat film tentang keris,” jelas Andri Sofyansyah yang menjadi Pemenang Piala Citra Kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik, Festival Film Indonesia 2013, judul filmnya Split of Mind.

Andri yang merupakan alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini menambahkan, membuat film bukanlah yang hal yang sulit, semua orang bisa melakukannya. “hari ini semua orang bisa membuat film, apalagi kualitas kamera hp makin bagus, yang perlu kita tekadkan adalah, film yang kita buat harus makin berkualitas dari hari ke hari,” tambahnya.

Misalnya, Andri mencontohkan, membuat film adalah ketika Hp atau video dalam keadaan off menjadi on‎. Dan ia menyatakan, mengunakan video adalah hal yang paling mudah, dibanding membuat desain, tulisan, atau meme. “Saya yakin semua orang yang hadir disini bisa mengunakan video. Apapun yang kita videokan, itu sudah termasuk film,” jelasnya.

Sementara itu Hariqo Wibawa Satria menambahkan, saat ini semua orang bisa jadi sutradara, saat ini semua konten yang dibuat oleh media dan sutradara juga bisa dibuat oleh pengguna medsos. “Kita bisa lihat ribuan video super pendek di Instagram, banyak sekali yang menghibur, sekarang semua orang sudah jadi sutradara,” jelas Hariqo.

Tantangan selanjutnya menurut Hariqo adalah, bagaimana memasukkan pesan-pesan kebangsaan dan pesan positif lainnya dalam video-video itu. “Video yang digemari itu adalah video yang lucu, nah ini anak-anak Indonesia tidak perlu diajari lagi karena rata-rata selera humor kita unik dan tinggi, tinggal sekarang kita dorong agar video-video yang lucu ini ada pesan-pesannya, anak-anak muda kreatif dan humoris ini juga bisa membantu membuat iklan-iklan unik untuk produk-produk lokal kita,” tambah Hariqo Wibawa yang juga alumnus jurusan Diplomasi Internasional dari Universitas Paramadina ini. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.