Jumat, 5 Juni 20

Kondisi Ekonomi 2018 Lebih ‘Gawat’ dari 1997-1998?

Gede Sandra

Nampaknya, kondisi krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 2918 ini bakal lebih gawat dari krisis pada tahun 1997-1998. Berikut ini penjelasannya :

Perbandingan Indikator-Indikator Menjelang Krisis Moneter 1997-1998 dengan Saat Ini

Tabel di atas adalah perbandingan dari indikator-indikator ekonomi Indonesia di masa menjelang Krisis
Moneter 1997-1998 dengan masa sekarang, kuartal ke-II tahun 2018.

Dapat dilihat, indikator utama, yaitu transaksi berjalan (current account), menunjukkan bahwa kondisi
tahun 1997 masih lebih baik dari tahun 2018. Pada tahun 1997 tercatat defisit transaksi berjalan sebesar
US$ -4,89 miliar. Nilai tersebut lebih kecil dari defisit transaksi berjalan tahun 2018, yang sebesar US$ -8
miliar. Secara persentase terhadap GDP (Gross Domestic Product), defisit transaksi berjalan tahun 1997
sebesar -2,2% dari GDP, juga lebih kecil dari tahun 2018 yang sebesar -3,04% dari GDP.

Di indikator berikutnya, neraca perdagangan, malah dapat dilihat bahwa ternyata tahun 1997 terjadi
surplus sebesar US$ 410 juta. Berbanding terbalik dari tahun 2018 yang neraca perdagangan (kumulatif
Januari-Juli 2018) mencatat defisit sebesar US$ -3,02 miliar.

Beberapa indikator , seperti rasio cadangan devisa dan inflasi, pada tahun 1997 memang lebih buruk
dari 2018. Tercatat cadangan devisa tahun 1997 hanya sebesar 2,9 bulan impor, lebih buruk dari
cadangan devisa tahun 2018 yang mencapai 6,9 bulan impor. Inflasi tahun 1997 sebesar 6,2% juga lebih
tinggi dari tahun 2018 yang hanya sebesar 3,2%.

Sementara, indikator-indikator lainnya nyaris setara. Debt service ratio (DSR) tahun 1997 sebesar 30%
hanya sedikit lebih tinggi dari tahun 2018 sebesar 26,2%. Rasio investasi asing langsung (foreign direct
investment/FDI) terhadap GDP di tahun 1997 sebesar 1,48%, sementara tahun 2018 sebesar 1,5%. Dan
yang terakhir, peringkat surat utang (bond) dari lembaga internasional semacam Standard & Poor’s pada tahun 1997 dan 2018 ternyata sama-sama BBB-.

 

Jakarta, 5 September 2018

Gede Sandra

Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.