Jumat, 27 Mei 22

Gabriel Garcia Marquez, Penulis Paling Penting Abad ke-20

Gabriel Garcia Marquez, Penulis Paling Penting Abad ke-20
* Penulis asal Kolombia, Gabriel Garcia Marquez,  tampil sebagai Google Doodle, Selasa (6/3/2018), bertepatan dengan ulang tahunnya ke-91.

Jakarta, Obsessionnews.com – Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Peribahasa ini bermakna seseorang yang telah meninggal dunia akan tetap dikenang jasa-jasanya atau kesalahan-kesalahannya.

Salah seorang yang dikenang karena jasanya dalam dunia sastra adalah Gabriel Garcia Marquez. Dia penulis asal Kolombia. Gabo, begitu ia biasa disapa, dianggap sebagai salah seorang penulis paling penting di abad ke-20, dan salah seorang penulis berbahasa Spanyol terbaik.

Gabriel Garcia Marquez  dianugerahi penghargaan Nobel dalam Sastra pada 1982.

Pria ini dilahirkan di Aracataca, Kolombia, 6 Maret 1927. Ia meninggal dunia karena sakit di Meksiko, 17 April 2014, saat berusia 87 tahun.

Untuk memperingati ulang tahun Gabo ke-9, mesin pencari Google menampilkannya di Google Doodle pada hari ini, Selasa (6/3/2018).

Berita tentang Gabo menjadi trending topic di Google. Pantauan Obsessionnews.com di Google Trends wilayah Indonesia pada Selasa (6/3) hingga pukul 11.51 WIB berita tersebut ditelusuri lebih dari 500.000 kali. Sementara di Google Trends wilayah global dicari lebih dari sejuta kali.

Dikutip Obsessionnews,com dari wikipedia Gabriel Garcia Marquez  secara umum dipandang sebagai tokoh utama dari gaya sastra yang dikenal sebagai realisme magis

Ia memulai kariernya sebagai wartawan untuk harian BogotáEl Espectador, dan koresponden di RomaParisBarcelonaCaracas, dan New York City.

Karya besarnya yang pertama adalah Kisah tentang Seorang Pelaut yang Karam (Relato de un náufrago), yang ditulisnya sebagai cerita bersambung surat kabar pada 1955. Buku ini menceritakan kisah nyata tentang sebuah kapal karam dengan mengungkapkan kenyataan bahwa kehadiran barang-barang gelap di sebuah kapal Angkatan Laut Kolombia, yang membuat kapal itu kelebihan muatan, telah ikut menyebabkan karamnya. Hal ini menimbulkan kontroversi publik, karena cerita itu membantah laporan resmi mengenai kejadian sekitar kecelakaan itu, yang mempersalahkan badai dan mengagungkan si pelaut yang selamat.

Cerita ini menjadi awal dari pekerjaannya sebagai koresponden asing, karena Gabo menjadi semacam persona non grata untuk pemerintahan Jenderal Gustavo Rojas Pinilla. Kisah ini kemudian diterbitkan pada 1970 dan dianggap oleh banyak orang sebagai sebuah novel.

Beberapa karyanya digolongkan sebagai fiksi dan juga non-fiksi, khususnya Kronik tentang Maut yang telah Diramalkan (Crónica de una muerte anunciada) (1981), yang mengisahkan cerita pembunuhan balas dendam yang direkam dalam koran-koran, dan Cinta di Kala Wabah Kolera (El amor en los tiempos del cólera) (1985), yang didasarkan secara bebas pada kisah berpacaran orangtuanya. Banyak dari karya-karyanya, termasuk kedua buku di atas, berlangsung dalam “alam Gabo”, yang tampil kembali dari buku ke buku dalam bentuk tokoh-tokohnya, tempat-tempat dan kejadian-kejadiannya.

Novelnya yang terkenal, Seratus Tahun Kesunyian (Cien años de soledad) (1967; (terjemahan bahasa Inggris oleh Gregory Rabassa1970), telah terjual lebih dari 10 juta eksemplar. Novel ini mengisahkan kehidupan tentang sebuah desa di Amerika Selatan yang terasing, di mana kejadian-kejadian aneh digambarkan sebagai hal-hal yang biasa. Cerita ini jelas mengandung kenyataan yang magis. Namun lebih dari itu juga merupakan sebuah refleksi filsafati tentang hakikat waktu dan keterasingan.

Gabo memperoleh penghargaan Hadiah Rómulo Gallegos pada 1972 untuk bukunya Cien años de soledad (Seratus tahun kesunyian). Selain itu ia juga dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra pada 1982 berdasarkan cerita-cerita pendek dan novelnya. (arh)

Related posts

1 Comment

  1. Steven Toh

    Saya menyukai gaya penulisan Gabriel Garcia Marquez yang magis realistis, dia bilang diperoleh dari neneknya: ” Kisah itu ditulis dengan fenomena realitas magis, di dalam kejadian yang bagai mimpi, namun diceritakan secara meyakinkan, seperti gaya nenek saya bercerita ketika masa kanak-kanak ku dulu. Ia bisa berkisah mengenai hal-hal magis, supra natural dan fantastis dengan wajah dan nada datar, sehingga terdengar sungguh-sungguh nyata.”

    Saya mencoba menulis blog tentangnya , semoga anda suka: http://stenote-berkata.blogspot.com/2017/09/wawancara-dengan-gabriel.html

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.