Kamis, 7 Juli 22

Cegah PTM dengan Aktivitas Fisik

Cegah PTM dengan Aktivitas Fisik
Rapiudin
Jakarta– Tak banyak orang gemar melakukan aktivitas fisik untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Padahal, aktivitas fisik seperti olahraga berperan penting untuk mencegah timbulnya penyakit tidak menular (PTM).
Aktivitas fisik adalah salah satu dari empat upaya mencegah PTM. Upaya lainnya, fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar gizi di 1.000 hari pertama kehidupan, penerapan pola gizi seimbang dengan peningkatan konsumsi buah dan sayur dengan mengurangi lemak dan minyak, membatasi asupan garam dan gula. Upaya berikutnya adalah melakukan kegiatan edukasi dan protif preventif terhadap peningkatan jaungkauan dan kualitas pelayanan gizi.

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dalam sebuah seminar di Jakarta, Selasa, 25 Juni 2013, menyebut, penyakit tidak menular, seperti stroke, jantung, kanker, dan diabetes mellitus bisa dialami seseorang jika makan makanan tidak seimbang, gaya hidup tidak sehat,  dan aktivitas rendah.

“Kita akan memasuki bulan Ramadhan. Ini momentum yang baik untuk mengatur pola makan dan perilaku  hidup yang baik, seperti berhenti merokok,” katanya.

Karena PTM, lanjut Menkes, bisa dicegah antara lain dengan menghindari rokok. Sebab, rokok mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Pemerintah juga telah mengeluarkan peraturan guna mencegah PTM. Salah satunya PP No 33 tahun 2012 tentang pemberian ASI Eksklusif seperti yang telah diamanatkan dalam UU No 36 tahun 2009 tentang hak bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif.

Seperti dilansir laman depkes.go.id, PTM adalah penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Peningkatan PTM merupakan beban ganda dalam pelayanan kesehatan, tantangan yang harus dihadapi dalam pembangunan bidang kesehatan di Indonesia.

Proporsi angka kematian akibat PTM meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi 49,9% pada tahun 2001 dan 59,5% pada tahun 2007. Penyebab kematian tertinggi dari seluruh penyebab kematian adalah stroke (15,4%), disusul hipertensi, diabetes, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis. Kematian akibat  PTM terjadi di perkotaan dan perdesaan.

Data Riskesdas 2007 menunjukkan di perkotaan, kematian akibat stroke pada kelompok usia 45-54 tahun sebesar 15,9%, sedangkan di perdesaan sebesar 11,5%. Hal tersebut menunjukkan PTM (utamanya stroke) menyerang usia produktif. Sementara itu prevalensi PTM lainnya cukup tinggi, yaitu:  hipertensi (31,7%), arthritis (30.3%), penyakit jantung (7.2%), dan cedera (7,5%).

PTM dipicu berbagai faktor risiko antara lain merokok, diet yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan gaya hidup  tidak sehat. Riskesdas 2007 melaporkan, 34,7% penduduk usia 15 tahun ke atas merokok setiap hari, 93,6% kurang konsumsi buah dan sayur serta 48,2% kurang aktivitas fisik.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.