Jumat, 17 September 21

Masyarakat Sumbar Sambut Hangat Kedatangan Jenderal (Purn) Djoko Santoso

Masyarakat Sumbar Sambut Hangat Kedatangan Jenderal (Purn) Djoko Santoso
Rapiudin
Jakarta- Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso mendapat sambutan hangat saat menyambangi Sumatera Barat. Dari  lokasi yang dikunjungi, Padang dan Bukittinggi, antusiasme masyarakat menyambut Ketua Dewan Pembina Gerakan Indonesia ASA ini cukup besar.

Djoko berada di kota tersebut untuk menghadiri seminar nasional dan dialog kebangsaan yang digelar DPW Gerakan Mahasiswa (GEMA) Sumbar, Kamis, 20 Juni 2013.

Menurut Djoko, salah satu cara untuk menjadikan mahasiswa sebagai  generasi penerus bangsa adalah dengan menumbuhkan  nasionalisme kultural. Mahasiswa sebagai salah satu generasi penerus bangsa harus mempertahankan semua kebudayaan yang ada di Indonesia.

“Jangan mudah tergerus dengan masuknya budaya lain. Generasi penerus harus tahu cikal bakal nasionalisme kultural,” ujarnya saat menjadi pemateri di Gedung Serba Guna Kampus IAIN Imam Bonjol, yang digelar   DPW GEMA Indonesia, di Padang.

Soal pentingnya memahami nilai-nilai kebangsaan diuangkapkan Djoko saat berbicara dalam sebuah seminar di Hotel Grand Rocky, Bukittinggi, Jumat, 21 Juni 2013.

Djoko mengaku prihatin dengan semakin memudarnya nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi penerus bangsa. Apalagi, kebudayaan sebagai bagian dari pertahanan bangsa juga mlai kehilangan arah sejak era globalisasi melanda.

“Kita harus kembali mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang pluralis dan terdiri dari berbagai suku bangsa dana agama. Ini harus kita pertahankan dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Menurut Djoko, banyak contoh yang bisa diberikan terhadap pengaruh globalisasi dalam tatatnan kehidupan berbangsa dan bernegara. Di antaranya semakin jelasnya jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin dalam kehidupan sehari-hati dan semakin menipisnya jiwa sosial masyarakat.

Waki Ketua Dewan Penasehat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Pusat ini juga menyinggung tentang pentingnya pendidikan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), sebagai isian dalam mewujudkan masyarakat yang berbineka tunggal ika. Namun, sejak era reformasi bergulir, program ini mendapat tentangan karena dianggap tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman.

P4, kata Djoko, merupakan program penanaman nilai-nilai kebangsaan terhadap generasi penerus. Karena itu, jika tidak ada lagi dalam kurikulum pelajaran, masih bisa dilakukan di lingkungan rumah tangga, lingkungan tempat tinggal maupun sekolah.

“Sehingga generasi kita memahami arti pentingnya kesatuan dan persatuan bangsa,” ujarnya.

Siap Nyapres
Dalam kesempatan tersebut, Djoko kembali menyatakan kesiapannya menjadi calon presiden (capres) pada Pemilihan Presiden 2014 mendatang. Terkait dengan itu, Djoko mengaku sudah ada beberapa partai politik yang memiliki kursi di DPR mendekatinya dan memintanya maju di Pilpres 2014.

Djoko berharap mendapat dukungan rakyat dan partai politik, karena dirinya memiliki konsep yang jelas dalam membangun Indonesia di tengah tantang globalisasi saat ini.

“Saya ini nggak punya partai, Jadi tergantung dukungan rakyat saja. Kalau ada dukungan dan ada partai yang bersedia ya maju. Sebagai orang Jawa kan lebih ‘baik rumangsa’ ketimbang ‘rumangsa bisa’, ucapnya.

Djoko melanjutkan, sebagai mantan prajurit, ia merasa punya kewajiban membayar hutang sejarah kepada para pendiri bangsa. “Tujuan bangsa ini kan menciptakan keadilan, persatuan, dan perdamaian.Ibarat Soekarno dengan Trisakti-nya, saya merumuskan dengan ASA (Adil, Sejahtera, Aman). Karena itu, saya mendirikan Indonesia ASA,” terang Djoko.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.