Sabtu, 16 Desember 17 | 10:13 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Jalan-jalan ke Danau Toba dan Samosir (Bagian 1)

Jalan-jalan ke Danau Toba dan Samosir (Bagian 1)
* Berfoto dengan pesawat Garuda jenis Bombardier. (Foto: Baskara Nugraha)

Siapa yang tidak ingin melihat Danau Toba, danau yang terluas di Indonesia dan di Asia Tenggara itu. Jangan heran, meskipun saya berasal dari Sumatera, namun saya belum pernah ke sana. Danau Toba terletek di propinsi Sumatera Utara, Sumatera Utara adalah propinsi yang sangat luas. Mengunjungi kota Medan, ibukota Sumatera Utara, pun saya baru sekali. Danau Toba sendiri sangat jauh letaknya dari kota Medan, memakan waktu perjalanan sekitar lima sampai enam jam lewat perjalanan darat. Namun sekarang akses ke Danau Toba menjadi lebih dekat sejak dibukanya Bandara Silangit yang terletak di Siborong-borong, kabupaten  Tapanuli Utara. Dari Silangit ke kota Parapat yang terletak di pinggir danau Toba sudah lebih dekat jaraknya dan memakan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan darat.

Ada dua maskapai yang membuka penerbangan langsung dari Jakarta ke Silangit, yaitu Garuda Indonesia dan Sriwjaya Air. Garuda memiliki jadwal sehari satu kali penerbangan dari Terminal 3 Bandara Soetta ke Silangit, sedangkan Sriwijaya Air ada dua kali penerbangan langsung ke sana. Selain dari Jakarta, Bandara Silangit juga dapat dicapai dengan penerbangan dari Batam dan Kualanamu. Jika naik Sriwijaya, pesawatnya dari jenis Boeing, sedangkan bila memakai Garuda maka pesawatnya berukuran lebih kecil dari Boeing, yaitu pesawat berjenis Bombardier atau Explore Jet.

Minggu lalu fakultas saya mengadakan acara rapat kerja sekaligus rekreasi ke Danau Toba.  Kami berangkat dengan penerbangan pagi, rombongan pertama menggunakan Sriwijaya, sedangkan rombongan kedua menggunakan Garuda.

Saya berada dengan rombongan kedua, namun karena pesawat mengalami kerusakan, kami mengalami delay yang cukup lama, yaitu empat jam! Sebagai kompensasinya, kami mendapat makan gratis sepuasnya di Lounge Garuda Terminal 3, selanjutnya karena delay empat jam itu maka kami juga mendapat uang tunai Rp300.000 dari Garuda sesuai aturan Kementerian Perhubungan. Yah, berantakanlah rencana mengunjungi danau Toba pada siang hari itu, sebab pesawat baru berangkat pukul 13.00, padahal kami berangkat dari bandung pukul 12 malam untuk mengantisipasi kemacetan di jalan tol menuju Jakarta.

garuda

Uang kompensasi 300 ribu dari Garuda

Rombongan pertama dengan Sriwijaya berhasil mendarat di Silangit pada pukul sembilan pagi, sedangkan kami yang di Garuda gagal mendarat di Silangit karena cuaca buruk. Selama dalam perjalanan kami sempat mengalami turbulensi di atas daratan Sumatera. Cukup mencekam juga  turbulensinya yang membuat wajah pucat pasi. Kalau sudah berada di udara, maka saya hanya bisa berpasrah diri kepada Allah SWT.  La hawla walaa quwwata illa billah. Hidup dan mati ada ditangan-Nya.  Karena gagal mendarat di Bandara Silangit, pesawat akhirnya dialihkan mendarat di Bandara Kualanamu di Deli Serdang pada sore hari. Dari Kualanamu perjalanan diteruskan lewat darat melewati beberapa kota dan daerah menempuh waktu (termasuk makan dan istirahat di Perbaungan) enam jam. Jam 12 malam lebih sedikit akhirnya kami sampai di hotel Inna Parapat yang terletak persis di pinggir Danau Toba. Alhamdulillah, sampai jugalah saya di pinggir danau yang sudah lama ingin saya kunjungi.

Dari jendela hotel kita dapat melihat sebagian danau Toba. Saya sebut sebagian karena Danau Toba itu selain sangat luas juga sangat panjang.  Panjang danau Toba adalah 100 km, sedangkan lebarnya 30 km, kedalamannya saja 500 meter! Dalam sekali. Di bawah ini saya tampilkan tiga foto penampakan Danau Toba dari Hotel Inna Parapat yang terletak di kota Parapat di pinggir Danau Toba (Foto-foto lainnya akan saya tampilkan dalam tulisan selanjutnya.).  Di pinggir danau ini terdapat banyak sekali hotel dan tempat penginapan, mulai dari kelas melati hingga berbintang empat.

Toba1

Toba3

Toba2

Itu foto pada pagi hari. Cuaca di Parapat sering mendung dan berkabut, jadi mendapatkan foto yang sangat bersih agak sulit diperoleh saat musm hujan pada bulan Agustus di sana.

Danau Toba pada dasarnya adalah sebuah kawah hasil letusan  gunung api raksasa (supervolcano). Dikutip dari laman Wikipedia,  Gunung Toba meletus sekitar 75.000 tahun yang lalu. Hasil letusan menghasilkan kaldera yang kemudian terisi dengan air, itulah yang menjadi Danau Toba sekarang. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya pulau yang bernama Pulau Samosir. Pulau Samosir inilah yang menjadi keunikan Danau Toba, yaitu ada pulau besar di tengah danau yang sangat luas. (Rinaldi MunirDosen Teknik Informatika ITB) (Bersambung)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *