Kamis, 16 Agustus 18

Berlatar Belakang Era Kolonial, ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’ Usung Kisah Percintaan

Berlatar Belakang Era Kolonial, ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’ Usung Kisah Percintaan
* Adegan film "Sara & Fei, Stadhuis Schandaal". (Foto: xela pictures)

Jakarta, Obsessionnews.com – Dunia perfilman di Indonesia mengalami peningkatan. Berdasarkan data dari www.filmindonesia.or.id, pada tahun 2017 sebanyak 116 film panjang ditayangkan di bioskop-bioskop tanah air. Jumlah  penonton meningkat, dari 34,6 juta di tahun 2016 menjadi 37 juta penonton di tahun 2017.

Dalam keterangan resmi yang diterima Obsessionnews.com, Senin (23/7/2018), disebutkan tingginya penikmat film membuat production house (PH) baru, XELA Pictures, berani mengambil langkah terjun untuk menghibur masyarakat.

XELA Pictures berhasil merampungkan film perdananya yang berjudul Sara & Fei, Stadhuis Schandaal. Sebuah film berlatar belakang era kolonial dengan gaya kekinian yang mengusung kisah percintaan. Film tersebut akan tayang serentak di bioskop mulai 26 Juli 2018 mendatang.

Para pemain film “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal”.

“Kami melihat potensi penonton film di Indonesia masih sangat besar. Dengan memproduksi film berlatar belakang sejarah, kami pun ingin mengangkat budaya Indonesia ke mancanegara, termasuk Tiongkok, yang menjadi pasar kedua film perdana kami ini,” ujar pemilik XELA Pictures dan produser eksekutif film Sara & Fei, Stadhuis Schandaal Alexander Sutjiadi.

Untuk menghadirkan sebuah film berlatar belakang zaman kolonial yang terjadi ratusan tahun lalu namun dikemas dengan gaya kekinian, XELA Pictures menggandeng sutradara senior, Adisurya Abdy.

Adisurya merupakan sutradara era tahun 1980-an yang ngetop dengan film Roman Picisan, Macan Kampus, Asmara, dan Ketika Cinta Telah Berlalu.

“Saya memang tidak ingin membuat film sejarah, tetapi membuat film yang menggambarkan sebuah situasi atau sebuah episode yang konon pernah terjadi di zaman kolonial, yakni tentang gedung yang penuh dengan skandal, ungkap Adisurya  saat konferensi pers dan screening film “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal” di Metropole XXI, Megaria, Jakarta Pusat, Jumat (20/7).

Seputar penggunaan kata berbahasa Belanda, Stadhuis Schandaal, pun merupakan unsur kesengajaan.  Gunanya agar penonton sejak awal sudah mengetahui bahwa film ini memiliki latar belakang zaman Belanda.

Film drama ini meminjam situasi era kompeni dengan memakai kacamata anak muda masa kini atau yang biasa disapa dengan generasi millenials. Konsep artistik pun disesuaikan dengan zaman itu. Adisurya membangun set berupa tangsi dan benteng Belanda di atas tanah seluas 1.500 m2 di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang digabung dengan teknologi visual effect, sebagimana digunakan oleh industri perfilman modern saat ini.

“Kami sudah mencoba mencari bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda yang ada di Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja yang akan kami lakukan. Untuk itu maka kami putuskan lebih baik membangun set sendiri agar kerja tim menjadi lebih bebas,” terang Adisurya.

Film ini  menampilkan beberapa wajah baru, seperti Amanda Rigby, Tara Adia, Haniv Hawakin, Volland Volt dan Mikey Lie.

Film ini juga menghadirkan pemain pendukung yang sudah malang melintang di industri film yaitu Anwar Fuady, George Mustafa Taka, Rowiena Umboh, Rensy Millano, Tio Duarte, Septian Dwi Cahyo, Iwan Burnani, Julian Kunto, Aby Zabit El Zufri. (Popi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.