Jumat, 25 September 20

TikTok sebagai Ancaman Keamanan di Sejumlah Negara?

TikTok sebagai Ancaman Keamanan di Sejumlah Negara?
* Penemu ByteDance Zhang Yiming adalah orang terkaya ke-10 di China, menurut daftar Forbes Rich. (Foto :Getty Images/BBC)

Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa ia akan melarang TikTok kecuali jika ada perusahaan Amerika yang membeli operasi TikTok di AS. Apa yang menyebabkan aplikasi yang berhasil menarik jutaan pengguna itu dianggap sebagai risiko keamanan nasional hanya dalam waktu dua tahun?

Pada 2016, raksasa teknologi China ByteDance meluncurkan layanan serupa di China yang disebut Douyin. Aplikasi itu menarik 100 juta pengguna di China dan Thailand dalam kurun waktu setahun.

ByteDance melihat prospek yang cerah dan ingin memperluas bisnis dengan merek yang berbeda – TikTok. Jadi, pada tahun 2018 perusahaan itu membeli Musical.ly dan memulai ekspansi global TikTok.

Pertumbuhan pesat aplikasi itu juga menarik perhatian para politisi. Apa makna dari aplikasi China yang begitu cepat menjadi bagian besar dari kehidupan modern?

Meskipun tuduhan itu tidak jelas, India dan AS khawatir TikTok mengumpulkan data sensitif dari pengguna yang dapat digunakan oleh pemerintah China untuk memata-matai.

Setiap perusahaan besar China dituding memiliki “sel” internal yang bertanggung jawab kepada Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa, dengan banyak agennya yang bertugas mengumpulkan rahasia.

India awalnya melarang TikTok pada April 2019, setelah pengadilan memerintahkan pencabutannya dari layanan pengunduh aplikasi, menyusul adanya klaim bahwa aplikasi itu digunakan untuk menyebarkan pornografi. Keputusan itu dibatalkan saat naik banding.

India kemudian melarang TikTok lagi, bersama dengan puluhan aplikasi milik China lainnya pada Juni 2020. Saat itu pemerintah India mengatakan telah menerima keluhan bahwa aplikasi itu “mencuri dan secara diam-diam mengirimkan data pengguna”.

Pemerintah AS mulai meninjau platform itu secara nasional pada akhir 2019, setelah anggota parlemen dari Demokrat dan Republik mengatakan ada risiko dari aplikasi itu.

Baru-baru ini, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengklaim TikTok adalah satu dari sejumlah aplikasi China “yang menyerahkan langsung data ke Partai Komunis China”.

Kantor Komisi Informasi Inggris dan badan intelijen Australia saat ini sedang menyelidiki aplikasi tersebut tetapi belum mengungkapkan apa yang mereka selidiki.

Tentu saja patut dicatat bahwa ada ketegangan dengan negara-negara ini.

AS berselisih dengan China terkait urusan perdagangan, pasukan India dan China terlibat dalam bentrokan perbatasan, dan Inggris menentang undang-undang keamanan baru di Hong Kong.

Apa yang TikTok lakukan dengan data masih diperdebatkan.

Kami tahu dari kebijakan privasinya bahwa TikTok mengumpulkan sejumlah besar data, termasuk: Video apa yang ditonton dan dikomentari, dan Data lokasi.

Model ponsel dan sistem operasinya
Ritme keystroke ketika orang mengetik
Terungkap juga bahwa TikTok membaca clipboard copydan paste pengguna, tetapi banyak aplikasi lain juga melakukan itu, termasuk Reddit, LinkedIn dan aplikasi BBC News, dan tidak ada kejahatan yang ditemukan.

Sebagian besar bukti menunjukkan pengumpulan data TikTok dapat dibandingkan dengan jejaring sosial lain yang haus data seperti Facebook.

Namun, tidak seperti saingannya yang berbasis di AS, TikTok mengatakan pihaknya bersedia untuk menawarkan transparansi, dalam tingkat yang disebutnya tak pernah dijangkau sebelumnya, untuk meredakan beberapa kekhawatiran tentang pengumpulan dan aliran data.

CEO baru TikTok, Kevin Mayer, seorang mantan eksekutif Disney di Amerika, mengatakan pihaknya akan mengizinkan para ahli untuk memeriksa kode di balik algoritmanya. Pernyataan itu sangat penting dalam industri di mana data dan kode dijaga ketat.

Kami tak akan serahkan data

Namun, kekhawatiran tidak hanya tentang data apa yang dikumpulkan, tetapi juga lebih teoritis – dapatkah pemerintah China memaksa ByteDance untuk menyerahkan data?

Kekhawatiran yang sama telah dikemukakan tentang Huawei.

Undang-undang Keamanan Nasional 2017 di China memaksa setiap organisasi atau warga negara untuk “mendukung, membantu dan bekerja sama dengan pekerjaan intelijen negara”.

Namun, seperti raksasa telekomunikasi China Huawei, bos TikTok telah berulang kali mengatakan bahwa jika itu terjadi, “kami pasti akan menolak setiap permintaan data”.

Kekhawatiran lainnya adalah kemungkinan sensor, atau aplikasi yang digunakan untuk mempengaruhi debat publik.

TikTok adalah salah satu platform pertama yang dikunjungi banyak anak muda untuk berbagi konten berbau aktivisme sosial.

Pada bulan Mei, TikTok mempromosikan #BlackLivesMatter sebagai tren.

Namun, bahkan ketika tagar itu menarik miliaran pengunjung, ada yang mengkritik bahwa konten dari pembuat konten berkulit hitam dibatasi dan bahwa tagar yang terkait dengan protes disembunyikan.

Ini bukan pertama kalinya algoritma TikTok dikritik karena cara pemilihan konten.

Sebuah laporan oleh The Intercept mengatakan bahwa moderator didorong untuk mengacuhkan konten dari siapa pun yang dianggap terlalu “jelek”, atau miskin.

Tahun lalu, Guardian melaporkan bahwa materi yang disensor TikTok dianggap sensitif secara politis, termasuk rekaman protes di Lapangan Tiananmen dan tuntutan kemerdekaan Tibet.

Pelaporan lebih lanjut dari Washington Post menunjukkan bahwa moderator di China memiliki keputusan akhir tentang apakah video disetujui.

ByteDance mengatakan pedoman seperti itu telah dihapus dan semua moderasi independen dari pengaruh Beijing. (BBC News)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.