Jumat, 9 Desember 22

Target 7% Pertumbuhan Ekonomi Cina: Antara Mimpi dan Kenyataan

Target 7% Pertumbuhan Ekonomi Cina: Antara Mimpi dan Kenyataan

Oleh: Samuel M.J Karwur, A New Dimension Bearer

 

Di tengah-tengah kontroversi dan sengkarut ekonomi dalam negeri, Cina mematok target pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) sebesar 7%. Komentarnya? Hanya satu kata: Sexy!

Tapi tunggu dulu, selalu ingat sebuah kata bijak: Never judge book by its cover. Dalam hal Cina, kata bijak ini memang pantas untuk dikedepankan. Pasalnya, pemimpin dunia mana yang hari ini bisa dengan berani berkata GDP akan tumbuh sebesar 7%?

Mari lihat beberapa ciri khas dari sebuah propaganda ala pemerintahan komunis: secara ilmu pengetahuan terlihat mumpuni, serta tampak sangat artistik. Secara teori ekonomi, pertumbuhan 7% bukan suatu hal mustahil. Apalagi jika ekonomi bergulir sesuai harapan. Tapi sayang dalam konteks ini, pengambil keputusan di polit biro Cina lupa – atau lebih pas pura-pura lupa – bahwa ekonomi saat ini tengah berjalan dalam “lembah kematian”.

Lalu sifat artistik, ya, angka 7% tentu menjadi idaman setiap negara. Namun lagi-lagi, Cina menutup mata akan fakta bahwa ekonomi global kini kurus kering, jauh dari postur cantik, artistik, apalagi sexy.

Itulah sebabnya proyeksi 7% pertumbuhan GDP di tengah ambruknya harga saham, hutang yang menumpuk, serta makin beratnya roda ekonomi berputar, rasanya tak lebih dari sebuah ilusi. Bahkan, di negara-negara maju sekalipun tidak ada yang berani bertaruh dengan GDP 7%.

Lihat saja Amerika dengan GDP sebesar 2,7%, atau Jerman yang hanya bertengger di angka 1,6%. Sementara Jepang sang macan Asia, kini juga terkapar karena tidak memiliki angka pertumbuhan GDP yang berarti untuk dibanggakan. Paling tidak selama dua dekade terakhir, Jepang terus merangkak.

Jika hari ini kita berada di tahun 1980an atau 2010, maka 7% adalah angka yang sangat mudah dicapai. Faktanya, dalam dua dekade tersebut, Cina malah menikmati pertumbuhan super duper fantastis dengan double digit GDP growth. Tapi lagi-lagi, tidak ada yang namanya mesin waktu ala Hollywood. Kita hidup di tahun 2017 di mana dunia sedang mengalami perlambatan dalam hal perputaran roda ekonomi.

So what is next?

Apakah ini pertanda bahwa perjalanan sang naga akan segera berakhir?

Bisa jadi demikian, apalagi Cina saat ini sedang dalam masa transisi dari sistem ekonomi tradisional menuju sistem ekonomi modern – ekonomi ala dunia Barat yang serba mewah -. Sementara transisi ini terjadi, maka guncangan menjadi hal yang tidak bisa terhindarkan.

Dalam era keemasan tahun 2010 di mana pertumbuhan ekonomi Cina yang membuat dunia gigit jari, pembangunan negara itu justru dinilai terlalu masif. Sehingga terkesan membuang-buang sumber daya. Memang benar semua sektor booming. Tapi sayang, pertumbuhan tersebut ibarat sesesorang yang mengalami obesitas. Ya, semua terlalu jauh melampaui kapasitas yang bisa di-manage oleh pemerintah dan rakyat Cina sendiri.

Bumerang dari pertumbuhan ekstrim ini adalah terjadinya deflasi yang pada akhirnya menjadi penghambat bagi gelombang investasi-investasi baru. Dengan kata lain Cina setelah booming akan menjadi seperti seorang anak balita yang baru belajar berjalan. Cina yang baru, akan merangkak dan entah sampai berapa lama, baru kembali bisa berlari.

Bagaimana mungkin?

Bank Sentral Amerika – Federal Reserve – dan juga pemerintah Amerika, seperti duduk di atas kursi panas hari-hari belakangan ini. Sebabnya adalah kebijakan moneter yang begitu lunak. Baru-baru ini The Fed memutuskan tidak menaikkan suku bunga. Siapapun akan tergiur dengan suku bunga nol. Tapi meski dengan kebijakan cheap money pemerintah Amerika, tetap saja jika dibandingkan dengan cara pemerintah Cina menciptakan bubble demi bubble ekonomi, Amerika masih kalah hebat.

Setelah krisis 2008 teratasi, kebijakan moneter yang longgar menjadikan pembangunan di bidang konstruksi meroket dan memasuki fase booming. Properti tumbuh pesat. Penyerapan anggaran di sektor konstruksi bahkan menggila sampai menembus level 10,4% dari GDP. Pertumbuhan yang dialami Cina ini sungguh luar bisa. Amerika saja dengan semua kehebatan ekonomi mereka, paling tinggi hanya bisa menyentuh level 6,5% saat booming property dialami oleh negara Pamam Sam.

Pembangunan di seantero Cina sungguh fantastis, bahkan menempatkan kemakmuran ekonomi di Jepang yang lebih modern dan kaya, seperti tidak berarti sama sekali. Seluruh dunia mengagumi apa yang dialami Cina. Para pemimpin dunia dibuat gigit jari dan hanya bisa berkata seandainya saja kita bisa mengalami apa yang Cina alami…. Dan ingat, penduduk Cina adalah 1,3 miliar jiwa. Berapa saja konstruksi bangunan baru di sektor properti yang dibangun untuk jumlah penduduk masif seperti itu.

Namun ibarat sebuah sandiwara, ternyata semua episode harus datang pada babak terakhir. Sejak 2013 Cina perlahan-lahan mulai melambat. Melihat hal tersebut, pemerintah Cina mengambil langkah preventif. Dibuatlah bubble yang baru, kali ini di sektor saham.

Kita semua tahu apa yang terjadi di saham-saham Cina. Semua ambruk. Pemerintah Cina menggelontorkan dana masif sebagai intervensi, dengan tujuan menyelamatkan lantai bursa Cina yang tiba-tiba berada di tepian jurang maut.

Namanya juga bubble. Memang sekilas terlihat besar. Tapi berapa banyak yang pernah menyadari bahwa di dalam balon-balon tersebut sebetulnya kosong tidak ada apa-apanya? Sekali meletus, balon atau bubble tersebut tidak akan menyisakan apapun.

Persoalannya adalah pemerintah Cina sangat getol untuk menciptakan bubble demi bubble guna memaksakan ambisi besar Sang Naga untuk menjadi penguasa dunia. Sayangnya, belitan naga ternyata tidak cukup kuat. Setelah bubble property ditiup dan meletus, kini bubble pasar saham pun akhirnya meletus lagi.

Ambruknya saham-saham Cina, memicu banyak spekulasi dari pelaku ekonomi yang berkata, bahwa dunia berada di ambang resesi. Maybe yes, maybe no. Memang betul, ketika pasar mengalami crash, kepercayaan investor yang merupakan unsur vital dalam keseimbangan ekonomi pasti akan menguap. Sentimen positif berganti sentiment negatif. Artinya hanya satu: gelombang krisis baru. Dalam kasus Cina, jangan lupa tentang potensi perpindahan modal sebesar US$ 358 triliun dari dalam negeri Cina menuju belahan dunia lain.

Risiko besar lain adalah potensi terulangnya apa yang terjadi di Jepang, yaitu tingkat usia rata-rata penduduk saat ini. Sebagai negara yang sedang tumbuh, usia produktif penduduk merupakan faktor penting yang tidak bisa dikesampingkan dan Cina terlihat seperti terlalu tua untuk hal ini.

Usia median di Cina saat ini rata-rata berada di kisaran 37 tahun dan ini mirip dengan kondisi di Amerika. Diperkirakan pada tahun 2050 nanti penduduk China yang berusia di atas 60 tahun akan berjumlah 437 juta jiwa, atau setara dengan 30% dari total populasi negara tersebut.

Jepang mengalami hal yang sama dan membuktikan bahwa penduduk yang kian menua bisa menjadi faktor penghambat bertumbuhnya ekonomi. Cina pun kini menghadapi persoalan serupa.

Akhirnya, ketika dunia berkata bahwa perlambatan ekonomi Cina terjadi karena beralihnya orientasi ekonomi Cina dari manufaktur tradisional massal ke sistem ekonomi modern, rasanya sulit untuk berharap negara itu akan bisa kembali menikmati pertumbuhan 10% seperti yang pernah dicapai tahun 2010, atau 15% di tahun 1984.

Sebaliknya secara demografis penduduk Cina mungkin akan kembali terjebak dalam perlambatan ekonomi yang bersifat permanen. Kalau sudah begitu, sekali lagi kita hanya bisa berharap supaya semua akan baik-baik saja. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.