Senin, 18 Oktober 21

Suyoto Larang Rakyatnya Jadi Penyandang Disabilitas Mental

Suyoto Larang Rakyatnya Jadi Penyandang Disabilitas Mental
* Mantan Wakil Presiden RI Budiono sempat hadir dalam acara Dialog Publik, Jumat 25 April 2014 silam.

Bojonegoro, Obsessionnews – Bupati Bojonegoro Suyoto mengimbau rakyatnya untuk tangguh di semua bidang. Terutama saat menghadapi berbagai situasi sulit, rakyat Bojonegoro dilarang menjadi penyandang disabilitas mental. Pernyataan itu diungkapkan Suyoto atau Kang Yoto di hadapan rakyat Bojonegero yang memadati acara Dialog Publik di Pendopo Malwapati, Jumat (26/2/2016).

“Kita semua lambat laun akan menjadi penyandang disabilitas karena pendengaran dan penglihatan akan semakin menurun disebabkan usia. Namun yang tidak boleh itu menjadi penyandang disabilitas mental,” kata bupati yang kerap disapa Kang Yoto itu.

Menurutnya, jika seseorang sudah menjadi penyandang disabilitas mental, maka ia akan sulit untuk menjadi orang baik. Penyandang disabilitas mental seringkali menyalahkan keadaan tanpa kontribusi nyata untuk mengubahnya.

“Lebih baik menyalakan lilin walaupun kecil daripada menyalahkan kegelapan. Bagi saya, berbicara ‘besar’ tidak ada apa-apanya sebelum ada bukti walaupun itu kecil,” imbuhnya berfilosofi.

Pembenahan mental rakyat Bojonegoro memang menjadi concern Kang Yoto sejak ia pertama kali terpilih menjadi bupati pada 2008. Rakyat di pinggiran Bengawan Solo yang paling sering menjadi korban banjir, misalnya, diajak Kang Yoto untuk tetap bahagia menghadapi banjir. Bahkan Kang Yoto membuat spanduk bertuliskan “Selamat Datang Banjir” di pinggir sungai terpanjang di Pulau Jawa itu.

Pembenahan mental juga berlaku bagi para karyawan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro. Kang Yoto yang mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik itu menggagas sebuah pelatihan yang diberi nama “Jalan Sukses Al Fatihah”. Pelatihan ini bertujuan untuk membentuk karakter para pegawai Pemkab supaya bisa bekerja secara ikhlas melayani dan memberi manfaat bagi kemajuan daerah.

Dialog Publik yang digelar setiap Hari Jumat itu, sejatinya, menjadi salah satu kreatifitas Kang Yoto untuk membuka kran komunikasi antara rakyat dan Pemkab. Kini, Pendopo Malawapati yang menjadi tempat dialog itu selalu dipadati puluhan hingga ratusan peserta. Mereka datang untuk menyampaikan aspirasi, keluhan bahkan kekecewaan langsung pada Kang Yoto dan staf-stafnya.

Menurut salah seorang peserta dialog, Roli Abdul Rokhman, acara model tatap muka seperti Dialog Publik menjadi ajang bertemunya rakyat dan bupati. Selain dapat menyalurkan langsung aspirasi, rakyat juga menjadi makin pintar dan bangga karena langsung bertemu dengan bupatinya.

“Tapi yang paling penting itu rakyat Bojonegoro merasa beruntung memiliki Kang Yoto yang kaya akan ide dan kreatifitas dalam memimpin Bojonegoro,” katanya. (Fath)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.