Rabu, 8 April 20

Semua Alat Deteksi Tsunami Tak Ada yang Aktif

Semua Alat Deteksi Tsunami Tak Ada yang Aktif
* Alat deteksi tsunami. (Foto istimewa)

Menurut Sutopo, 2-5 menit setelah gempa, InaTEWS/BMKG langsung memberikan peringatan dini secara luas kepada masyarakat sesuai alur peringatan dini tsunami. Sistem ini telah berjalan dengan baik, apalagi kalau ada buoy, pasti akan bertambah baik.

Sebab, lanjut dia, buoy ada untuk memastikan bahwa tsunami menerjang lautan sebelum pantai. Idealnya dalam tsunami early warning system, semua komponen itu tersedia baik dari hulu maupun hilir. Namun, tentu itu memerlukan peralatan dan biaya operasional cukup besar setiap tahunnya.

Buoy tsunami hanya untuk meyakinkan bahwa tsunami terdeteksi di lautan sebelum menerjang pantai. Saat tsunami sudah menerjang pantai, tinggi tsunami terdeteksi dari alat/jaringan pasang-surut dan GPS di pantai.

Sutopo juga mengatakan bahwa Indonesia saat ini memerlukan 1.000 unit sirine tsunami. Sementara sirine tsunami dari BMKG saat ini hanya ada 52 unit, jadi masih kurang 948 unit. Apalagi, dengan wilayah Indonesia yang rawan tsunami, sejak 1629 hingga sekarang tercatat ada 177 kejadian bencana besar dan kecil.

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati telah memerintahkan jajarannya untuk mengecek dan mengganti semua alat peringatan dini tsunami yang rusak. Dia juga mengatakan telah mengajukan banyak alat untuk memperbaiki kerusakan dan ketidakberfungsian alat pendeteksi tsunami tersebut. Di antaranya, alat monitoring cuaca.

”Kami mengajukan alat untuk sensor deteksi, baik gempa dan tsunami, baik monitoring cuaca, baik cuaca penerbangan ataupun cuaca maritim. Ada juga seismometer dan radar tsunami. Kami juga mengusulkan penambahan kabel laut, sensor gempa dan tsunami dasar laut,” tegasnya. (Albar)

Pages: 1 2 3

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.