Rabu, 8 April 20

Semua Alat Deteksi Tsunami Tak Ada yang Aktif

Semua Alat Deteksi Tsunami Tak Ada yang Aktif
* Alat deteksi tsunami. (Foto istimewa)

Sutopo mengungkapkan, adanya aksi vandalisme serta terbatasnya biaya pemeliharaan dan operasi membuat buoy tsunami itu menjadi tidak berfungsi. Kondisi itu tentu saja menyulitkan petugas untuk memastikan apakah tsunami benar terjadi di lautan atau tidak. Seperti pada kasus yang terjadi di Selat Sunda dan Palu.

”Saat ini kita hanya mengandalkan 5 buoy tsunami milik internasional di sekitar wilayah Indonesia, yaitu 1 unit di barat Aceh (milik India), 1 unit di Laut Andaman (milik Thailand), 2 unit di selatan Sumba dekat Australia (milik Australia), dan 1 unit lagi di utara Papua (milik AS),” jelas Sutopo.

Dia menegaskan, sebagian besar kerusakan buoy tsunami tersebut karena aksi vandalisme serta tidak adanya biaya operasi dan pemeliharaan. Menurutnya, buoy tsunami di lautan banyak yang dirusak oleh oknum. Misalnya buoy yang dipasang di Laut Banda (April 2009), namun pada September 2009 rusak dan hanyut ke utara Sulawesi.

“Saya pernah bertanya kepada BPPT tentang berapa harga satu unit buoy kalau dibeli dari Amerika. Ternyata, harganya Rp7,8 miliar. Sementara kalau kita bikin sendiri, 1 unit hanya Rp4 miliar. Ya, kalau kita butuh sekitar 25 unit untuk seluruh wilayah Indonesia, untuk buoy saja minimal butuh Rp100 miliar,” ungkap Sutopo.

Dia juga menjelaskan bahwa dalam InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), buoy tsunami hanya menjadi salah satu bagian dari peringatan dini tsunami. Tanpa buoy tsunami, peringatan dini tsunami (EWS) tetap berjalan karena peringatan dini tsunami berdasarkan permodelan yang dibangkitkan dari jaringan seismik gempa yang terdeteksi.

Pages: 1 2 3

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.