Selasa, 29 September 20

Rudi Ramli, Bank Bali, dan Djoko Tjandra

Rudi Ramli, Bank Bali, dan Djoko Tjandra
* Hendrajit. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future

KEADILAN Tuhan memang pasti akan terwujud meski makan waktu lama. Itulah yang sekarang sedang dipanen oleh Rudi Ramli, dengan tertangkapnya Djoko Tjandra. Terpuruknya Rudi Ramli dengan hilangnya Bank Bali, merupakan sebuah pelajaran penting. Betapa penting bagi pengusaha untuk memahami dinamika konflik geopolitik internasional pada masanya.

Ketika Rudi Ramli butuh suntikan dana, ada tiga aktor global yang menghampirinya seakan merupakan tiga aktor yang berseberangan dan berkompetisi satu dengan lain. Pertama, Standard Chartered Bank Inggris dan City Bank Amerika Serikat. Dan satu lagi JP Morgan yang selama ini merupakan pemain hub antara Rotchild di Eropa dan Rockefeller dari AS.

JP Morgan deal dengan Bank Bali, lalu City Bank menawarkan uluran kerja sama, juga namun minta dengan sangat jangan sampai JP Morgan tahu. Padahal bagaimana mungkin kedua bank itu bertindak tanpa sepengetahuan JP Morgan?

Namun Rudi Ramli karena merasa sudah deal duluan dengan JP Morgan, akhirnya menolak tawaran bantuan dari City Bank. Tetapi ketika skema City Bank tersebut coba diajukan ke JP Morgan dan Standard Chartered Bank, keduanya menolak skema Bank Bali Rudi Ramli, yang menurut versi cerita Rudialasannya cuma karena nggak suka pada City Bank.

Rudi tidak tahu bahwa dalam skema pemulihan bank-bank bermasalah dan perusasahaan-perusahaan yang sedang menghadapi kebangkurtan, Standard Chartered Bank dan City Banklah yang diserahi tugas mengamankan skema kapitalisme global berbasis korporasi. Dengan demikian perseteruan antara kedua bank itu cuma pura pura dan akting doang.

Ketika Rudi merasa sudah beritikad baik dengan deal bersama JP Morgan dan Standard Chartered Bank yang memang diberi wewenang menjalankan skema global menolak keikutsertaan City Bank membantu suntikan dana buat Bank Bali, nah di sinilah Rudi Ramli masuk ke babak paling rumit dalam kehidupannya baik sebagai pengusaha maupun pribadi.

Di tengah skenario jalan buntu inilah Djoko Tjandra (Djokcan) muncul seakan sebagai juru selamat. Hanya saja kalau Rudi jeli, sebenarnya dirinya sedang masuk dalam skenario operasi intelijen yang nggak ada sangkut pautnya dengan masalah mengatasi suntikan dana buat Bank Bali.

Dengan masuknya Djokcan, Rudi masuk perangkap operasi intelijen berlapis. Pertama, jadi sasaran strategis pelumpuhan Bank Bali oleh skema kepentingan kapitalisme global asing.

Kedua, sekaligus jadi sasaran antara untuk melumpuhkan Presiden BJ Habibie dari dalam. Terbukti dengan kaitan erat Djokcan dengan Baramuli dan Setya Novanto.

Hasilnya? Dalam bahasa intelijen, Operation Accomplished. Habibie akhirnya lengser meski skandal Bank Bali bukan satu-satunya faktor, dan kepemilikan Rudi Ramli atas Bank Bali lepas sudah.

Di sinilah learning point yang harus jadi hikmah buat pelaku usaha yang lurus sekalipun. Sering kali kapitalisme global dalam upaya mewujudkan kepentingannya tidak segan-segan memanfaatkan para economic hitman berkedok pengusaha macam Djokcan.

Namun Tuhan Yang Maha Kuasa seperti salah satu sifatnya yakni adil. Seperti penuturan wartawan senior kita mas Dahlan Iskan, Rudi Ramli meski hilang segalanya, bahkan termasuk istrinya yang kemudian berpaling pada Djokcan, masih hidup dan bahkan kembali segar bugar. Tidak seperti dulu pada masa kelam dalam hidupnya.

Lantas bagaimana dengan proses hukum terhadap Djokcan itu sendiri? Nah, ini perkara lain lagi yang tak kalah rumitnya. Tetaplah jadi joker yang mampu melihat menembus ilusi dan khayalan. Mampu melihat apa yang lain tak lihat karena begitu terbiasanya melihat apa yang ada di permukaan.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.