Otak Atik Kreatif untuk Siasati Dampak Kenaikan BBM agar UMKM Tetap Produktif

Otak Atik Kreatif untuk Siasati Dampak Kenaikan BBM agar UMKM Tetap Produktif
Obsessionnews.com - Kenaikan harga BBM yang berlaku mulai 3 September 2022 disikapi oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan berbagai reaksi. Kebijakan tersebut dianggap memberatkan karena sangat berimbas kepada biaya-biaya, baik bahan dasar, pengolahan atau produksi, pengiriman dan lain sebagainya yang pada akhirnya mengharuskan pelaku UMKM untuk melakukan penyesuaian harga jual. Tetapi apakah hal tersebut menjadi satu-satunya cara mensiasati harga BBM yang melambung. "Kami melakukan polling sederhana kepada komunitas UMKM yang tergabung dalam Perkumpulan Bumi Alumni (PBA) di mana anggotanya terdapat di 16 Provinsi di Indonesia, dengan berbagai macam jenis usaha atau produksi baik barang maupun jasa," ujar Pemerhati Koperasi dan UMKM Dr. Dewi Tenty S. Artiany dalam keterangan tertulisnya, Jumat (16/9/2022). Baca juga: Ini Kata Dewi Tenty Soal Seminar Pelatihan NPAK di Bandung Dari polling tersebut muncul pertanyaan yang diajukan, yakni bagaimana menyikapi kenaikan BBM? Apakah dengan menaikan harga jual?, Menyesuaikan ukuran?, Melakukan Expand market?, Berhenti berproduksi? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, beberapa pelaku UMKM setuju dengan menaikan harga jual. Hal ini terpaksa dilakukan karena biaya produksi dan distribusi mengalami kenaikan, namun penentuan harga harus dilakukan berdasarkan perhitungan HPP terbaru juga tentunya kenaikan harga tersebut sesuai dan tidak telalu signifikan. "Di bidang Fashion misalnya, menaikkan harga jual barang adalah pilihan yang tepat karena untuk produk fashion tidak bisa menyesuaikan berat atau ukuran," ucap perempuan yang akrab disapa Teh Dete ini. Baca juga: Ini 6 Catatan Dewi Tenty untuk Pelaku UMKM Dapat Bertahan di Masa Pandemi Juga terhadap produk buku bacaan penulis-penulis yang ingin meningkatkan budaya baca kepada masyarakat hanya bisa mengikuti harga cetak buku dari penerbit, apabila bahan baku naik terpaksa harga buku juga akan lebih mahal. "Cetak e-book memang lebih murah, sayangnya perlindungan hak cipta terutama untuk e-book masih lemah sekali sangat rentan di bajak, sehingga lebih aman dicetak walaupun mahal. Apalagi untuk buku anak yang berwarna," tambah Dete. Ada juga pelaku UMKM yang memilih untuk menurunkan berat (volume) atau menyesuaikan ukuran produk agar harga jual tetap sama seperti contohnya yang terjadi pada pelaku UMKM produsen kopi, di mana bahan baku dari Petani naik termasuk ongkos kirimnya, mau tidak mau harus dihitung kembali HHPnya dan memotong biaya marketing, mengurangi margin supaya tidak naik harga jualnya, dan opsi tambahan lain juga produsen dapan membuat label baru atau housebland dengan kualitas grade A. Baca juga: Dewi Tenty Wakili Indonesia di Acara Workshop APO 2021 Ada juga yang berpendapat menurunkan ukuran adalah opsi terakhir karena harga kemasan lebih kecil menurut beberapa pelaku tidak terlalu berpengaruh kepada biaya produksi," ungkap Dete. Dalam hal melakukan Expand Market, pelaku UMKM bisa memiliki target pasar yang daya belinya masih bagus, ada juga beberapa yang menggerakan mahasiswa-mahasiswa untuk tetap berkegiatan meskipun berpenghasilan kecil dengan melakukan dana usaha (danus), hal ini dapat membantu pelaku UMKM ketika agen atau reseller tidak aktif atau sedikit penjualannya. Alternatif terakhir yaitu berhenti berproduksi disikapi oleh pelaku UMKM dengan meminta pemerintah untuk meninjau ulang kenaikan harga BBM yang memicu ketidakstabilan penjualan bagi kalangan UMKM. "Stop Produksi tentunya jangan sampai terjadi, pelaku UMKM harus lebih produktif dan menciptakan produk yang inovatif juga dengan melakukan direvisikasi produk dan bisa mengandalkan customer loyalty untuk mensupport produknya," pungkasnya. (Poy)