Kecanggihan Teknologi Informasi Memberi Ruang Bersuara

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute Ada paradoks di tengah makin canggihnya teknologi informasi. Hilangnya rasa hormat orang pada keahlian dan kepakaran. Sehingga rasa hormat pada otoritas semakin terkikis. Bahwa dalam beberapa bidang tertentu, masyarakat harusnya merujuk pada kompetensi dan otoritas keahlian dan kepakaran seseorang. Bisa jadi inilah musabab munculnya krisis kewibawaan. Kelimpahan informasi dan teknologi komunikasi memberi ruang bersuara dan kepercayaan diri kepada orang-orang yang tadinya bersedia begitu saja patuh kepada pendapat dan pandangan para ahli. Namun pada segi lain, saya malah cenderung senang dengan gejala itu. Sebab dengan adanya medsos, para pakar dan ahli yang dipandang tidak sesuai dengan politik keredaksian media media arus utama, justru mendapat ruang bersuara dan berpendapat. Dan diketahui publik. Saya sendiri kalau mau jujur, membangun reputasi diri berkait dengan passion dan keahlian saya sekarang ini, dengan bantuan teknologi internet dan pada gilirannya juga medsos. Modal dasarnya sederhana. Saya tahu apa yang saya cari untuk temukan, dan saya tahu apa yang harus saya sampaikan dan bagikan pada khalayak ramai. Dulu, zaman saya mahasiswa, yang berhasil tulisannya dimuat di Kompas, jurnal Prisma, dan Tempo baru sah disebut kaum intelektual. Padahal kalau kita simak sekarang, isi tulisan hanya klangenan belaka dan tidak menggugah kesadaran baru apalagi wawasan baru. Maka itu solusi dalam menghadapi era teknologi komunikasi dan informasi yang semakin canggih saat ini, kalimat kuncinya adalah: Janganlah belajar melalui bahan-bahan di internet dan medsos. Tapi, temukanlah apa yang sedang kau cari lewat internet dan medsos. Sehingga meski sekarang sudah era e-Book PDF, namun tetaplah dalam tradisi membaca seperti sebelum era teknologi internet. Ketika membaca bukan untuk belajar lewat buku, melainkan menemukan apa yang kau cari lewat buku.




























