Tjahjo Kumolo Dapat Tugas Percepat Proses Birokrasi Reformasi

Tjahjo Kumolo Dapat Tugas Percepat Proses Birokrasi Reformasi
Jakarta, Obsessionnews.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memberi amanah kepada Tjahjo Kumolosebagai menteri di kabinet periode kedua. Di Kabinet Indonesia Majuyang diumumkan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/10/2019), Tjahjo ditunjuk sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN RB). Sedangkan di periode sebelumnya, yakni Kabinet Reformasi periode 27 Oktober 2014 – 20 Oktober 2019, ia menjadi Menteri Dalam Negeri.   Baca juga:Selesai Masa Tugas, Tjahjo Kumolo PamitanTjahjo Kumolo, Menteri Dalam Negeri RITjahjo Kumolo: Fadli Zon Ngomong Terus, Nggak Pernah Salah   Seusai dilantik Tjahjo berbicara mengenai tugas yang diamanatkan Jokowi kepada dirinya. Ia diminta Jokowi untuk mempercepat proses birokrasi reformasi. "Ke depan, sebagaimana poin-poin pidato Presiden pada saat dilantik, salah satunya adalah bagaimana untuk mempercepat proses reformasi birokrasi yang lebih nyata, lebih konkret, itu yang menjadi utama target KemenPAN RB," ujar Tjahjo dalam sambutannya saat serah terima MenPAN RB di Kantor Kementerian PAN RB, Rabu (23/10). Menurutnya, penyederhanaan birokrasi dengan cara memangkas sejumlah eselon merupakan cara yang cukup strategis. Ia mengatakan hal itu butuh koordinasi oleh beberapa kementerian lembaga yang ada. Sehingga ia mengajak semua pihak untuk bekerja keras dalam hal ini. "Mari kita memeras pikiran, tenaga, berkoordinasi dengan kementerian yang lain, karena tercatat kementerian-kementerian kita tuh tidak sama," tandasnya. Selain reformasi birokrasi, hal lain yang akan segera diperhatikan Tjahjo yaitu menghadirkan inovasi-inovasi kelembagaan, termasuk inovasi di tataran sumber daya manusia. Tjahjo mengungkapkan, selama ini Syafruddin selaku pendahulunya di KemenPAN RB telah melakukan kerja sangat baik dalam hal pengelolaan ASN. Syafruddin telah membawa lembaga-lembaga di Indonesia menjadi yang terbaik di dunia. "Ini kami menyampaikan terima kasih, satu tahun ini Pak Syafruddin mampu membawa inovasi lembaga yang ada di negara kita menjadi terbaik di dunia," katanya. Selebihnya Tjahjo akan melanjutkan beberapa program yang sudah dilaksanakan oleh Syafruddin agar lebih baik dan berdampak lebih besar lagi bagi Indonesia. "Ini akan terus kita selesaikan dengan baik, sehingga sistem tata kelola pemerintahan yang memang benar-benar smart, terbuka, ini akan bisa semakin dirasakan oleh negara kita," tegasnya. Halaman selanjutnyaPolitisi Fenomenal Tjahjo Kumolo merupakan salah seorang figur politisi fenomenal yang dimiliki Indonesia.  Ia memiliki jam terbang yang tinggi di dunia politik dan mencetak prestasi gemilang. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, tahun 1985 ini terjun ke pentas politik di era Orde Baru (Orba). Tjahjo menjatuhkan pilihannya bergabung dengan Golkar yang saat itu merupakan partai terbesar. Partai berlambang pohon beringin yang identik dengan Orba ini memberinya kesempatan menjadi calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 1987. Tjahjo tidak menyia-nyiakan peluang emas tersebut. Dan ia berhasil melenggang ke Senayan, sebutan populer untuk Gedung MPR/DPR yang berlokasi di Senayan, Jakarta Pusat. Ia menjadi anggota DPR periode 1987-1992. Karena dinilai berkinerja apik Golkar kembali memberinya kepercayaan pada Tjahjo menjadi caleg pada Pemilu 1992. Ia kembali menunjukkan kepiawaiannya, terpilih menjadi wakil rakyat masa bakti 1992-1997. Selanjutnya Tjahjo maju kembali pada Pemilu 1997 melalui kendaraan yang sama. Dan untuk ketiga kalinya mantan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) tahun 1990-1993 ini berhasil menjadi anggota DPR. Semula para anggota DPR hasil Pemilu 1997 akan menjalankan tugasnya lima tahun, yakni 1997-2002. Namun, situasi ini kemudian berubah. Pada 21 Mei 1998 pemerintahan Orba yang berkuasa selama 32 tahun tumbang yang ditandai dengan pengunduran diri Presiden Soeharto. Wakil Presiden BJ Habibie naik menggantikan Soeharto dengan membentuk Kabinet Reformasi Pembangunan. Habibie membuat sejumlah kebijakan, dua di antaranya adalah mempercepat pemilu dari tahun 2002 menjadi 1999, dan mengizinkan berdirinya partai-partai baru. Tak lama setelah Habibie berkuasa Tjahjo memutuskan hengkang dari partai beringin tahun 1998. Ia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pimpinan Megawati Soekarnoputri. Pada Pemilu 1999, yang merupakan pemilu pertama di era reformasi, Tjahjo yang berkendaraan PDI-P menjadi caleg. Melalui partai barunya ini Tjahjo terpilih menjadi anggota DPR periode 1999-2004. Prestasi manis kembali dipetiknya secara beruntun pada Pemilu 2009 dan Pemilu 2014. Ini berarti sejak era Orde Baru hingga era reformasi pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 1 Desember 1957 ini terpilih menjadi anggota DPR selama tujuh periode. Tjahjo menduduki posisi Ketua DPP PDI-P pada periode 2005-2010. Selanjutnya Megawati menunjuknya sebagai Sekretaris Jenderal DPP PDI-P periode 2010-2015. Kariernya semakin bersinar ketika dia dipercaya menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dalam pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) - Jusuf Kalla (JK) periode 2014-2019. Saat menjadi Mendagri Tjahjo antara lain sukses mengawal Pilkada serentak 2015 dan 2017, serta Pemilu serentak 2019. Berkat kinerjanya yang kinclong tersebut  Jokowi kembali merekrutnya sebagai menteri. Kali ini Tjahjo mendapat tugas baru sebagai MenPAN RB. (arh)