Ponidi Pengubah Wajah Pendidikan Dasar di Muara Kaman

Ponidi Pengubah Wajah Pendidikan Dasar di Muara Kaman
Kutai Kartanegara, Obsessionnews.com -  Sebanyak 13 sekolah dasar (SD) di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sekitar enam bulan belakangan ini mulai berubah.  Mereka secara rutin melakukan program membaca senyap selama 15 menit, menjalankan strategi mendekatkan buku pada siswa dengan membangun pojok-pojok baca, taman baca dan lain-lain. Para guru juga menerapkan pembelajaran aktif yang membuat proses belajar menjadi menyenangkan dan siswa semakin betah di sekolah.   Baca juga:Jumpa Kopi Strategi SMPN 4 Tenggarong Buat Koleksi Buku Selalu BaruKurangi Pemanasan Global, SMPN 04 Tenggarong Tanam PohonAlumni ITS Dorong Penggunaan Energi Terbarukan di Ibu Kota yang BaruKaltim Ideal Jadi Ibu Kota Baru Indonesia   Perubahan wajah pendidikan dasar tersebut tak lepas dari perjuangan seorang pengawas di daerah tersebut. Namanya Ponidi. Sebagai pengawas ia agak risau melihat guru-guru di bawah pengawasannya  belum mampu membuat perencanaan mengajar dengan baik. “Mengajar itu seperti membuat film yang bagus. Jadinya perlu skenario yang juga bagus. Film yang bagus itu yang mempunyai alur yang menyenangkan, membuat penonton penasaran dan akhirnya  diingat terus menerus. Nah, demikian juga mengajar, punya langkah dan proses yang harus membuat siswanya juga demikian. Harus punya skenario yang matang yang mengantar siswa menguasai banyak kompetensi,“ ujar Ponidi seperti dikutip obsessionnews.com dari keterangan tertulis Comm Specialist Tanoto Foundation Kaltim Mustajib, Jumat (18/10/2019). [gallery link="file" columns="1" size="full" ids="293904"] Ponidi mendapati guru-guru meng-copi paste rencana persiapan mengajarnya dari internet, dan jarang membuat sendiri. “Nah kadang juga copy paste rencana mengajar itu juga tidak dilaksanakan di kelas. Akhirnya guru mengajar tanpa langkah-langkah yang strategis dan bermakna. Ia hanya mengikuti nalurinya saja,” tutur salah seorang fasilitator program PINTAR Tanoto Foundation ini. Halaman selanjutnya Setelah mengikuti pelatihan PINTAR, Ponidi menjadi tahu apa yang harus dilakukan untuk menghapus kecenderungan guru-guru seperti itu. Program PINTAR merupakan program pelatihan yang dikhususkan untuk pendidikan dasar hasil kerja sama antara Tanoto Foundation, Kementerian Agama (Kemenag), dan pemda setempat lewat Dinas Pendidikan. Ia ingin juga para guru tersebut mendapatkan pelatihan yang menurutnya sangat bermakna. “Dengan pelatihan program PINTAR, kita sebagai pendidik menjadi tahu dengan lebih gampang bagaimana cara membuat rencana persiapan mengajar yang alurnya menarik dan menyenangkan siswa,” tuturnya antusias. Untuk mewujudkan pelatihan tersebut ia menghubungi kelompok kerja kepala sekolah dan juga kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Muara Kaman. Pelatihan tiga hari akhirnya berlangsung sukses dengan menggunakan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Setelah itu untuk memastikan  pelatihan benar-benar dilaksanakan di sekolah, sebagai pengawas Ponidi berkeliling melakukan penguatan dan pendampingan. Ia sering melakukan pertemuan dengan para guru, me-review kembali materi pelatihan, meninjau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), melihat kegiatan guru di kelas, meninjau pelaksanaan budaya baca dan peran serta masyarakat di sekolah. Yang didatangi secara intensif bukan cuma sekolah-sekolah di bawah pengawasannya, tapi semua sekolah yang pernah dilatih. “Pak Ponidi sering sekali datang ke sekolah kami untuk menguatkan pelatihan kemarin, walau sekolah kami bukan di bawah mandat pengawasannya,” ujar Iskandar, kepala sekolah SDN 029 Muara Kaman, memberikan kesaksian. [caption id="attachment_293905" align="alignleft" width="360"] Pondok baca di SDN 008 Muara Kaman yang muncul setelah diseminasi program PINTAR. (Foto: Tanoto Foundation)[/caption] Berkat kerja keras pak Ponidi didukung oleh Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan UPTD Muara Kaman, dampak diseminasi program PINTAR  mulai tampak di 13 sekolah tersebut.  Di SDN 025, misalnya, orang tua siswa kelas 2 bergotong royong membuat sudut baca dan menghias kelas. Hal yang sama dilakukan oleh SDN 029, yang lebih jauh menghias setiap bangku kelas dengan taplak meja yang cantik. Di SDN 008, para orang tua siswa membangun taman baca dari ban bekas dan menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah lain. Bahkan taman Baca di SDN 028 diresmikan langsung oleh Bupati Kutai Kartanegara. “Saya bersyukur bahwa banyak perubahan nyata di sekolah-sekolah diseminasi program PINTAR. Siswa sekarang lebih suka membaca buku, aktif dan lebih berani tampil ke depan untuk tampil presentasi. Sangat penting mempersiapkan anak didik disini dengan baik, karena kita dekat dengan calon lokasi ibu kota negara yang baru,” ujar Ponidi. Yang paling menyenangkan baginya sekarang adalah tidak ada guru di sekolah-sekolah tersebut yang download rencana pelaksanaan pembelajaran dari internet. “Mereka bahkan bilang, yang dari internet itu sebenarnya lebih susah dilaksanakan dibanding yang mereka buat sendiri sesuai konteks sekolah,” ujarnya senang. (arh)