Indonesia Miliki Pertumbuhan Ekonomi Digital Tertinggi di ASEAN

Jakarta, Obsessionnews.com - Revolusi industri 4.0 merupakan sebuah lompatan besar di sektor industri, dengan ditandai teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya. Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilai guna mencapai efisiensi yang setinggi-tingginya sehingga melahirkan model bisnis yang baru dan berbasis digital. Hal itu dikemukakan Menteri PerindustrianAirlangga Hartarto pada acara bedah buku Merajut Asa, Membangun Industri Menuju Indonesia yang Sejahtera dan Berkelanjutan di Jakarta, Senin (14/10/2019). Buku tersebut ditulis oleh Airlangga. Baca juga:Berani Berinovasi Demi Kemajuan Industri IndonesiaAirlangga Gelorakan Asa Bangun Industri NasionalIndonesia Akan Pamer Kemampuan Industri 4.0 di Hannover Messe 2020Menperin Dorong Industri Batik Ramah terhadap LingkunganPacu Kreativitas dan Inovasi, Kemenperin Dukung Industri Modifikasi Kendaraan “Sejak tahun 2011 kita telah memasuki revolusi industri generasi keempat. Secara global revolusi industri 4.0 ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi dan semakin konvergensinya batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya melalui teknologi informasi dan komunikasi,” terangnya. Untuk melangkah ke sana, sektor industri nasional perlu melakukan banyak pembenahan, terutama dalam aspek penguasaan infrastruktur serta teknologi informasi dan komunikasi yang menjadi kunci utama penentu daya saing di era industri 4.0. Baca juga:Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian RIBest Achiever In Ministry Airlangga Hartarto (Menteri Perindustrian RI)Airlangga Hartarto Terima Penghargaan ‘Obsession Awards 2018’ Kategori ‘Best Achiever in Ministries’ Berbeda dengan revolusi-revolusi sebelumnya, menurut Airlangga, industri 4.0 lebih demokratis dan tidak mengenal superioritas teknologi. Artinya, negara mana pun bisa melakukan transformasi struktural, termasuk Indonesia bisa menjadi leading di ASEAN. “Apalagi kita punya safety factor, yakni pasar domestik,” ujarnya. Ia menambahkan, bila Indonesia dapat merebut momentum bonus demografi yang dimiliki, pertumbuhan ekonominya dapat semakin meningkat. “Digital become the new norm, kita tidak bisa lepas dari kehidupan digital. Kita bangun tidur cek WA, ke kantor dengan Gojek atau Grab, di kantor cek email dan kirim file lewat WA atau Telegram, termasuk menggunakan Itunes atau Spotify yang mempengaruhi lifestyle kita,” sebutnya. Oleh karena itu Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi digital yang tertinggi di ASEAN. Ini menjadi potensi bagi Indonesia dalam merebut peluang ekonomi digital. Berdasarkan laporan Google-Temasek, digital ekonomi atau internet ekonomi di Indonesia tahun ini telah mencapai USD40 miliar, naik lima kali lipat dibanding tahun 2015 sebesar USD8 miliar. “Angka USD40 miliar tersebut menegaskan posisi Indonesia sebagai The Biggest Internet Economy di kawasan ASEAN, jauh meninggalkan negara-negara lainnya di ASEAN. Kita harus bisa mendorong inovasi untuk menambah lagi peluang di era Industri 4.0. Inilah yang membedakan ekonomi berbasis capital goods dengan yang didukung oleh kesempatan,” tandasnya. (arh)





























