Kisah Tongkat Sunan Kalijaga yang Berubah Jadi Pohon Angsa

Jakarta, Obsessionnews.com - Sebuah perkampungan di Semaken 1, Banjararum, Kalibawang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi saksi bisu sepak terjang salah satu tokoh Walisongo, yakni Sunan Kalijaga. Di sini lah masjid peninggalan Sang Sunan dibangun. Bahkan masjid ini disebut lebih tua dibandingkan Masjid Demak. Baca juga:Kisah 99 Kera Penjaga Situs Sunan Kalijaga di CirebonTidak Banyak yang Tahu, Ini Asal Usul Gambar Sunan KalijagaDosen UIN Sunan Kalijaga Ungkap Intoleransi Karya Nuruddin Ar-Raniri Masjid yang diyakini sebagai masjid tertua di Kulon Progo itu bernama Masjid Kedondong. Takmir Masjid Kedondong, Solihudin Qosim mengatakan, awal mula pembangunan masjid ini dimulai saat Sunan Kalijaga melakukan pengembaraan hingga beristirahat di dekat Sungai Tinalah yang berada di sebelah barat masjid. Saat beristirahat, Sunan Kalijaga meminta muridnya yang bernama Adipati Terung untuk membangun masjid. Sunan Kalijaga menandai lokasi dengan menancapkan tongkatnya untuk dibangun masjid. Ia kemudian pergi melanjutkan perjalanan. "Sunan Kalijaga memerintahkan untuk membangun masjid. Setelah itu memberikan tanda seperti tongkat untuk didirikan bangunan itu. Lalu sunan Kalijaga melanjutkan perjalanan ke Demak," ujar Qosim, seperti dikutip dalam situs liputan6.com, Rabu (10/7/2019) Qosim mengatakan setelah mendapat perintah dari Sunan Kalijaga itu lalu Adipati Terung ini kemudian menggesar tongkat yang ditandai Sunan Kalijaga. Sebab, ia khawatir masjid itu bisa terkikis oleh Sungai Tinalah karena lokasinya yang berdekatan. Adipati Terung, menggeser tanda itu ke timur sekitar 100 meter dari tetenger. Bangunan masjid akhirnya didirikan tidak sesuai anjuran Sunan Kalijaga. Namun, rupanya pembangunan masjid itu membuat Sunan Kalijaga kecewa. "Lalu, ketika Sunan Kalijaga kembali ke sini, ia kecewa karena tidak sesuai dengan perintahnya. Masjid belum selesai dan belum diberi atap," ujarnya. "Ia berkata 'bodho temen opo wis tak tetenger ora dilaksanakan masjid ora dikei tutup atau atap ( bodoh sekali, udah dikasih tanda tidak dilaksanakan, masjid ga dikasih atap)', akhirnya dikasih daun alang-alang," tambah Qosim. Karena sikap Adipati Terung yang tidak mendengarkan perintah Sunan Kalijaga itu, ia lalu dipanggil dengan nama Adipati Bodho atau Panembahan Bodho. Sebab, ternyata lokasi tetenger dari Sunan Kalijaga masih jauh dari Sungai Tinalah. Bahkan, di dekat tetenger itu juga muncul belik atau mata air yang hingga saat ini airnya masih keluar. "Di sebelah pohon, ada belik. Itu pertimbangan dari Sunan Kalijaga," ujarnya. Qosim menceritakan tetenger berupa tongkat dari Sunan Kalijaga saat ini masih ada. Namun, tongkat itu tumbuh subur menjadi pohon Angsana yang terlihat dari masjid. "Tanda itu masih dan tumbuh menjadi pohon Angsana dan subur di sebelah barat masjid," ujarnya. (Albar)





























