Batam Ditetapkan Sebagai Tuan Rumah Kontes Miss Tourism Worldwide 2019

Jakarta, Obsessionnews.com - Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), ditetapkan sebagai tuan rumah kontes kecantikan internasional Miss Tourism Woldwide 2019 yang diikuti puluhan peserta perwakilan dari berbagai negara di dunia. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Rizki Handayani mengatakan, ajang kecantikan dunia ini akan diikuti sekitar 30 kontestan dari berbagai negara. Baca juga:Nikmatnya Sup Ikan Tenggiri di RM Yong Kee Batam Pulau Ranoh Surga Tersembunyi di BatamUntuk Pertama Kali Kemenkop Berikan Bantuan WP ke UKM Batam Kontes yang akan digelar pada 22 September 2019 di Pacific Palace Hotel Batam, itu akan meliputi banyak agenda seperti program pertunjukan bakat, pertukaran budaya, kostum nasional, dan masih banyak lagi. “Dipilihnya Batam sebagai tuan rumah penyelenggaraan Miss Tourism Worldwide 2019 menjadi bukti kualitas pariwisata Indonesia yang semakin dianggap memiliki semua aspek pendukung elemen pariwisata berkelas dunia. Peserta dan pengunjung akan mendapatkan pengalaman terbaiknya selama di Batam. Ada banyak destinasi yang bisa dikunjungi baik di Batam maupun wilayah Kepri secara umum,” tutur Rizki melalui keterangan tertulis, Rabu (26/6). Batam lanjut Rizki dinilai mampu menarik minat pengunjung dalam jumlah besar. Dengan kata lain Batam memiliki kemampuan mengelola event besar skala internasional. “Kami optimistis Miss Tourism Worldwide 2019 akan sukses digelar di Batam. Destinasi ini sudah punya pengalaman luar biasa untuk menangani event-event besar sekelas Miss Tourism Worldwide 2019. Di Batam, penyelenggaraan Miss Tourism Worldwide 2019 akan lebih menarik. Sebab, destinasi Batam dan Kepri banyak menawarkan pengalaman terbaik,” tandasnya. Baca halaman berikutnyaJembatan Barelang dan Camp Vietnam Di Batam terdapat sejumlah objek wisata yang menyedot perhatian wisatawan, antara lain Jembatan Barelang dan Camp Vietnam. Jembatan Barelang merupakan singkatan dari Batam, Rempang, dan Galang) di Kota Batam. Jembatan ini menghubungkan beberapa pulau, yakni Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru. Baca juga:Berkat Pariwisata Perekonomian Kepri MeningkatDukung Target 20 Juta Wisman, Kemenpar Promosikan Hot Deals Kepri 2019Berwisata Ke Camp VietnamCamp Vietnam, Bukti Peran Indonesia dalam Misi Kemanusiaan Sementara itu Camp Vietnam yang terletak di Pulau Galang merupakan bekas penampungan orang-orang Vietnam. Perang saudara di Vietnam pada pertengahan tahun 1970-an menyebabkan sekitar 250 ribu orang melarikan diri lewat laut untuk menyelamatkan diri. Dan mereka dikenal sebagai manusia perahu. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjuk Indonesia menampung manusia-manusia perahu itu. [caption id="attachment_284662" align="alignnone" width="640"]
Perahu yang dipakai para pengungsi Vietnam ke Pulau Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau. (Foto: dok. pribadi Arif RH)[/caption] Indonesia saat itu satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memberikan respons terhadap masalah kemanusian berskala internasional. Karena letak Galang strategis, maka dipilih sebagai tempat transit para pengungsi Vietnam. Sambil menunggu mereka secara administratif diproses untuk dikirim ke negara ketiga. Pengungsi pertama yang yang mendarat di Indonesia adalah di Kepulauan Natuna bagian utara pada 22 Mei 1975, sebanyak 75 orang. Pengungsi yang jumlahnya masih sedikit ini awalnya ditampung oleh masyarakat setempat, hingga akhirnya perahu-perahu pengungsi lain juga berdatangan, termasuk di Kepulauan Anambas dan Pulau Bintan. Gelombang pengungsi ini menarik perhatian Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan pemerintah Indonesia. Setelah mengevaluasi beberapa pulau di sekitar Pulau Bintan, berdasarkan alasan kemudahan menyalurkan pengungsi ke negara ketiga, akhirnya diputuskanlah Pulau Galang sebagai tempat penampungan sementara. Di Pulau Galang para pengungsi Vietnam meneruskan hidupnya hingga tahun 1995, sampai akhirnya mereka mendapat suaka di negara-negara maju yang mau menerima mereka ataupun dipulangkan ke Vietnam. Para pengungsi tersebut hidup terisolasi di dalam area seluas 80 hektar dan tertutup interaksinya dengan penduduk setempat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan, pengaturan, penjagaan keamanan, sekaligus untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang dibawa para pengungsi. (arh)
Perahu yang dipakai para pengungsi Vietnam ke Pulau Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau. (Foto: dok. pribadi Arif RH)[/caption] Indonesia saat itu satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memberikan respons terhadap masalah kemanusian berskala internasional. Karena letak Galang strategis, maka dipilih sebagai tempat transit para pengungsi Vietnam. Sambil menunggu mereka secara administratif diproses untuk dikirim ke negara ketiga. Pengungsi pertama yang yang mendarat di Indonesia adalah di Kepulauan Natuna bagian utara pada 22 Mei 1975, sebanyak 75 orang. Pengungsi yang jumlahnya masih sedikit ini awalnya ditampung oleh masyarakat setempat, hingga akhirnya perahu-perahu pengungsi lain juga berdatangan, termasuk di Kepulauan Anambas dan Pulau Bintan. Gelombang pengungsi ini menarik perhatian Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan pemerintah Indonesia. Setelah mengevaluasi beberapa pulau di sekitar Pulau Bintan, berdasarkan alasan kemudahan menyalurkan pengungsi ke negara ketiga, akhirnya diputuskanlah Pulau Galang sebagai tempat penampungan sementara. Di Pulau Galang para pengungsi Vietnam meneruskan hidupnya hingga tahun 1995, sampai akhirnya mereka mendapat suaka di negara-negara maju yang mau menerima mereka ataupun dipulangkan ke Vietnam. Para pengungsi tersebut hidup terisolasi di dalam area seluas 80 hektar dan tertutup interaksinya dengan penduduk setempat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan, pengaturan, penjagaan keamanan, sekaligus untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang dibawa para pengungsi. (arh)




























