Pujon Kidul Sukses Kelola Dana Desa

Malang, Obsessionnews.com – Nama Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, saat ini menjadi populer di Indonesia. Hal ini berkat keberhasilannya mengelola dana desa. Hal ini membuat Pujon Kidul mendapat siraman pujian dari berbagai kalangan. Baca juga:Hingga 2024 Pemerintah Bertekad Salurkan Dana Desa Rp400 TriliunDPR Dukung Dana Desa Digunakan Untuk Modal Usaha UMKMKejagung Siap Kawal Penyaluran Dana Desa Dana desa yang digunakan untuk mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) telah berhasil menyulap desa ini menjadi lokasi wisata yang menyedot ribuan pengunjung setiap harinya. Kepala Desa Pujon Kidul Udi Hartoko mengatakan, BUMDes telah berhasil meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) hingga lebih dari Rp1,3 miliar pada 2018. Padahal sebelumnya PADes hanya berkisar Rp30-40 juta per tahun. Tahun ini Udi meyakini mampu meraih PADes hingga Rp2,5 miliar. “Tahun 2011 saat saya baru menjadi Kepala Desa, PADes kita hanya berkisar antara Rp20-30 juta per tahun. Ada peningkatan signifikan ketika kita mulai mengelola dana desa. Kita mendirikan BUMDes, kita manfaatkan potensi, kita gerakkan seluruh masyarakat. Tahun 2017 PADes kita meningkat menjadi Rp162 juta, tahun 2018 Rp 1 Miliar lebih, langsung melonjak drastis,” tutur Udi seperti dikutip dari keterangan tertulis Kemendesa. Baca juga:Korupsi Dana Desa, Kepala Desa di Kebumen Masuk BuiApes! Ratusan Juta Dana Desa DirampokDPD RI: Dana Desa Belum Optimal Baca halaman berikutnya Pujon Kidul memiliki aneka wahana menarik dengan nuansa asri perdesaan, seperti kafe sawah, hasil panen pertanian, memerah susu sapi, kolam renang untuk anak-anak, off road, hingga wisata berkuda. Tidak hanya itu. Desa wisata ini pun memiliki banyak spot selfie yang sangat menarik. Wisatawan yang berkunjung tak sedikit jumlahnya, rata-rata 3.000 pengunjung saat hari kerja dan 5.000 pengunjung saat hari libur. Baca juga:Mendagri: Rp 80 Triliun Dana Desa Dikucurkan, Tapi Pembangunan Desa Belum TampakDana Desa Bisa Digunakan untuk Pengentasan StuntingSoal Dana Desa, Para Bupati Tolak Utusan Menteri Desa Luas Pujon Kidul 330 hektare. Tanaman masyarakat dijadikan wisata petik apel, wisata petik sayur, sehingga hasil pertanian warga juga menjadi mahal harganya. “Di desa ini juga banyak yang berprofesi sebagai peternak sapi perah. Kita ingin ada nilai tambah untuk peternak ini. Kemudian kita ingin meningkatkan derajat petani dan peternak. Ketika orang kota datang ke peternak untuk memerah sapi, masyarakat desa bangga karena anak kota belajar dengan masyarakat desa,” kata Udi. Ia menambahkan, prinsipnya dalam mengembangkan BUMDes tak hanya bagaimana BUMDes dapat meningkatkan omzet dan PADes. Menurutnya, prinsip utamanya adalah bagaimana BUMDes dapat memberikan dampak kepada aktifitas ekonomi masyarakat. Sejak berdirinya Desa Wisata ini, masyarakat memiliki ragam usaha tambahan seperti homestay, sewa kuda, wisata pertanian, wisata ternak, dan sebagainya. “Jangan sampai BUMDes besar, masyarakat tidak bergerak. Jangan sampai jalan lurus, bagus, tetapi urbanisasi masif, kemiskinan tidak menurun, pengangguran juga demikian. Tapi bagaimana BUMDes ini berjalan bersama masyarakat menata ekonomi yang memberikan dampak lebih luas kepada masyarakat,” tandasnya. Baca juga:FOTO Apkasi dan Kemendes Bahas Dana DesaPrioritas Dana Desa Untuk Mengurangi Pengangguran ?Menuju Kemerdekaan Dana Desa Udi menjelaskan, keputusan mendirikan BUMDes berawal dari hasil pemetaan desa terkait kebutuhan pembangunan desa yang mencapai Rp21 Miliar. Kebutuhan tersebut menuntut desa untuk memiliki PADes yang tinggi, sehingga tak hanya mengandalkan dana desa. Berangkat dari permasalahan tersebut dalam forum musyawarah desa, perangkat desa bersama masyarakat sepakat untuk mendirikan BUMDes. “Dampak dana desa sangat signifikan. Tahun 2014 kita mapping, kita lakukan pemetaan untuk mengetahui apa sih yang dibutuhkan masyarakat, sehingga kita hitung kebutuhannya. Untuk pembangunan fisik saja kebutuhannya Rp21 miliar. Proses itu kita sampaikan kepada masyarakat, kita ajak masyarakat berpikir, kalau hanya hanya mengandalkan dana desa, kita butuh waktu lama, 21 tahun. Akhirnya kita sampaikan bahwa kita perlu meningkatkan PADes, caranya ya hanya melalui BUMDes,” cetusnya. Keberhasilan Pujon Kidul mengelola dana desa tentu menjadi sumber inspirasi bagi desa-desa lainnya. (red/arh)





























