Perempuan yang Menjahit Kebangsaan Indonesia

Oleh: Emi Sulyuwati (Ketua Umum Gerak Indonesia) Republik Indonesia akan genap berusia 71 tahun pada 17 Agustus 2016. Setiap warga Negara Indonesia akan diingatkan lagi oleh peristiwa detik-detik proklamasi yang ditokohi oleh dwitunggal Sukarno-Hatta. Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang bersama kibaran bendera Merah-Putih. Dari tahun ke tahun, peristiwa nasional yang sakral ini selalu diperingati. Tetapi banyak orang lupa kepada Ibu Fatmawati. Seorang perempuan tegar yang menguatkan tekad Sukarno untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dan menjahit bendera Merah-Putih yang di kemudian hari menjadi Bendera Pusaka. Ide Presiden Joko Widodo untuk melakukan perarakan Bendera Pusaka dari Monumen Nasional menuju Istana Merdeka adalah sesuatu yang luar biasa. Tetapi, meletakkan penghormatan kepada Ibu Fatmawati harus disertakan agar perannya dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia tak terpinggirkan. Peran Ibu Fatmawati dalam proklamasi bahkan nyaris terlupakan jika penganugerahan gelar Pahlawan Nasional tak diberikan oleh mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 118/TK/2000 pada 4 November 2000. Orde Baru memang terlalu memusuhi segala hal terkait Sukarno. Maka kepahlawanan Ibu Fatmawati tak boleh sekadar dilekatkan pada jasanya yang menjahit Bendera Pusaka. Tetapi lebih dari itu, karakter dan semangat kebangsaannya sebagai perempuan telah menjahit Indonesia yang tercerai-berai menjadi sebuah kesatuan. Indonesia yang bersatu dan berdaulat tak bisa dilepaskan dari peran Ibu Fatmawati. Ibu Fatmawati dan Bung Karno tak pernah merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Sebab bagi mereka, persoalan itu terlalu remeh jika dibandingkan dengan persoalan-persoalan besar dan hebat yang terkait dengan keutuhan Indonesia. [caption id="attachment_144590" align="aligncenter" width="640"]
Gerak Indonesia lakukan ziarah ke makam Ibu Fatmawati di TPU Karet Bivak Jakarta[/caption] Bahkan, sebelum Ibu Fatmawati meninggal pada 14 Mei 1980 di General Hospital Kuala Lumpur, ia masih ingat Indonesia. Di saat-saat terakhir ia masih sempat berpesan, “Aku memohon supaya diberi oleh Tuhan, keberanian dan melanjutkan perjuangan fi sabilillah. Aku berdoa untuk cita-cita seperti semula, yaitu cita-cita Indonesia Merdeka. Jangan sampai terbang Indonesia Merdeka." Indonesia Merdeka tak boleh berhenti pada slogan belaka. Indonesia Merdeka harus menghadirkan kesetaraan seperti yang ditunjukkan oleh Ibu Fatmawati sepanjang hidupnya. Ia tak mau ditindas, ia tak mau diremehkan hanya karena dirinya seorang perempuan. Telah banyak Perempuan Indonesia saat ini yang berdiri di barisan terdepan sebagai pemimpin dalam bidangnya masing-masing. Sayangnya, keberadaan mereka masih kerap dihalangi oleh para perusak kebangsaan Indonesia yang menganggap bahwa perempuan tak pantas menjadi pemimpin. Sebuah anggapan usang yang telah ditertawakan oleh kemajuan jaman. Bahkan, di kota sebesar Jakarta pun masih terdengar suara-suara sumbang akan kehadiran pemimpin perempuan. Padahal Jakarta membutuhkan sosok Ibu yang tak sekadar mau mendengar dan mengayomi, tetapi juga tegas, disiplin, serta dapat memberi contoh-contoh tindakan baik kepada rakyatnya. Segala upaya untuk menistakan perempuan harus kita lawan bersama-sama. Sebab esensi dari hal tersebut adalah niat untuk mengoyak Merah-Putih, niat untuk memorak-porandakan kebhinekaan yang telah kita jaga selama ini. Sudah tercatat dalam sejarah bahwa sosok perempuan pun bisa memberikan kehidupan lebih baik bagi banyak orang sehingga kehadiran pemimpin perempuan di Jakarta layak diperjuangkan. Hari ini, 16 Agustus 2016, satu hari menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia, Gerak Indonesia menyerukan kepada Pemerintah Indonesia untuk mengajarkan nilai-nilai dan karakter kebangsaan yang dimiliki Ibu Fatmawati kepada seluruh rakyat Indonesia. Sehingga akan ada lagi perempuan penerus Ibu Fatmawati, “Pahlawan yang Menjahit Kebangsaan Indonesia” yang mampu menjaga kebhinekaan dan kebangsaaan Indonesia. (*) [caption id="attachment_144589" align="aligncenter" width="640"]
Gerak Indonesia lakukan ziarah ke makam Ibu Fatmawati di TPU Karet Bivak Jakarta[/caption]
Gerak Indonesia lakukan ziarah ke makam Ibu Fatmawati di TPU Karet Bivak Jakarta[/caption] Bahkan, sebelum Ibu Fatmawati meninggal pada 14 Mei 1980 di General Hospital Kuala Lumpur, ia masih ingat Indonesia. Di saat-saat terakhir ia masih sempat berpesan, “Aku memohon supaya diberi oleh Tuhan, keberanian dan melanjutkan perjuangan fi sabilillah. Aku berdoa untuk cita-cita seperti semula, yaitu cita-cita Indonesia Merdeka. Jangan sampai terbang Indonesia Merdeka." Indonesia Merdeka tak boleh berhenti pada slogan belaka. Indonesia Merdeka harus menghadirkan kesetaraan seperti yang ditunjukkan oleh Ibu Fatmawati sepanjang hidupnya. Ia tak mau ditindas, ia tak mau diremehkan hanya karena dirinya seorang perempuan. Telah banyak Perempuan Indonesia saat ini yang berdiri di barisan terdepan sebagai pemimpin dalam bidangnya masing-masing. Sayangnya, keberadaan mereka masih kerap dihalangi oleh para perusak kebangsaan Indonesia yang menganggap bahwa perempuan tak pantas menjadi pemimpin. Sebuah anggapan usang yang telah ditertawakan oleh kemajuan jaman. Bahkan, di kota sebesar Jakarta pun masih terdengar suara-suara sumbang akan kehadiran pemimpin perempuan. Padahal Jakarta membutuhkan sosok Ibu yang tak sekadar mau mendengar dan mengayomi, tetapi juga tegas, disiplin, serta dapat memberi contoh-contoh tindakan baik kepada rakyatnya. Segala upaya untuk menistakan perempuan harus kita lawan bersama-sama. Sebab esensi dari hal tersebut adalah niat untuk mengoyak Merah-Putih, niat untuk memorak-porandakan kebhinekaan yang telah kita jaga selama ini. Sudah tercatat dalam sejarah bahwa sosok perempuan pun bisa memberikan kehidupan lebih baik bagi banyak orang sehingga kehadiran pemimpin perempuan di Jakarta layak diperjuangkan. Hari ini, 16 Agustus 2016, satu hari menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia, Gerak Indonesia menyerukan kepada Pemerintah Indonesia untuk mengajarkan nilai-nilai dan karakter kebangsaan yang dimiliki Ibu Fatmawati kepada seluruh rakyat Indonesia. Sehingga akan ada lagi perempuan penerus Ibu Fatmawati, “Pahlawan yang Menjahit Kebangsaan Indonesia” yang mampu menjaga kebhinekaan dan kebangsaaan Indonesia. (*) [caption id="attachment_144589" align="aligncenter" width="640"]
Gerak Indonesia lakukan ziarah ke makam Ibu Fatmawati di TPU Karet Bivak Jakarta[/caption] 



























