Hentikan Permainan Harga Ayam Potong!

Bandung, Obsessionnews - Sabtu pagi (2/1/2016), tak satu pun pedagang ayam potong di eks pasar SB Cicadas Bandung berjualan. Kenaikan harga ayam potong yang mencapai Rp38 - 40 ribu per kg sejak libur akhir tahun, membuat sejumlah pedagang ayam potong malas untuk berjualan, selain harga yang tinggi resiko saat tidak laku menjadi penyebab mereka enggan berjualan. Menurut Ketua Divisi Perunggasan Persatuan Pasar dan Warung Tradisional Indonesia (Pesat) Jabar Yoyo Sutarya menilai banyak permainan di tingkat pengusaha ayam. "Dengan alasan libur panjang, stok banyak dikirim ke rumah makan, restoran, membuat ayam potong yang dijual di pasar tradisional melambung tinggi," tandas Yoyo. Yoyo menilai permainan ditingkat pengusaha yang berjumlah 68 pengusaha ayam, tersebar di beberapa wilayah seperti Purwakarta, Cianjur, Cirebon dan Tasikmalaya berakibat pada para pengecer," ucapnya. Yoyo mengharapkan idealnya harga ayam potong di tingkat peternak seharga Rp21 ribu, namun saat ini harga ayam potong mencapai Rp23 ribu. "Dari harga tersebut masuk ke bandar Rp. 24.500 dan sampai ke konsumen harga Rp38 ribu," tegas Yoyo.
Yoyo menjelaskan, para penjual eceran banyak pengeluaran yang harus ditunaikan, selain ayam dalam keadaan hidup, ayam juga dalam kondisi masih lengkap seperti bulu, kepala, ceker dan usus, sehingga menyusut dari ukuran 1,45 kg menjadi 1 kg. "Ya bersih- bersihnya mencapai Rp36.500/kg, sehingga kalau kita jual Rp. 38000/kg dapat untung Rp. 1500/kg," ucapnya. Selain itu jelas Yoyo, yang menjadi kendala ketika ayam potong tersebut tidak habis, terpaksa harus di frisher atau didinginkan, sehingga harus menyewa alat pendingin Rp50/kg/malam, karena kalau di pasar tradisional tidak boleh ada ayam potong yang melebihi dua hari dalam keadaan sudah disembelih. Untuk kebutuhan Bandung Raya termasuk Bandung, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat pasokan ayam mencapai 20 ribu ekor ayam/hari untuk 38 pasar tradisional. "Untuk di pasar eks SB sendiri dipasok hingga 400 ekor per hari," katanya. Yoyo meminta pemerintah turun tangan atas permasalah tersebut menyusul banyaknya masyarakat yang mengeluhkan harga termasuk para pedagang mie ayam, sate dan katering yang setiap harinya membutuhkan ayam potong, namun jika dalam seminggu ke depan kondisi tersebut tidak berubah pihaknya tidak menutup kemungkinan berdemo atau mogok berjualan. (Dudy Supriyadi)
Yoyo menjelaskan, para penjual eceran banyak pengeluaran yang harus ditunaikan, selain ayam dalam keadaan hidup, ayam juga dalam kondisi masih lengkap seperti bulu, kepala, ceker dan usus, sehingga menyusut dari ukuran 1,45 kg menjadi 1 kg. "Ya bersih- bersihnya mencapai Rp36.500/kg, sehingga kalau kita jual Rp. 38000/kg dapat untung Rp. 1500/kg," ucapnya. Selain itu jelas Yoyo, yang menjadi kendala ketika ayam potong tersebut tidak habis, terpaksa harus di frisher atau didinginkan, sehingga harus menyewa alat pendingin Rp50/kg/malam, karena kalau di pasar tradisional tidak boleh ada ayam potong yang melebihi dua hari dalam keadaan sudah disembelih. Untuk kebutuhan Bandung Raya termasuk Bandung, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat pasokan ayam mencapai 20 ribu ekor ayam/hari untuk 38 pasar tradisional. "Untuk di pasar eks SB sendiri dipasok hingga 400 ekor per hari," katanya. Yoyo meminta pemerintah turun tangan atas permasalah tersebut menyusul banyaknya masyarakat yang mengeluhkan harga termasuk para pedagang mie ayam, sate dan katering yang setiap harinya membutuhkan ayam potong, namun jika dalam seminggu ke depan kondisi tersebut tidak berubah pihaknya tidak menutup kemungkinan berdemo atau mogok berjualan. (Dudy Supriyadi)



























