Pos Indonesia Diisukan Bangkrut? Cek Faktanya

Pos Indonesia Diisukan Bangkrut? Cek Faktanya
Jakarta, Obsessionnews.com - Di tengah maraknya persaingan bisnis pengiriman logistik, belakangan ini PT Pos Indonesia(Persero) diisukan mengalami kebangkrutan. Bahkan badan usaha milik negara (BUMN) ini dikabarkan terpaksa berutang membayar gaji karyawan. Pos Indonesia memang tidak seperti dulu yang menjadi primadona dalam setiap pengiriman barang atau transaksi keuangan. Namun, saat ini bisa dikatakan tidak. Mengapa? Karena di era teknologi informasi yang modern ini, akses informasi bisa didapat dengan mudah dan cepat.   Baca juga:Tingkatkan Layanan, Pos Indonesia Hadirkan POSGIRO MobilePos Indonesia Buka Lowongan KerjaPos Indonesia Tak Ingin Kalah dengan Bisnis Pos di Negara Lain   Belum lagi persaingan jasa pengiriman barang yang begitu banyak. Sebab itu wajar jika ada yang mengatakan Pos Indonesia mengalami kebangkrutan, karena tidak mampu bersaing. Namun, hal itu juga tidak sepenuhnya dibenarkan. Faktanya perusahaan bahkan masih mencatatkan laba walaupun nilainya tertekan. Direktur Utama Pos Indonesia Gilarsi W. Setijono menuturkan, secara resmi dia membantah isu tersebut. Demikian juga soal pelambatan gaji karyawan. Menurutnya, banyak indikator yang menguatkan bahwa perusahaan pelat merat itu masih kokoh berdiri. “Pernyataan resmi apakah pos bangkrut jawabannya tidak, indikatornya banyak bahwa kenapa tidak akan bangkrut dalam periode diduga itu. Apakah kita akan lay off  karyawan, apakah kita menunda pembayaran-pembayaran kewajiban ke pihak ketiga, semua lancar,” ujarnya beberapa waktu lalu. Berdasarkan laporan keuangan 2018, Pos Indonesia masih mencatatkan laba bersih sebesar Rp127 miliar, turun dari periode sebelumnya yang mencapai Rp355 miliar atau tergerus sebesar 64 persen. “Tahun ini masih positif tapi, ya tadi, ada depresi margin,” imbuhnya. Sementara itu dari sisi pemeringkatan finansial pun masih pada posisi A. Lebih lanjut, pendapatan meningkat menjadi Rp5,5 triliun dari periode 2017 yang mencapai Rp5,05 triliun naik 8,9 persen. Ekuitas dan total aset pun turut meningkat pada 2018. Ekuitas meningkat menjadi Rp4,023 triliun dari Rp3,31 triliun naik , sementara asetnya meningkat menjadi Rp8,83 triliun dari Rp7,86 triliun naik . Laba bersih yang tergerus tersebut terangnya terjadi karena bisnis keuangan yang sudah menghadapi senjakala. Gilarsi menyebut keuntungan dari bisnis keuangan itu 3 berbanding 1 dengan bisnis kurirnya. Artinya, pendapatan di bisnis finansial yang menjadi laba lebih tinggi dibandingkan bisnis kurirnya. Artinya, setiap kehilangan pendapatan Rp1 di bisnis keuangannya, Pos harus menggenjot pendapatan Rp3 di bisnis kurirnya. “Pada akhirnya kita harus sadari untuk financial service ini sunset, namanya sunset itu tidak mudah. Ketika orang tua dulu tinggal di luar kota terima uang dari Wesel, biaya untuk kirim wesel 1 kali kirim Rp15.000, kalau sekarang lewat bank, antar bank bisa Rp7.500, bahkan sekarang dalam hari yang sama gratis,” ujarnya. Dengan demikian, dia memilih untuk mempercepat transformasi bisnisnya dan menggenjot kinerja tiga anak usahanya, Pos Logistik, Pos Finansial, dan Pos Properti. Pos Indonesia kini juga sudah memiliki rencana pengembangan bisnis guna menambah pendapatan perusahaan. Langkah eksplisit yang akan dilakukan Pos Indonesia dalam pengembangan usaha ialah mengikuti perkembangan zaman. Sehingga yang sedang tren dan diminati masyarakat sebagai costumer bisa akomodasi. "Kita ya ikutin indstrinya seperti apa. Misalnya kurir dan logistik yang sedang tumbuh adalah seperti industri e-commerce, maka kita siapkan pick up service, track and trace-nya bagus, content delivery harus oke," paparnya. Menurutnya, dalam beberapa tahun ke depan orang-orang akan cenderung malas mendatangi Kantor Pos untuk keperluan pengiriman barang/paket. Karena itu, harus diberikan kemudian dengan mendigitalisasi pelayanan. "Kita harapkan layanan masih ada tapi kita lanjutkan (dengan) digital. Iya, (kuncinya digital)," sebutnya. Seperti diberitakan sebelumnya, isu bangkrutnya PT Pos Indonesia (Persero) mencuat sejak Minggu (21/7/2019) malam. Di media sosial warganet mempertanyakan kebenaran mengenai isu bahwa PT Pos utang untuk membayar gaji karyawan. (Albar)