Jumat, 9 Desember 22

Pos Indonesia Tak Ingin Kalah dengan Bisnis Pos di Negara Lain

Pos Indonesia Tak Ingin Kalah dengan Bisnis Pos di Negara Lain
* PT Pos Indonesia (Foto: mahardikanews.com)

Jakarta, Obsessionnews.com – Meski era digital sudah merebak ke seluruh lapisan masyarakat, PT Pos Indonesia tetap konsisten memberikan pelayanan terbaik, agar perusahaan ini terus bertaha. Karena tidak menutup kemungkinan perusahaan logistik ini bisa gulung tikar jika tidak bisa mengendalikannya.

Sebagai contoh perusahaan pos dari negara adidaya Amerika Serikat (AS), United States Postal Service (USPS), harus menerima kerugian hingga mencapai 5,5 miliar dolar pada 2014. Sebetulnya kinerjanya memburuk mulai dari 2006.

Berbeda dengan AS, Jepang yang berjulukan negeri sakura bernasib yang sangat bagus meski dihadapkan dengan perkembangan zaman yang serba modern. Jepang terus berkembang hingga perusahaan Japan Post Group mampu mencetak pendapatan hingga 129,7 miliar dolar dan laba 4,39 miliar dolar.

Tidak ingin nasibnya sama dengan perusahaan pos yang berada di Amerika, Pos Indonesia terus memberikan pelayanan terbaik agar terus diberikan kepercayaan oleh masyarkat.

Maka dari itu dalam usianya yang ke-271 tahun, PT Pos Indonesia bertekad mengembangkan bisnis menjadi perusahaan logistik yang lebih besar karena tidak ingin kalah dengan perkembangan bisnis Pos di negara-negara lain yang sudah sangat maju, salah satunya Jepang.

“Jepang sebagai contoh yang paling ideal. Jepang melalui posnya  itu bisa membiayai 36 persen dari utang negara,” jelas Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Gilarsi W. Setijono di sela-sela perayaan PT Pos Indonesia ke-271 di Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Bandung, Jumat (25/8/2017).

Melihat itu PT Pos Indonesia menginginkan hal tersebut bisa di terapkan, karena pos di Jepang sangat membantu perekonomian negara mata hari terbit itu. Sebetulnya pos bukan hanya difungsikan sebagai perusahaan yang melayani jasa kurir saja tapi untuk pembangunan ekonomi masyarakat.

Selain itu. Pos yang berada di negeri sakura ini melakukan tiga fungsi dengan baik, mulai dari fungsi perbankan, asuransi, dan tentunya layanan kurir. Dari tiga fungsi tersebut yang paling sedikit justru layanan kurirnya.

“Para petani dan semua rakyat di Jepang hampir  100 persen punya rekening pos. Kedua adalah fungsi asuransi. Kita butuh banyak loh yang nggak punya asuransi, sektor2 informal. Padahal potensial diraih. Kalau di jepang petani nelayan punya asuransi. Baru yang ketiga fungsi mereka sebagai kurir. Justru ironis fungsi kurirnya malah kecil. 82 persen pendapatan pos dari bank nya. Sekitar 10 persen asuransi. Sisanya dari kurirnya,” tuturnya.

Hal ini dikatakannya berbanding terbalik dengan Indonesia yang lebih menekankan fungsi layanan kurir sebagai sektor utama bisnisnya. Karenanya dia ingin belajar dari Jepang terkait pengelolaan pos dengan manajemen pembangunan ekonomi yang lebaik baik.

“Sekarang bagaimana kita bisa belajar dari jepang. Bagaimana meningkatkan kinerja UKM melalui pos. Pos difungsikan sebagai tabungan kemudian bagaiaman asuransinya juga berjalan juga jadi depot logistik,” ujarnya.

Meski demikian, Gilarsi menegaskan pihaknya tetap ingin memfokuskan pada bidang logistik menjadi bisnis utama Pos Indonesia. Pos Indonesia harus bangkit dan mengejar sejumlah ketertinggalan menuju perubahan dan keluar sebagai pemenang.

“Merubah paradigma lama dengan bertransformasi menjadi perusahaan logistik dan menimbulkan optimisme untuk mewujudkan visi menjadi raksasa logistik dari timur,” katanya. (Iqbal)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.