Jumat, 3 Februari 23

Para Oligarkis di Belakang Ahok

Para Oligarkis di Belakang Ahok
* Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. (Foto: Edwin B/Obsessionnews.com)

Oleh: Hersubeno Arief *)

 

Mengapa Ahok sangat sulit dijadikan tersangka? Kalau toh sudah jadi tersangka, kok tidak ditahan? Apakah Ahok manusia super sakti?

Mengapa Ahok sangat sulit dijadikan tersangka? Kalau toh sudah jadi tersangka, kok tidak ditahan? Apakah Ahok manusia super sakti?  Jawabannya  tidak!

Yang sakti adalah para OLIGARKIS  di belakang Ahok. Mereka ini  adalah segilintir  pemilik modal besar yang menjelma menjadi kartel,  berkolaborasi  dengan elit politik, politisi, birokrasi, penegak hukum, militer, akademisi , dan bahkan para pemuka agama/ulama.

Ahok, dia cuma pion, proxy . Dia menjadi  “korban”  tapi dalam kategori penikmat penderita.  Road map-nya jelas. Kembali  menjadi Gubernur DKI dan pada waktu yang tepat didorong menjadi pemimpin nasional. Tugasnya hanya satu : Mengamankan  kekuasaan dan kekayaan agar tetap aman di tangan mereka para segilintir orang, para Oligarkis.

Jangan salah, apalagi terprovokasi! Ini sesungguhnya tidak ada urusannya  dengan masalah agama, keyakinan, apalagi suku dan ras. Tidak ada urusannya dengan soal  pribumi atau non pribumi. Apalagi soal kebhinekaan dan NKRI. Jauh panggang dari api.  Jangan mau diadu domba. Itu hanya alibi dan justifikasi yang dibangun oleh para Oligarkis, ketika mereka menyadari pion dan proxy  yang mereka siapkan dengan dana ratusan milyar rupiah, tiba-tiba babak belur,  nyaris ambruk.

Ibarat petinju, dia sudah terkena pukulan mematikan (killing punch) beruntun.

Skenario para Oligarkis ini sebenarnya sudah mulus. Banyak orang terpana dan terbius oleh fenomena Ahok. Kesalahan Ahok hanya satu. Merasa di atas angin, ia jadi jumawa.  Ia menginjak ranjau sensitif yang sejak masa Orde Baru digembar-gemborkan  dan kini diadopsi kembali rezim yang berkuasa, yakni SARA. Jadilah muncul gelombang serangan balik berupa  Aksi Bela Islam (ABI) jilid I,II dan III. Ibarat petinju, dia sudah terkena pukulan mematikan (killing punch) beruntun. Tapi  dia jenis petinju yang rada tahan pukul. Jadi tidak langsung KO. Dia punya pelatih, supporter yang punya obat kuat, para Oligarkis. Juga kelihatannya wasit yang memihak.

Para Oligarkis inilah yang membiayai  semua upaya agar Ahok bisa terpilih menjadi Gubernur DKI.  Mulai dari  pencitraan di media, membayar buzzer di Sosmed, membayar lembaga survei, pengamat, akademisi, merekayasa munculnya fenomena Teman Ahok dan pada gilirannya memilih dan mendapatkan partai politik sebagai kendaraan dalam Pilkada 2017.

Kalau mau fair, sebagai Gubernur DKI, Ahok sebenarnya tidak hebat-hebat amat, seperti digembar-gemborkan para pendukungnya.

Kalau mau fair, sebagai Gubernur DKI, Ahok sebenarnya tidak hebat-hebat amat, seperti digembar-gemborkan para pendukungnya. Tapi Ahok juga tidak terlalu buruk. Mari kita bedah fakta tentang Ahok dengan sikap yang  adil. Karena dalam Islam kita juga diajarkan “Janganlah kebencian kamu kepada sebuah kaum, mendorong kamu berlaku tidak adil”.

Apakah Ahok sudah berhasil membenahi Jakarta?  Dalam soal birokrasi, Ahok berhasil membersihkan korupsi, menjadi  lebih efesien dan berorientasi kepada pelayanan publik.  Tapi dalam soal pembangunan infrastuktur, masih sangat jauh. Indikasinya sangat jelas. Penyerapan anggaran DKI tahun 2015 dan 2016 sangat rendah. Bahkan termasuk yang terendah di Indonesia.  Jadi ya tidak ada pembangunan  yang signifikan.

Ahok juga dikenal sebagai tukang gusur yang gak kenal kompromi.

Ahok juga dikenal sebagai tukang gusur yang gak kenal kompromi. Yang parah tentu saja etikanya. Seorang pejabat publik tidak hannya dituntut cakap mengelola administrasi pemerintahan. Tapi dia harus punya etika, akhlak yang baik. Karena dia adalah panutan.

Nah sebagai penonton, mari kita amati bagaimana cara para Oligarkis ini bermanuver menyelamatkan Ahok. Hasil persidangan yang akan digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat  akan sangat menentukan.

Walaupun banyak yang ketar ketir karena adanya kesadaran bahwa para Oligarkis telah menyusup ke  semua sektor, tapi  itu hanya segelintir orang.  Saya meyakini masih banyak orang waras, cinta kebhinekaan, cinta NKRI, cinta agamanya, cinta perdamaian, cinta harmoni, cinta pada kebaikan dan kebenaran. Mereka tersebar  di kalangan politisi, birokrasi, penegak hukum, militer, akademisi, budayawan dan tentu saja para pemuka agama, alim ulama.

*) Jurnalis Senior/Konsultan Media dan Politik

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.