Jumat, 12 Agustus 22

Mengurai Kaukus Politik yang Bikin Ruwet Kasus Ahok

Mengurai Kaukus Politik yang Bikin Ruwet Kasus Ahok

Oleh: Hendrajit*)

Kenapa kasus Ahok yang sebenarnya sederhana kemudian jadi ruwet dan melebar ke mana-mana? Kalau mencermati rancang bangun sistem pemerintahan Jokowi-JK, sederhana penjelasannya.

Presiden Jokowi adalah papan catur, dari berbagai kubu, meski akhirnya mengerucut pada dua kubu, sehingga yang terpancar ke luar ada dualisme kepemimpinan di pemerintahan Jokowi-JK.

Nah, begitu ada insiden Ahok, yang bikin pernyataan yang kemudian berkembang jadi soal penistaan agama, kalau sekadar disikapi murni penegakan hukum, penanganannnya pasti mudah. Aturan dan mekanismenya jelas.

Namun, mengingat rancang bangun sistem pemerintahan Jokowi-JK yang seperti saya gambarkan sekilas tadi, mencuatnya kasus Ahok justru menghantam sisi paling rawan dari rancang bangun sistem pemerintahan Jokowi yang notabene sangat rapuh itu.

Maka, kasus Ahok justru memantik munculnya gagasan-gagasan, pemikiran-pemikiran, dan bahkan khayalan-khayalan yang berasal dari para pemain kunci di dalam sistem rezim Jokowi itu sendiri. Yang pada dasarnya sama sekali tidak mencerminkan kondisi dan keadaan mental dan material dari masyarakat, khususnya umat Islam, yang sebenarnya walaupun sederhana tapi tidak aneh-aneh. Ahok telah menyinggung perasaan umat Islam dan ulama, dan tolong dia ditindak secara hukum. Selesai. Titik.

Namun, di ring satu Jokowi-JK yang terdiri aneka ragam kubu dan sama -sama menggunakan Jokowi sebagai papan catur, melihat kasus Ahok dengan cara yang berbeda. Mereka akan memanfaatkan perasaan atau general feeling dari masyarakat muslim, khususnya terkait Massa Aksi Damai,dengan menyelaraskan diri dengan aspirasi Massa Damai. Tapi motivasinya bukan karena meyakini Ahok itu salah dan telah menyinggung umat Islam, tapi untuk memenuhi pikiran, rencana dan khayalan mereka sendiri. Dengan kata lain, didasari motif kekuasaan. Bukan untuk menyelesaikan tuntutan publik secepatnya atas kasus Ahok. Yang tentunya tidak selaras dengan aspirasi umum yang berkembang dari Massa Aksi Damai 4 November lalu maupun yang sebelumnya.

Kenapa? Karena dengan motivasi semacam itu yang muncul dari ring satu Jokowi sendiri, kasus Ahok bukannya dituntaskan secepatnya, melainkan malah dijadikan alat tawar-menawar politik di antara mereka sendiri. Dan dalam hal ini, kemudian terciptalah sebuah kaukus politik yang melibatkan unsur dari dalam maupun luar pemerintahan Jokowi-JK itu sendiri.

Pertemuan kedua Jokowi-Prabowo, sepertinya telah membuat kaukus politik tersebut terurai dan menyingkapkan dirinya secara pelan tapi pasti.

Inilah mengapa yang terlihat kemudian, saat ini Jokowi terkesan sendirian dan ditinggalkan para punggawa dan hulubalangnya.

Mari kita ikuti pagelaran selanjutnya.

*)Pengkaji geopolitik dan Direktur Eksekutif The Global Future Institute

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.