Rabu, 29 Juni 22

Memboikot Produk Suatu Negara itu Tidak Mudah

Memboikot Produk Suatu Negara itu Tidak Mudah

Oleh: Rinaldi Munir, Dosen Teknik Informatika ITB

 

Donald Trump membuat gaduh seisi dunia. Dia mengakui Yerussalem sebagi ibukota negara Israel. Sebagai konsekuensi dari pengakuan itu, Amerika Serikat berencana akan memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerussalem. Akibatnya mudah ditebak, demo di mana-mana di hampir seluruh dunia menentang kebijakan Trump itu, khususnya di negara-negara berpenduduk Muslim, termasuk Indonesia.

Pada aksi Demo Bela Palestina hari Minggu (17/12/2017) yang lalu, Majelis Ulama Indonesia menyerukan agar umat Islam Indonesia memboikot produk yang terkait Amerika dan Israel, dan menggantinya dengan produk sejenis karya anak bangsa.

Saya sendiri juga menentang keputusan sepihak Trump tersebut. Tapi, memboikot produk-produk Amerika? Tunggu dulu, itu tidaklah mudah. Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, sudah sangat tergantung pada semua yang dari Amerika, baik produk barang dan jasa, maupun teknologi. Di Indonesia produk yang berbau Amerika mudah ditemukan, tidak terhitung jumlahnya, sebut saja beberapa di antaranya yang terkenal seperti Coca ColaKentucy Fried ChickenMcDonaldStarbucks, film-film Amerika di bioskop, dan lain-lain.

Secara tidak langsung saya pribadi bukan konsumen produk-produk tersebut sehingga sangat jarang mengonsumsinya. Saya tidak pernah mampir minum kopi di Starbucks, hanya beberapa kali pernah beli burger di McD, tidak terlalu suka fried chicken (termasuk KFC), jarang minum Coca-ColaFanta, dsb, sangat jarang nonton film di bioskop. Jadi, tanpa ikut memboikut pun saya tidak (atau sangat jarang) menggunakan produk-produk Amerika tersebut. Saya lebih suka makanan dan minuman khas Indonesia.

Kalau benda-benda  yang kasat mata seperti di atas mungkin bisa diboikot dengan tidak membelinya. Nah, yang sangat sulit diboikot -dan sepertinya hampir tidak mungkin- adalah produk IT (information technology), hardware maupun software. Komponen komputer saja hampir seluruhnya produk teknologi Amerika, sebut saja misalnya prosesor IntelAMDApple. Begitu juga hampir semua software adalah buatan orang Amerika. Windows yang kita gunakan di komputer, program Office dari Microsoft (Microsoft WordExcellPower Point, dll), program utility seperti anti virus, perambah (browser) Internet (FirefoxChrome), mesin pencari Google, dan lain-lain adalah buatan Amerika. Beralih ke Smartphone, hampir setiap hari warganet  mengakses media sosial seperti FacebookInstagramTwitterWhatsapp, dan lain-lain, itu juga buatan (dari) Amerika. Bahkan blog yang anda baca ini, WordPress, adalah buatan Amerika juga.

Hampir dua pertiga penduduk bumi ini sudah sangat bergantung dengan produk IT dari Amerika. Melepaskannya untuk tidak menggunakannya bukan perkara yang mudah. produk-produk IT itu sudah menjadi kebutuhan penting manusia modern di era digital ini layaknya makanan dan minuman. Penggantinya belum tentu ada atau tidak senyaman yang ada sekarang.  Jadi, mau bagaimana?

Saya menghormati pihak-pihak yang menyeru pemboikotan. Semangatnya saya setuju, yaitu menunjukkan solidaritas dan keberpihakan. Itu mungkin dianggap sebagai salah satu cara untuk menekan Donald Trump. Tapi, apakah efektif? Wallahualam. Saya juga bertanya-tanya, apakah pihak-pihak yang menyeru pemboikotan dapat bersikap konsisten? Apakah mereka melakukan apa yang dikatakannya? Artinya, apakah produk-produk IT di komputer atau smartphone mereka sudah di-uninstall dari produk IT dari Amerika? Kalau tidak nanti malah jadi bahan tertawaan orang.

Saya tidak anti Amerika, tapi saya tidak suka Donald Trump. Saya tidak mau ambivalen, yaitu di satu sisi memboikot Amerika, tetapi di sisi lain masih menggunakan produk IT-nya. Sudah itu saja.

Sumber:  rinaldimunir.wordpress.com

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.