Jumat, 12 Agustus 22

Lisan Salim

Lisan Salim
* Dea Guru H. Ahmad Nahid. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Dea Guru H. Ahmad Nahid, M.Pd, Wakil Pengasuh dan Direktur Pendidikan dan Pengajaran Pesantren Modern Internasional Dea Malela Sumbawa Indonesia

Lisan menjadi salah satu organ tubuh manusia yang sangat penting perannya. Dengan normalnya fungsi lisan maka seseorang akan dapat berbicara dan berkomunikasi dengan orang lainnya.

Namun dalam ajaran Islam, lisan tidak hanya sebatas itu. Lisan bisa menjadi alat bagi seorang hamba meraih pahala dan mengantarnya meraih surga Allah SWT.

Itu jika hamba tersebut mampu menggunakan lisannya untuk mengucapkan perkataan yang baik dan bermanfaat.

Tapi disisi lain, lisan juga bisa menjadi sebab seorang hamba terjerumus ke neraka bila hamba sering mengeluarkan perkataan yang buruk.

Karena itu, Rasulullah ﷺ mewanti-wanti umatnya untuk menjaga lisan agar tidak mengeluarkan ucapan-ucapan yang buruk.

Rasulullah pernah memberikan wasiat kepada Ali bin Abi Thalib tentang perkara menjaga lisan. Keterangan ini dapat ditemukan dalam kitab Wasiyat Al-Musthafa yang disusun Syekh Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Musa Asy Syarani Al-Anshari Asy Syafi’i Asy Syadzili Al Mishri atau dikenal sebagai Imam Asy Syarani.

Berikut tiga wasiat Rasulullah kepada Ali tentang menjaga lisan.

Pertama, jangan cela kekurangan orang lain.

يَا عَلِيُّ، لَا تُعَيِّرْ أَحَدًا بِمَا فِيْهِ فَمَا مِنْ لَحْمٍ إِلَّا وَفِيْهِ عَظْمٌ وَلَا كَفَّارَةَ لِلْغِيْبَةِ حَتَّى يَسْتَحِلَّهُ أَوْ يَسْتَغْفِرَ لَهُ

“Wahai Ali, janganlah engkau mencela seseorang karena sesuatu dalam dirinya (semisal kecacatan, atau pun kekurangan lainnya) karena tidak ada daging melainkan ada tulangnya. Dan tidak ada cara menebus dosa menggunjing sampai dia meminta maaf kepada orang yang digunjingkannya atau memintakan ampunan (membacakan istigfar) dia bagi orang yang digunjingnya”.

Maksudnya seorang hamba tidak boleh mencela orang lain karena keterbatasan atau kekurangan yang dimilikinya apa pun itu. Sebab setiap manusia pasti terdapat kekurangannya masing-masing.

Seperti halnya daging, meski pun daging empuk namun di balik itu terdapat tulang yang keras dan beragam bentuknya. Sebab itu ketika seseorang telah mencela orang lain karena keterbatasannya, maka hendaknya segera meminta maaf dan mengakui kesalahannya.

Kedua, lisan antarkan ke surga atau ke neraka.

يَا عَلِيُّ، مَا خَلَقَ اللهُ فِي الْإِنْسَانِ أَفْضَلَ مِنَ اللِّسَانِ، بِهِ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ وَيَدْخُلُ النَّارَ فَاسْجُنْهُ فَإِنَّهُ كَلْبٌ

“Wahai Ali, Allah tidak menciptakan di dalam diri manusia itu yang lebih utama daripada lisan. Dengan lisan seseorang bakal masuk ke surga, dan karena lisan juga seseorang bisa masuk ke neraka. Maka ikatlah lisan, karena lisan itu ibarat anjing galak.“

Maksud mengikat lisan adalah mengikatnya agar lisan tidak asal bicara, tidak mengeluarkan perkataan kotor, buruk. Agar lisan tidak mencaci, memfitnah, atau pun berbohong yang kesemuanya itu dapat menimbulkan kemudharatan bagi dirinya dan orang lain.

Ketiga, jangan laknat sesama Muslim.

يَا عَلِيُّ، لَا تَلْعَنْ مُسْلِمًا وَلَا دَابَّةً فَتَرْجِعَ اللَّعْنَةُ عَلَيْكَ

“Wahai Ali, janganlah engkau melaknat seorang muslim, dan juga hewan, karena itu akan kembali pada dirimu sendiri.”

Ini menjadi pengingat bagi kita agar jangan sampai melaknat sesama Muslim baik menggunakan lisan secara langsung maupun melalui tulisan di media sosial atau lainnya.

Kendati pun terdapat perbedaan pandangan, atau ada kekeliruan yang dilakukan seorang Muslim akan lebih baik untuk mendoakannya agar mendapatkan hidayah, kemudian menasihatinya.

Perbuatan demikian lebih baik dibanding dengan melaknat sesama Muslim yang hanya menunjukan dangkalnya ilmu dan akhlak.

Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari bersabda bahwa, keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan. Penting untuk menjaga lisan. Sebab lisan diibaratkan pisau yang apabila salah menggunakannya akan melukai banyak orang.

Di zaman modern, ketajaman lisan kadang juga mewujud dalam aktivitas di media sosial melalui status-status yang ditulis. Sudah semestinya, sebagai umat Islam membuat status di media sosial yang tak menyinggung orang lain.

Allah SWT berfirman: “Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kami akan memberinya pahala yang besar.” (Q.S. an-Nisaa'[4]: 114).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

سلامة الإنسان في حفظ اللسان

“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan,” (HR. Al-Bukhari).

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik),” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah ﷺ juga bersabda:

عليك بطول الصمت فإنه مطردة الشيطان وعون لك علي أمر دينك

“Hendaklah engkau lebih banyak diam, sebab diam dapat menyingkirkan setan dan menolongmu terhadap urusan agamamu,” (HR. Ahmad).

Allah memperingatkan bahwa terdapat malaikat yang mencatat setiap ucapan manusia, yang baik maupun yang buruk. Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50]: 18).

Sumber: (www.zakat.or.id, www.wikipedia.com , www.detik.com, www.republika.com, www.islam.or.id)

Wallahu a’lam bish shawab. Mari istiqamah dalam beribadah.

(muslimobsession.com) 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.