Sabtu, 27 November 21

Kualitas Pendidikan Indonesia Masih Tertinggal Jauh

Kualitas Pendidikan Indonesia Masih Tertinggal Jauh
* Refleksi 1 Tahun Surabaya Kota Literasi sekaligus Temu Darat ke-25 Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Cabang Surabaya di pelataran Gedung Serba Guna Kampus Unesa Surabaya, Minggu (3/5/2015).

Surabaya, Obsessionnews – Kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal jauh dibanding negara-negara lain. Indikatornya, Hasil Program Penilaian Pelajar Internasional (Program for International Student Assessment atau PISA) yang setiap tiga tahun selalu menempatkan Indonesia dalam peringkat tiga besar dari bawah. Salah satu yang dinilai dalam penelitian tersebut adalah kecakapan membaca. (Baca: 20% Anggaran Pendidikan Masih Berebut dengan Anggaran Lain)

Hal itu mengemuka dalam Refleksi 1 Tahun Surabaya Kota Literasi sekaligus Temu Darat ke-25 Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Wilayah Surabaya, Minggu (3/5/2015), di pelataran Gedung Serba Guna Kampus Unesa Surabaya. Tampil sebagai narasumber Satria Dharma, penggagas Gerakan Literasi Sekolah, dan Much Khoiri, pendiri Jaringan Literasi Indonesia.(Baca Juga: Dosen Untag Semarang Rilis Buku ‘Memotret Data Kualitatif dan Kuantitatif’)

Khoiri, pendiri Jaringan Literasi Indonesia.
Khoiri, pendiri Jaringan Literasi Indonesia.

Dalam siaran pers yang diterima obsessionnews.com Senin (4/5), Satria Dharma mengungkapkan, kondisi yang memprihatinkan itu tidak akan pernah berubah selama membaca hanya diposisikan sebagai anjuran di sekolah-sekolah. Tidak lagi ditempatkan sebagai kewajiban.

Sementara itu Much Khoiri menekankan kepada generasi muda untuk menghasilkan karya berupa tulisan. “Karena tulisan itulah sebagai bukti adanya kecakapan membaca,” katanya.

Untuk menumbuhkan semangat berliterasi diperlukan juga political will pemerintah. Namun, masyarakat tentu tidak bisa hanya menunggu. Para pegiat literasi khususnya di Surabaya dituntut untuk terus bergerak secara aktif mempengaruhi banyak orang, terutama pelajar dan mahasiswa.

“Tujuannya agar mereka memiliki kesadaran betapa pentingnya literasi dalam pembangunan peradaban. Dengan adanya langkah-langkah konkrit itu, Surabaya sebagai Kota Literasi bukan sekadar semboyan belaka,” ujarnya.

Surabaya Kota Literasi telah dicanangkan Walikota Surabaya Tri Rismaharini di Balai Kota Surabaya pada 2 Mei 2014. Pencanangan itu mengindikasikan bahwa kota tersebut siap untuk menjadi lebih maju dalam iklim kompetisi dengan kota-kota di negara lain.

“Konsekuensinya, semua pegiat literasi, termasuk kalangan pustakawan dan para pemegang kebijakan di dunia pendidikan, khususnya di Surabaya, harus berjuang keras untuk terus memacu semangat berliterasi warga Surabaya,” ujar Yudha Prima, Koordinator FAM Cabang Surabaya yang mendukung pencanangan itu.

Refleksi 1 Tahun Surabaya Kota Literasi dan Temu Darat ke-25 FAM Cabang Surabaya diikuti sekitar 50-an peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, guru, dosen dan kalangan umum lainnya. Peserta sangat antusias mengikuti acara itu. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.