Senin, 14 Oktober 19

Kebakaran Hutan di Palangkaraya Sulit Dipadamkan!

Kebakaran Hutan di Palangkaraya Sulit Dipadamkan!
* ilustrasi kebakaran. (ist)

Pemadam kebakaran di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, mengaku kesulitan redakan api karena musim kemarau membuat sumber air mengering, sementara titik api terus bermunculan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhuila).

“Kesulitan kami yang utama adalah sumber air, karena musim kemarau, sumber air di Palangkaraya ini kering,” ujar Zulkarnaen, petugas pemadam kebakaran.

Guna memadamkan api, petugas pemadam kebakaran dibantu para relawan mengandalkan air dari tangki. Di sisi lain, cuaca yang kering dan panas, membuat titik api terus bermunculan.

Data BMKG per 18 September 2019 menyebut titik api di Kalimantan Tengah selama 10 hari terakhir berjumlah 11.040 titik. Sementara musim kemarau diprediksi akan terus berlangsung hingga awal Oktober mendatang.

Dalam kondisi seperti ini, tidak hanya petugas yang berjuang memadamkan api, tapi juga warga setempat dengan menggunakan peralatan seadanya.

“Kebakarannya ada di belakang rumah, jadi saya inisiatif sendiri mematikan api dengan bantuan teman-teman relawan agar apinya tidak menyebar sampai ke sini,” ujar salah satu warga, I Gusti Putu Tama.

Pelajar Malaysia Terganggu Asap
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan berdampak terhadap para pelajar di Malaysia dan Indonesia. Di Malaysia, sebagian sekolah diliburkan karena kualitas udara masuk kategori ‘sangat tidak sehat’.

Sebuah sekolah di Kuala Lumpur–dengan latar belakang Menara Kembar Petronas–diliburkan karena asap, pada Rabu (18/09). Sebanyak 1.658 sekolah di Selangor, Penang, Kuala Lumpur, dan Putrajaya diliburkan selama dua hari terhitung Kamis (19/09) setelah Indeks Pencemaran Udara (API) di kawasan-kawasan itu mencapai taraf ‘sangat tidak sehat’.

Pada Rabu (18/9), Badan Manajemen Bencana Nasional Malaysia (Nadma) menyatakan bahwa sebanyak 553 sekolah di Malaysia diliburkan karena kabut asap. Langkah ini berdampak pada 312.337 pelajar.

Kabut asap menyelubungi Kuala Lumpur, pada Rabu (18/9). Menurut laman Sistem Manajemen Indeks Polusi Udara Malaysia (APIMS) pada Rabu (18/9), pencemaran udara di sembilan lokasi mencapai taraf ‘sangat tidak sehat’, termasuk Petaling Jaya (207), Shah Alam (216), Nilai (210), Sri Aman (228), dan Kuching (215). Sebagai catatan, angka 0 hingga 50 dalam Indeks Pencemaran Udara (API) dikategorikan baik; 51 hingga 100 moderat; 101 hingga 200 tidak sehat; 201 sampai 300 sangat tidak sehat; lebih dari 301 berbahaya.

Murid-murid sebuah sekolah dasar di Kuala Lumpur diberikan masker untuk menutupi hidung mereka. pada Jumat (13/9). Kementerian Pendidikan Malaysia menyatakan para kepala sekolah dapat mengumumkan libur jika kabut asap memburuk.

Kementerian Pendidikan Malaysia menyatakan jika pelajar masih berada di sekolah ketika sekolah mereka dinyatakan libur, mereka dapat lanjut belajar kecuali ada permintaan dari orang tua untuk membawa pulang mereka.

Sebanyak 119 sekolah di Kulim Bandar Baharu, Kedah; 147 sekolah di Larut, Matang dan Selama, Perak; serta 53 sekolah di Nilai, Labu, dan Mantin di Negeri Sembilan dittup pada Kamis (19/9), setelah taraf pencemaran udara di daerah-daerah tersebut melampaui 200.

Sementara itu, di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kabut asap melanda pada Selasa (17/9). Akan tetapi, para pelajar tidak mengenakan masker untuk menangkap pengaruh asap. Berdasarkan Airvisual.com yang merujuk data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tingkat partikel halus PM2,5 di Palembang pada Kamis (19/9) pukul 10.00 WIB mencapai 121 yang masuk kategori ‘tidak sehat’.

Para pelajar di Kota Palembang, Sumatera Selatan, menutupi wajah mereka hanya menggunakan kerudung saat pergi ke sekolah di tengah kabut asap yang melanda, pada Selasa (17/9).

Pelajar sekolah dasar memakai masker sederhana di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 14 September lalu. Berdasarkan Airvisual.com yang merujuk data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tingkat partikel halus PM2,5 di Palangkaraya pada Kamis (19/9) pukul 10.00 WIB mencapai 332 yang masuk kategori ‘berbahaya’.

Sejumlah pelajar sekolah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, mengenakan masker untuk menangkal pengaruh kabut asap yang menyelubungi kota. Salah seorang pelajar tampak memakai masker yang lebih mahal. (*/BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.