Senin, 9 Desember 19

Jangan Terjebak Fase Survival, Harus ke Scale-up

Jangan Terjebak Fase Survival, Harus ke Scale-up

Jakarta – Saat  saya memulai sebuah usaha di tahun 1997, saya mendirikannya karena alasan kebutuhan, bukan karena adanya peluang bisnis. Kala itu saya ‘dirumahkan’ oleh perusahaan tempat saya bekerja dan mau tidak mau harus membuat mata pencaharian sendiri.

Di saat merintis bisnis, saat itu fasenya adalah ‘survival’, maksudnya adalah bagaimana kami harus bertahan sebisa mungkin di tengah kondisi yang ada. Untuk itu, kami melakukan apa saja asal kami bisa bertahan. Ibarat orang yang tercebur di sungai, kami harus tetap mengapung tanpa peduli menggunakan gaya dan cara apapun agar tetap hidup dan tidak tenggelam begitu saja.

Namun, begitu kita masuk ke fase ‘scaling up’, kita harus menata pola pikir kita agar tidak terpaku dalam fase survival terus menerus. Bedanya dalam fase scaling up, sebuah usaha/startup tidak hanya harus bertahan dan tetap hidup tetapi juga harus memiliki sebuah tujuan. Di sini, kita harus mulai menata business plan yang sudah ada.

Belajarlah betul-betul bagaimana caranya untuk scale-up. Bila dianalogikan dengan orang yang berenang, kita tidak lagi asal menggerakkan tangan dan kaki agar tetap mengapung tetapi juga mulai belajar berbagai macam gaya berenang, seperti gaya bebas, gaya dada, dsb, lalu bagaimana membaca arus, menggunakan teknik pernapasan yang benar, mempelajari ritme, dan seterusnya agar bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

Bagi sebuah perusahaan baru/startup, scale-up sangatlah penting. Indonesia saat ini telah memiliki kurang lebih 55 juta pelaku usaha mikro kecil menengah dan 99% adalah pelaku usaha mikro. Dari pengamatan saya, banyak dari pelaku usaha mikro yang tidak berkembang setelah bertahun-tahun menjalankan usahanya. Misalnya, saya menemukan usaha-usaha mikro di sekitar sekolah saya di Jakarta Selatan. Setelah 10 tahun bahkan 20 tahun berjalan, usaha mereka masih tetap ada tetapi tidak berkembang. Masih tetap kecil seperti dulu. Mengapa ini bisa terjadi? Karena mereka hanya berkutat pada bagaimana bertahan saja. Mereka ‘terjebak’ dalam fase survival selama ini dan tidak memiliki tujuan untuk membesarkan usaha (scale-up).

Menurut saya, tantangan terbesar yang harus dihadapi entrepreneur yang ingin usahanya lebih besar ialah bagaimana menata mindsetnya agar tidak terjebak dalam fase survival. Jadi sebagai entrepreneur, kita jangan hanya berjalan di tempat tetapi harus terus tumbuh. Kita juga perlu membesarkan usaha agar dampak positifnya pada masyarakat sekitar juga makin besar karena jika lebih besar, akan makin banyak tenaga kerja terserap.

Tantangan berikutnya yang harus ditaklukkan entrepreneur yang ingin scale-up ialah zona nyaman. Saat kita berpikir “Ya begini saja sudah cukup kok”, saat itulah entrepreneur terjebak dalam zona nyaman. Banyak yang berasumsi zona nyaman hanya dimiliki karyawan tetapi entrepreneur juga pada kenyataannya tidak luput darinya. Rasa aman dan nyaman yang membuat kita sudah merasa puas. Banyak pelaku UMKM yang merasa sudah nyaman di pencapaian mereka saat ini. Itulah yang harus diubah.

Tantangan terakhir ialah bagaimana entrepreneur tetap berinovasi. Scale-up itu mustahil dicapai tanpa adanya upaya inovasi yang nyata. Tanpa inovasi kita pasti akan tertinggal. Kita bisa saksikan perusahaan-perusahaan besar yang tergilas perkembangan teknologi. Karenanya, inovasi harus terus menjadi napas kita demi kemajuan bisnis dan meningkatkan daya saing bangsa.

(Sandiaga Uno; Entrepreneur, pendiri Saratoga Investama Sedaya)

Related posts