Minggu, 20 Oktober 19

Jakarta Masih Banjir, Ahok Tetap Ngeles

Jakarta Masih Banjir, Ahok Tetap Ngeles
* Kawasan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, di depan SMAN 8 Jakarta, digenangi banjir mencapai 80 sentimeter hingga 1 meter, Kamis (16/2/2017). (Foto: Popi Rahim/Obsessionnews.com)

“Satu kegagalan Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Ahok yaitu mengatasi masalah banjir sebagai masalah tahunan.”

Jakarta, Obsessionnews.com – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sesumbar hujan deras tak akan membuat Jakarta banjir. Bagaimana faktanya? Menurut pengamat politik Network for South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap, Jakarta tetap banjir.

Pengamat politik Network for South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap.

“Satu kegagalan Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Ahok yaitu mengatasi masalah banjir sebagai masalah tahunan,” kata Muchtar melalui keterangan tertulisnya yang diterima Obsessionnews.com, Jumat (3/3/2017).

Muchtar mengungkapkan keberhasilan dan kegagalan Ahok menangani masalah banjir harus mengacu pada ketentuan dalam Perda No. 2 Tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi  DKI Jakarta 2013-2017.

Atas dasar itu ditetapkan pada  2013 target capaian banjir harus tinggal maksimal 55 titik. Pada 2014 harus tinggal 50 titik. Pada 2015 harus  tinggal 48 titik. Pada 2016 harus tinggal 45  titik. Pada 2017 harus tinggal  42 titik.

Faktanya, tutur  Muchtar,  Ahok tak mampu dan gagal mencapai target yang ditentukan tiap tahun itu.  Hingga Februari 2017  titik lokasi banjir masih melebihi target capaian, yakni 54 titik.Sangat dekat target capaian 2013, yakni 55 titik. Tahun 2017 tetap tak berubah seperti  kondisi  tahun 2013.  Banjir jalan terus dan belum berkurang signifikan. Banjir besar terakhir terjadi pada  20 Februari 2017.

Sebelumnya, di sejumlah kesempatan, Ahok selalu berbangga dan sesumbar dengan hasil kerjanya yang dianggap mampu mengatasi banjir Jakarta. Bahkan Ahok dan pendukungnya sempat mengungkapkan keberhasilan itu dengan nada menantang,”Ke mana banjir meski hujan turun terus.”

“Fakta mematahkan kesombongan Ahok dan pendukungnya ini.  Hujan lebat  turun dua hari lalu dari subuh hingga sekitar pukul 10 pagi, dan membuat sejumlah wilayah Jakarta terendam,” kata Muchtar.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Rabu (1/3) pada pukul 8 pagi terdapat  401 laporan mengenai banjir Jakarta. Total ada 54 titik lokasi banjir.

“Ini berarti kinerja Ahok mengurus masalah banjir ini sangat buruk,” tegas Muchtar.

Daerah terendam banjir umumnya di  daerah pinggir Sungai Ciliwung, seperti Bukit Duri dan Kampung Pulo, Jakarta Timur.  Perumahan elite seperti Cipinang Indah, Jakarta Timur,  turut kebagian banjir. Di Jakarta Utara air merendam dari Ancol sampai Tugu.

Bahkan wilayah elite seperti Kelapa Gading, Jakarta Utara, ikut terendam. Sebanyak 35 pompa pun dikerahkan untuk membuang air ke sungai Sunter. Banjir di Kelapa Gading ini sungguh tak ada kaitan dengan  revitalisasi sungai.

Ketinggian air bervariasi mulai dari setinggi lutut hingga seleher orang dewasa. Di Cipinang Melayu dan Karet misalnya, ketinggian air mencapai 1,5 meter akibat banjir ini, ribuan rumah terendam dan satu orang tewas di Kemang. Di beberapa titik lokasi justru tak pernah banjir sebelumnya.

Pada Maret 2016 Kampung Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan, terendam banjir.  Banjir besar di sekitar 8 Kelurahan di 5 Kecamatan  Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Saat itu Ahok berkilah atau ngeles, bahwa banjir itu akibat luapan Sungai Ciliwung dan  penyempitan sungai.

Ngeles Ahok ini terpatahkan. Normalisasi sungai sudah dilakukan, tapi banjir tetap terjadi Februari 2017, bahkan  titik lokasi banjir semakin banyak.

Ahok ngeles lagi. Katanya banjir tersebut karena  rob atau meningkatnya permukaan air laut. Faktanya,  banjir Februari 2017, kawasan elite Kelapa Gading banjir berat saat  rob tak terjadi. Lalu Ahok  berkilah lagi, hal itu disebabkan  mesin pompa mati. Faktanya,  banjir Februari 2017, semua mesin pompa di DKI berfungsi, tidak mati.

Daerah banjir pada  Maret 2016 terdapat  di wilayah selatan dan timur Jakarta. Di selatan, misalnya, ada Bukit Duri dan Rawajati.Ahok berkilah karena  sungai tak  cukup bawa air. Faktanya Kemang  mengalami  banjir, padahal  sebelumnya tak pernah banjir. Kondisi sungai di sekitar Kemang  tetap. Di Jakarta Timur, ada Kampung Melayu dan Bidaracina, Ahok berkilah karena  proyek sodetan Ciliwung-KBT belum rampung.Tapi, hingga awal 2017 belum juga selesai  proyek, alias mangkrak. Februari 2017 banjir masih berlaku di Kampung Melayu dan Bicaracina. Bahkan Cipinang masih banjir berat.

“Mana sodetan? Ngomong doang, no implementasi.”

“Mana sodetan? Ngomong doang, no implementasi,” tandas Muchtar.

Di bagian keterangan tertulisnya alumnus  Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIP Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1982 ini membeberkan sejumlah proyek untuk mengatasi banjir yang mangkrak di era Ahok. Yakni proyek sodetan kali, Ciliwung-Kanal Banjir Timur (KBT), Waduk Marunda, Waduk Brigif, Waduk  Jagakarsa, Waduk Pondok Ranggon, Waduk di Kampung Rambutan di Jakarta Timur, Waduk Rawa Kendal, Waduk Rorotan, Waduk Cengkareng,  Waduk Giri Kencana Cilangkap, Waduk Cimanggis, revitalisasi Waduk Rawa Lindung, Pintu Air Waduk Rawa Babon, dan pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) di delapan Pulau Pemukiman Kepulauan Seribu.

“Banjir salah satu isu strategis pembangunan. Sudah ditargetkan 2017 Jakarta harus terbebas dari banjir. Tetapi, Ahok tak mampu dan gagal mencapai target bebas banjir. Kondisi banjir tak ada perubahan berarti, bahkan terdapat lokasi-lokasi baru banjir yang sebelumnya tak pernah terjadi banjir,” kata Muchtar.

Ia menegaskan Ahok  tidak bisa membuktikan kerja nyata mengatasi  masalah banjir ini. Bahkan, belasan proyek pembangunan atasi banjir mangkrak, meski sudah direncanakan dan punya dana untuk melaksanakan.

“Dari pengalaman empiris ini adalah tepat pemikiran rakyat Jakarta, yakni untuk mengatasi banjir harus ada gubernur baru. Ahok sudah terbukti tak mampu dan gagal mengatasi banjir,” pungkasnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.